Sosok Inspiratif: Hanya Menemukan Pelukan Nenek, Adelia Bersyukur Ada Sekolah Rakyat

Sosok Inspiratif: Hanya Menemukan Pelukan Nenek, Adelia Bersyukur Ada Sekolah Rakyat

- Author

Minggu, 14 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Adelia siswa sekolah rakyat di bekasi (Foto:Kemensos)

Adelia siswa sekolah rakyat di bekasi (Foto:Kemensos)

JEJAKNARASI.ID, BEKASI – Adelia Eka Tri Septiani (16) tak pernah membayangkan hidupnya bisa berubah sedrastis ini setelah bergabung menjadi siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Kota Bekasi, Jawa Barat.

Ia kini memiliki ranjang sendiri, bahkan sebuah meja tulis kecil. Sesuatu yang dulu terasa mustahil, sebab bertahun-tahun ia terbiasa berdesakan di sepetak kamar sempit bersama nenek dan tiga adiknya. Dia pun bersyukur dan mengucapkan terimakasih kepada Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Sosial Saifullah Yusuf atas hadirnya Sekolah Rakyat.

Di tengah rasa syukur, Adelia terkadang masih diselimuti rasa haru. Ia teringat pada adik-adiknya di rumah, yang setiap hari hanya menyantap telur atau mie instan pendamping nasi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Saya di sini makan enggak perlu mikir lagi, makan tinggal makan. Tapi saya kepikiran adik saya, adik di rumah makan apa,” ujar Adelia beberapa waktu lalu.

Kedekatan Adelia dengan adik-adik dan neneknya terjalin sejak sang ibu menikah kembali, sementara sang ayah terjerat jeruji besi akibat kecanduan narkoba. Adelia hanya menemukan pelukan nenek dan tanggung jawab besar terhadap ketiga adiknya yang masih kecil.

Kehidupan keluarga ini bergantung pada jualan kopi dan teh sang nenek yang tak menentu hasilnya. Dalam sehari keuntungan penjualannya hanya sekitar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per hari. Jumlah itu tentu jauh dari cukup untuk menopang kebutuhan hidup, apalagi membiayai sekolah cucunya.

Meski begitu, kondisi perekonominan yang pas-pasan tak menghalangi nenek dan adik-adiknya untuk sesekali datang menjenguk.

“Kakak di sana semangat ya. Kalau kakak di-bully, tenang, aku selalu doain kakak di rumah,” ucap salah satu adik Adelia ketika berkunjung ke Sekolah Rakyat.

Kesempatan menempuh bangku sekolah bagi Adelia datang secara tak terduga. Awalnya, seorang temannya menolak tawaran masuk Sekolah Rakyat. Tanpa pikir panjang, Adelia segera mengambil peluang yang terbuka di depannya. “Senang banget. Langsung kebayang akhirnya mimpiku bisa terwujud, bisa ngelanjutin sekolah,” ucapnya dengan rasa senang.

Baca Juga :  Fundamental Ekonomi Di Tengah Ketidakpastian Global

Cita-cita Besar Adelia yang Ingin Jadi Hakim Demi Menegakkan Keadilan

Bagi Adelia, Sekolah Rakyat hadir sebagai jembatan menuju cita-cita besar yang selama ini ia genggam erat. “Cita-citaku ingin jadi hakim. Karena ayah sering KDRT akibat narkoba. Aku ingin menegakkan keadilan,” pungkasnya.

Adelia juga memiliki mimpi lain, yakni bisa kembali berkumpul dengan ibu, ayah, nenek, dan adik-adiknya lalu mewujudkannya dalam satu bingkai foto keluarga. Bayangan itu kerap hadir di benaknya, namun ia tidak ingin menjadikannya beban.

Di balik wajah polosnya, Adelia memikul mimpi yang jauh lebih besar dari usianya. Sekolah Rakyat hadir dan memberinya ruang untuk tumbuh, tempat belajar, dan juga sebagai rumah kedua baginya.

Sekolah Rakyat hadir untuk anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrim. Sekolah berkonsep asrama ini gratis dan menghadirkan kurikulum serta fasilitas setara sekolah unggulan.

Tahun ini Kementerian Sosial menargetkan 165 Sekolah Rakyat rintisan sudah beroperasi di berbagai wilayah di Indonesia dengan daya tampung 15 ribu lebih siswa.

Selain memberikan akses pendidikan gratis dan berkualitas, Sekolah Rakyat juga menjadi program pengentasan kemiskinan terpadu. Baik para siswa maupun keluarganya akan mendapat manfaat dari program-program prioritas. Di antaranya,  cek kesehatan gratis, makan bergizi gratis, dan jaminan kesehatan gratis atau PBI JK.

Sementara orangtua siswa akan mendapat bantuan perbaikan rumah, masuk menjadi anggota Kopdes Merah Putih, dan program 3 juta rumah, serta program-program pemberdayaan lainnya.

 

 

Penulis: Adelia Windi P

Sumber: Kemensos

Berita Terkait

Kaya Intelektual, Miskin Moral: Ketika Kecerdasan Tidak Lagi Sejalan dengan Moral
Generasi Muda dan Masa Depan Hukum Ekonomi Syariah: Antara Norma dan Praktik
Perempuan dan Politik: Dari Pinggiran Menuju Pusat Kekuasaan
Utang Piutang di Masyarakat: Ketika Kebutuhan Berubah Jadi Alat Penindasan
Teologi Politik Islam Iran Dalam Pemikiran Bung Karno
Kesetiaan Aloka dan Anjing Yudhistira
Perlindungan Konsumen Digital, Saatnya Masyarakat Melek Hak Online
Mengkaji Aturan Pajak e-Commerce: Tantangan dan Strategi Penerapannya
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari JEJAKNARASI.ID di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan click tanda bintang.

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 17:35 WIB

Kaya Intelektual, Miskin Moral: Ketika Kecerdasan Tidak Lagi Sejalan dengan Moral

Selasa, 28 April 2026 - 09:42 WIB

Generasi Muda dan Masa Depan Hukum Ekonomi Syariah: Antara Norma dan Praktik

Jumat, 24 April 2026 - 19:54 WIB

Perempuan dan Politik: Dari Pinggiran Menuju Pusat Kekuasaan

Jumat, 24 April 2026 - 10:46 WIB

Utang Piutang di Masyarakat: Ketika Kebutuhan Berubah Jadi Alat Penindasan

Selasa, 14 April 2026 - 13:30 WIB

Teologi Politik Islam Iran Dalam Pemikiran Bung Karno

Berita Terbaru