Teologi Politik Islam Iran Dalam Pemikiran Bung Karno

Teologi Politik Islam Iran Dalam Pemikiran Bung Karno

- Author

Selasa, 14 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JEJAKNARASI.ID – Selasa, 14 April tepat pukul 01:00 dini hari, Aku baru saja sampai rumah, Merebahkan diri walau tubuh terasa berat, Mencoba berdamai dengan lelah namun fikiran enggan diam, ia gaduh dan terus berputar dalam ruang dialektika hasil diskusiku dengan para politisi dan ekonom hari ini.

Di sampingku tergeletak sebuah buku hasil karya bung karno, Tokoh yang tak pernah benar – benar bisa ku fahami, Aku membukanya kembali bukan untuk pertama kali, Setiap halaman yang ku buka seakan memberi makna percakapan lama antara diriku dengan bung karno, Ah kami nampak seperti seorang sahabat walau sering tidak sepakat.

Dalam keheningan ketika bait demi bait, halaman demi halaman ku baca. Muncul imajinasi tentang negara yang sedang berkonflik : Iran.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebuah negeri yang menjadikan agama bukan hanya sekedar keyakinan, lebih jauh daripada itu iran menjadikan dogma keyakinan sebagai jalan menuju kekuasaan.

Aku mulai bertanya, Bagaimana jika realitas teologi politik di iran dibaca melalui pemikiran soekarno ? Apakah ia melihatnya sebagai kekuatan seperti zaman keemasan islam pada dinasti umayyah dan abasiyah, atau ia akan melihatnya sebagai potensi kemunduran seperti negara fanatik agama seperti di timur tengah, Tentu terkecuali negara arab ya.

Namun jika aku mencoba menengok lebih dalam melalui mata bung karno, barangkali ia tak akan buru-buru menghakimi Iran hanya sebagai negara agama, sebab baginya agama selalu memiliki dua wajah : wajah pembebasan dan wajah penindasan.

Agama bisa menjadi api yang membakar semangat rakyat tertindas untuk bangkit melawan imperialisme, namun di tangan penguasa ia juga dapat berubah menjadi rantai yang mengikat kebebasan berpikir manusia.

Di situlah mungkin bung karno akan berdiri, memuji keberanian sebuah bangsa yang berani melawan dominasi barat, tetapi sekaligus mengkritik ketika kekuasaan dibangun di atas tafsir tunggal yang mematikan perbedaan.

Aku kembali membuka lembar demi lembar tulisan bung karno. Ia sering berbicara tentang marhaen, tentang rakyat kecil yang diperas oleh sistem.

Maka aku pun bertanya dalam diam, apakah rakyat kecil Iran hari ini benar-benar merasakan kemerdekaan dari revolusi yang dulu diagungkan ? Ataukah mereka hanya berpindah dari satu bentuk penindasan menuju bentuk penindasan lain yang dibungkus jubah kesucian ? Sebab sejarah selalu pandai menyamar.

Baca Juga :  Berbekal Jaringan yang Kuat, Tokoh Muda Banten Ini Siap All Out Menangkan Andra Soni - Dimyati Di Pilkada Banten

Kadang tirani datang bukan membawa senjata, melainkan membawa doa-doa dan slogan keselamatan.

Bung karno adalah manusia yang percaya pada persatuan, tetapi persatuan baginya bukan berarti keseragaman.

Ia merangkul nasionalis, islamis, dan sosialis dalam satu meja bernama bangsa. Maka mungkin ia akan heran melihat negara yang begitu besar justru gelisah terhadap perbedaan suara dari anak mudanya sendiri, terhadap perempuan yang menuntut haknya, terhadap kaum intelektual yang memilih bertanya ketimbang tunduk.

Karena bangsa yang takut pada pertanyaan biasanya sedang rapuh di dalam dirinya sendiri.

Iran dalam pandanganku adalah cermin paradoks zaman modern. Ia maju dalam sains, kuat dalam strategi, tegas dalam geopolitik, tetapi masih berperang dengan kebebasan sipil di rumahnya sendiri. Sebuah negeri yang mampu membuat dunia segan, namun belum tentu mampu membuat rakyatnya tenang. Dan bukankah ukuran kejayaan negara bukan hanya ketika musuh takut, melainkan ketika warga merasa dihormati ?

Malam semakin larut, dan sunyi turun perlahan menyelimuti ruang.

الليل يزداد عمقاً، والصمت يهبط رويداً رويداً ليغطي المكان

Aku menutup buku bung karno perlahan. Dalam kepalaku hanya tersisa satu kesimpulan : agama dan politik adalah dua kekuatan besar yang bila disatukan dapat melahirkan peradaban, tetapi bila disalahgunakan akan melahirkan penjara yang tak kasat mata. Bung karno mungkin akan berkata, jangan jadikan agama sebagai alat kekuasaan, jadikan ia cahaya moral untuk membela manusia. Sebab ketika agama turun derajat menjadi sekadar alat negara, yang suci akan kehilangan makna, dan yang berkuasa akan kehilangan batas.

Sebagaimana dawuh KH Hasyim Asy’ari, agama dan nasionalisme bukanlah dua jalan yang saling meniadakan, melainkan dua tiang yang saling menegakkan. حب الوطن منال الإيمان sering dijadikan semangat bahwa cinta tanah air berjalan seiring dengan keimanan. Maka negeri yang kuat bukan negeri yang memisahkan keduanya, tetapi negeri yang menempatkan agama sebagai ruh moral, dan nasionalisme sebagai rumah bersama.

Aku tersenyum kecil di tengah sunyi. Diskusi malam ini rupanya belum selesai. Ia hanya berpindah tempat, dari meja para politisi menuju ruang batinku sendiri.

Penulis: Gus Fakhir

Berita Terkait

Kesetiaan Aloka dan Anjing Yudhistira
Perlindungan Konsumen Digital, Saatnya Masyarakat Melek Hak Online
Mengkaji Aturan Pajak e-Commerce: Tantangan dan Strategi Penerapannya
Sosok Inspiratif: Hanya Menemukan Pelukan Nenek, Adelia Bersyukur Ada Sekolah Rakyat
Arti di Balik Jolly Roger, Gambar Tengkorak Bertopi Jerami yang Ramai diminati Jelang HUT RI Ke 80 
5 Contoh Cerpen Terbaik Karya Siswa/Siswi MTsN 5 Tangerang 
Rakyat Aceh Tak Akan Menangis Bila Lepas dari NKRI: Justru Kita Semua yang Akan Kehilangan
Fundamental Ekonomi Di Tengah Ketidakpastian Global
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari JEJAKNARASI.ID di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan click tanda bintang.

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 13:30 WIB

Teologi Politik Islam Iran Dalam Pemikiran Bung Karno

Jumat, 9 Januari 2026 - 15:35 WIB

Kesetiaan Aloka dan Anjing Yudhistira

Jumat, 7 November 2025 - 22:38 WIB

Perlindungan Konsumen Digital, Saatnya Masyarakat Melek Hak Online

Senin, 27 Oktober 2025 - 09:14 WIB

Mengkaji Aturan Pajak e-Commerce: Tantangan dan Strategi Penerapannya

Minggu, 14 September 2025 - 13:22 WIB

Sosok Inspiratif: Hanya Menemukan Pelukan Nenek, Adelia Bersyukur Ada Sekolah Rakyat

Berita Terbaru

Opini

Teologi Politik Islam Iran Dalam Pemikiran Bung Karno

Selasa, 14 Apr 2026 - 13:30 WIB