Mengawasi atau Mempercayai? Dilema Keluarga di Era Digital

Mengawasi atau Mempercayai? Dilema Keluarga di Era Digital

- Author

Rabu, 3 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fajariah, Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Darussalam Martapura Kalsel. (Foto: Istimewa)

Fajariah, Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Darussalam Martapura Kalsel. (Foto: Istimewa)

JEJAKNARASI.ID – Sekarang ini kemajuan teknologi telah mengubah cara keluarga membangun rasa aman. Jika dahulu perhatian diwujudkan melalui komunikasi dan kebersamaan, kini perhatian sering hadir dalam bentuk pengawasan digital: berbagi lokasi, memeriksa aktivitas media sosial, hingga meminta akses terhadap perangkat pribadi.

Semua dilakukan atas nama perlindungan. Namun pertanyaannya, apakah keluarga yang sehat dibangun melalui pengawasan atau melalui kepercayaan?

Dalam keluarga, pengawasan memang tidak selalu keliru. Orang tua memiliki tanggung jawab melindungi anak dari berbagai risiko di ruang digital.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun persoalan muncul ketika pengawasan tidak lagi bertujuan mendampingi, melainkan mengendalikan. Ketika setiap aktivitas harus diketahui dan setiap ruang pribadi dianggap mencurigakan, relasi keluarga dapat berubah dari ruang kepercayaan menjadi ruang kontrol.

Namun demikian, teknologi membuat pengawasan semakin mudah tetapi belum tentu membuat hubungan semakin dekat. Kemampuan mengetahui lokasi, membaca aktivitas, atau mengakses perangkat tidak otomatis menghadirkan rasa aman.

Baca Juga :  Transformasi Polri di Era 4.0: Responsivitas, Inovasi, dan Kepercayaan Publik

Sebaliknya, pengawasan tanpa batas dapat melahirkan kecemasan, ketidaknyamanan, bahkan mengikis rasa saling percaya.

Dari perspektif hukum, hak atas privasi tetap relevan di dalam keluarga. Privasi bukan berarti menyembunyikan sesuatu, tetapi pengakuan bahwa setiap individu tetap memiliki ruang personal yang perlu dihormati.

Dalam perspektif Islam pun, menjaga keluarga tidak identik dengan mencari tahu seluruh hal tentang anggota keluarga. Prinsip tabayyun mengajarkan kehati-hatian, sementara larangan tajassus mengingatkan bahwa hubungan tidak dibangun melalui kecurigaan yang terus-menerus.

Pada dasarnya, tantangan keluarga di era digital bukan lagi bagaimana mengetahui semua hal tentang anggota keluarga, tetapi bagaimana tetap menjaga rasa aman tanpa menghilangkan kepercayaan. Sebab keluarga yang kuat tidak lahir dari pengawasan tanpa batas, melainkan dari kemampuan untuk saling menjaga sekaligus saling percaya.

Penulis : Fajariah, Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Darussalam Martapura Kalsel

Berita Terkait

Mengawal Semangat Kemerdekaan: Kiprah Polri dalam HUT ke-81 Republik Indonesia
Rumah Tangga Harmonis Bukan Hanya Soal Cinta
Keadilan Tidak Boleh Menjadi Barang Mewah
Spanyol : Sejarah, Kultur, Tata Kota, dan Sepak Bola sebagai Identitas Bangsa
Kepercayaan adalah Mata Uang Termahal dalam Bisnis
Hukum Tidak Dapat Menggantikan Akhlak
Ketika Warisan Menguji Persaudaraan
TPA Jatiwaringin Terbakar: Alarm Keras atas Gagalnya Tata Kelola Sampah
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari JEJAKNARASI.ID di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan click tanda bintang.

Berita Terkait

Jumat, 7 Agustus 2026 - 09:56 WIB

Mengawal Semangat Kemerdekaan: Kiprah Polri dalam HUT ke-81 Republik Indonesia

Jumat, 31 Juli 2026 - 13:41 WIB

Rumah Tangga Harmonis Bukan Hanya Soal Cinta

Jumat, 24 Juli 2026 - 12:23 WIB

Keadilan Tidak Boleh Menjadi Barang Mewah

Senin, 20 Juli 2026 - 13:49 WIB

Spanyol : Sejarah, Kultur, Tata Kota, dan Sepak Bola sebagai Identitas Bangsa

Minggu, 19 Juli 2026 - 17:34 WIB

Kepercayaan adalah Mata Uang Termahal dalam Bisnis

Berita Terbaru