OPINI, JEJAKNARASI.ID – Gemerlap lampu malam, alunan musik, dan kehadiran perempuan-perempuan berpenampilan menarik di setiap sudut ruangan telah menjadi gambaran yang identik dengan dunia hiburan malam: pub, kafe, hingga ruang karaoke (music room).
Di kota-kota besar Indonesia, keberadaan LC nyaris tak terpisahkan dari kehidupan malam. LC umumnya dikenal sebagai perempuan muda, cantik, dan enerjik yang menjadi bagian dari industri hiburan tersebut.
LC merupakan singkatan dari Lady Companion, atau yang kerap disebut Pemandu Lagu (PL). Profesi ini sering dipandang negatif oleh sebagian orang. Namun, di sisi lain, ada pula yang melihat bahwa LC memiliki peran tersendiri dalam dunia hiburan malam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi pemilik kafe atau pub, kehadiran LC menjadi daya tarik tambahan. Karena itu, para LC biasanya berpenampilan menarik agar mudah dilirik oleh para tamu.
Dalam praktiknya, LC bertugas mendampingi tamu, membantu memilih lagu, dan menemani mereka bernyanyi selama berada di tempat hiburan. Dari situlah mereka menjalankan pekerjaannya sebagai bagian dari layanan malam itu.
Lalu, bolehkah seorang tamu jatuh cinta kepada LC? Layakkah seorang LC dicintai sepenuh hati? Pertanyaan semacam ini kerap muncul ketika seseorang terpikat oleh pesona dan kepribadian seorang LC.
Sebagai penulis, saya mencoba melihat persoalan ini dari dua sudut pandang, dengan tetap berpegang pada kaidah jurnalistik: independen dan tidak mencampuradukkan penilaian pribadi secara serampangan.
Pada dasarnya, LC tetaplah manusia yang memiliki kehidupan pribadi sebagaimana orang lain. Ada yang masih lajang, ada pula yang telah berkeluarga, memiliki anak, atau suami.
Karena itu, jika berbicara tentang rasa cinta, maka yang harus dikedepankan adalah etika, kejelasan status, serta penghormatan terhadap kehidupan pribadi mereka.
Dalam bahasa candaan, ada anggapan bahwa sebagian laki-laki datang ke tempat hiburan malam karena tertarik pada penampilan LC. Pandangan ini mungkin dianggap lumrah oleh sebagian orang, meski tetap harus ditempatkan dalam batas kesopanan dan penghargaan terhadap profesi mereka sebagai manusia, bukan sekadar objek pandang.
Pada akhirnya, kita tidak bisa menilai karakter seseorang hanya dari profesinya. Tidak ada profesi yang secara otomatis menentukan baik atau buruknya seseorang. Karena itu, kita perlu lebih bijak dalam memandang pekerjaan orang lain dan tidak mudah memberikan stigma hanya karena profesi tersebut berada di lingkungan hiburan malam.
Judul “LC Bukan untuk Dicintai Tapi Dinikmati” sengaja dipilih sebagai penegasan bahwa LC adalah sebuah profesi. Jika seorang LC telah memiliki keluarga, maka yang patut kita “nikmati” bukan kehidupan pribadinya, melainkan cara ia bekerja: memandu lagu dengan ramah, santun, dan profesional.
Sekali lagi, LC bukan profesi yang patut dihina. Seperti pekerjaan lain, profesi ini tetap memiliki martabat dan nilai di mata orang-orang terdekat serta mereka yang menyayanginya.
Penulis : Iwan Suryana


























