Perempuan dan Politik: Dari Pinggiran Menuju Pusat Kekuasaan

Perempuan dan Politik: Dari Pinggiran Menuju Pusat Kekuasaan

- Author

Jumat, 24 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gitalis Dwi Natarina (Gita KDI). (Foto: Istimewa)

Gitalis Dwi Natarina (Gita KDI). (Foto: Istimewa)

JEJAKNARASI.ID – Di banyak ruang kehidupan, perempuan sering kali dihadapkan pada batas-batas yang tak kasat mata. Batas itu tidak tertulis dalam hukum, tetapi hidup dalam budaya, tradisi, bahkan cara pandang masyarakat.

Politik menjadi salah satu arena yang paling lama dijaga oleh batas tersebut. Ia seakan menjadi wilayah maskulin keras, kompetitif, dan penuh strategi yang dianggap tidak selaras dengan citra perempuan yang dilekatkan dengan kelembutan dan peran domestik.

Namun sejarah menunjukkan sesuatu yang berbeda. Perempuan tidak pernah benar-benar absen dari politik. Mereka hanya sering tidak terlihat, atau perannya dipinggirkan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari ruang keluarga, perempuan telah lama memainkan peran politik yang subtil: mengambil keputusan, memengaruhi arah hidup, hingga membentuk nilai generasi. Politik, dalam arti luas, sebenarnya telah lama menjadi bagian dari kehidupan perempuan.

Perjalanan perempuan masuk ke dalam politik formal bukanlah cerita yang sederhana. Ia adalah kisah panjang tentang perjuangan melawan struktur yang tidak setara.

Di banyak negara, perempuan harus terlebih dahulu memperjuangkan hak pilihnya. Mereka turun ke jalan, menulis, berbicara, bahkan menghadapi tekanan sosial demi satu hal: diakui sebagai warga negara yang setara.

Di Indonesia, jejak perjuangan itu dapat dilihat sejak masa pergerakan nasional. Sosok-sosok perempuan tampil bukan hanya sebagai pendukung, tetapi sebagai penggerak. Mereka terlibat dalam organisasi, pendidikan, hingga diplomasi. Perempuan Indonesia tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi ikut menulis sejarah itu sendiri.

Meski demikian, hingga hari ini, keterwakilan perempuan dalam politik masih menjadi tantangan. Angka kehadiran perempuan di parlemen memang meningkat, tetapi belum sepenuhnya mencerminkan keseimbangan.

Banyak perempuan yang masuk ke politik masih harus menghadapi stereotip: dianggap kurang tegas, terlalu emosional, atau hanya “pelengkap” dalam sistem yang ada.

Padahal, kehadiran perempuan dalam politik bukan sekadar soal jumlah. Ia adalah soal perspektif. Perempuan membawa pengalaman hidup yang berbeda, yang sangat penting dalam proses pengambilan kebijakan. Isu-isu seperti pendidikan anak, kesehatan ibu, perlindungan keluarga, hingga keadilan sosial sering kali mendapatkan perhatian lebih ketika perempuan terlibat secara aktif.

Lebih dari itu, politik perempuan bukan hanya tentang perempuan. Ia adalah tentang keadilan bagi semua. Ketika ruang politik lebih inklusif, keputusan yang dihasilkan cenderung lebih mencerminkan kebutuhan masyarakat secara luas. Dengan kata lain, memperkuat peran perempuan dalam politik berarti memperkuat kualitas demokrasi itu sendiri.

Namun tantangan tidak hanya datang dari luar. Terkadang, perempuan juga harus berhadapan dengan keraguan dalam dirinya sendiri. Rasa tidak percaya diri, takut gagal, atau merasa tidak cukup “laik” sering menjadi penghalang yang tidak kalah besar. Di sinilah pentingnya dukungan baik dari keluarga, lingkungan, maupun sistem yang lebih luas.

Pendidikan politik bagi perempuan menjadi kunci penting. Bukan hanya untuk memahami sistem, tetapi juga untuk membangun keberanian dan kesadaran bahwa mereka memiliki hak yang sama untuk terlibat. Politik bukan milik kelompok tertentu. Ia adalah ruang bersama yang seharusnya terbuka bagi siapa pun yang ingin berkontribusi.

Baca Juga :  Perlindungan Konsumen Digital, Saatnya Masyarakat Melek Hak Online

Di era modern, wajah politik mulai berubah. Perempuan semakin banyak mengambil peran, tidak hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai pemimpin. Mereka hadir sebagai legislator, kepala daerah, aktivis, hingga penggerak komunitas. Kehadiran ini bukan hanya simbol, tetapi bukti bahwa perempuan mampu membawa perubahan nyata.

Perempuan dan politik, pada akhirnya, adalah cerita tentang keberanian untuk melampaui batas. Bukan untuk menggantikan laki-laki, tetapi untuk berdiri sejajar. Bukan untuk mendominasi, tetapi untuk berkontribusi.

Ketika perempuan hadir dalam politik, yang lahir bukan hanya kebijakan, tetapi juga harapan bahwa masa depan bisa dibangun dengan lebih adil, lebih inklusif, dan lebih manusiawi.

Sejujurnya, kondisi politik di Indonesia saat ini masih menghadapi berbagai persoalan. Sebagian pemimpin belum sepenuhnya menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Seorang pemimpin sejatinya harus memiliki kepedulian yang nyata terhadap masyarakat, namun kepedulian itu tidak boleh bersifat musiman atau sekadar muncul menjelang momentum politik seperti pemilu lima tahunan.

Kepedulian yang hanya hadir saat masa kampanye sering kali berubah menjadi alat untuk menarik simpati, bukan sebagai bentuk tanggung jawab moral yang berkelanjutan. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat kerap diposisikan sebagai objek yang dimanfaatkan didekati, diberi janji, bahkan bantuan sesaat lalu ditinggalkan ketika tujuan politik telah tercapai. Hal demikian ini hanya akan menciptakan kebodohan dan kemiskinan massal.

Oleh karena itu, kepedulian seorang pemimpin harus memiliki konsep yang jelas, terstruktur, dan berorientasi jangka panjang. Kepedulian bukan sekadar tindakan spontan atau simbolis, melainkan harus diwujudkan dalam kebijakan yang menyentuh akar persoalan masyarakat.

Misalnya, alih-alih memberikan bantuan sesaat saat menjelang pemilu, pemimpin yang berkonsep akan merancang program pemberdayaan ekonomi, peningkatan kualitas pendidikan, serta akses kesehatan yang berkelanjutan. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya “dibantu” sesaat, tetapi benar-benar diperkuat kapasitasnya untuk mandiri.

Dengan demikian, kepedulian seorang pemimpin bukanlah alat untuk meraih suara dalam pemilu lima tahunan, melainkan komitmen yang berkesinambungan untuk melayani dan memajukan masyarakat.

Kepedulian yang memiliki konsep akan melahirkan kepercayaan, sementara kepedulian yang dimanfaatkan untuk kepentingan politik justru akan merusak legitimasi dan masa depan demokrasi itu sendiri.

Kembali lagi terkait perempuan dan politik. Kehadiran perempuan dalam dunia politik bukan hanya soal keterwakilan simbolik, melainkan kebutuhan substantif untuk menghadirkan sudut pandang yang lebih inklusif, adil, dan responsif.

Perempuan membawa pengalaman hidup yang berbeda terkait isu pendidikan, kesehatan, perlindungan anak, hingga kekerasan berbasis gender yang sering kali luput dari perhatian jika ruang politik hanya diisi oleh laki-laki. Lebih dari itu, keterlibatan perempuan adalah bentuk pemenuhan hak konstitusional sekaligus strategi untuk memperkuat kualitas kebijakan publik.

Tanpa partisipasi aktif perempuan, politik akan terus bias, kehilangan empati, dan berpotensi melanggengkan ketidakadilan struktural. Karena itu, perempuan bukan sekadar pelengkap dalam politik, melainkan aktor kunci yang menentukan arah dan wajah keadilan sosial.

Penulis : Gitalis Dwi Natarina (Gita KDI)

Berita Terkait

Utang Piutang di Masyarakat: Ketika Kebutuhan Berubah Jadi Alat Penindasan
Teologi Politik Islam Iran Dalam Pemikiran Bung Karno
Kesetiaan Aloka dan Anjing Yudhistira
Perlindungan Konsumen Digital, Saatnya Masyarakat Melek Hak Online
Mengkaji Aturan Pajak e-Commerce: Tantangan dan Strategi Penerapannya
Sosok Inspiratif: Hanya Menemukan Pelukan Nenek, Adelia Bersyukur Ada Sekolah Rakyat
Arti di Balik Jolly Roger, Gambar Tengkorak Bertopi Jerami yang Ramai diminati Jelang HUT RI Ke 80 
5 Contoh Cerpen Terbaik Karya Siswa/Siswi MTsN 5 Tangerang 
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari JEJAKNARASI.ID di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan click tanda bintang.

Berita Terkait

Jumat, 24 April 2026 - 19:54 WIB

Perempuan dan Politik: Dari Pinggiran Menuju Pusat Kekuasaan

Jumat, 24 April 2026 - 10:46 WIB

Utang Piutang di Masyarakat: Ketika Kebutuhan Berubah Jadi Alat Penindasan

Selasa, 14 April 2026 - 13:30 WIB

Teologi Politik Islam Iran Dalam Pemikiran Bung Karno

Jumat, 9 Januari 2026 - 15:35 WIB

Kesetiaan Aloka dan Anjing Yudhistira

Jumat, 7 November 2025 - 22:38 WIB

Perlindungan Konsumen Digital, Saatnya Masyarakat Melek Hak Online

Berita Terbaru