OPINI, JEJAKNARASI.ID – Kita sering menyebut UMKM sebagai tulang punggung ekonomi. Tetapi ketika harga naik, pembeli berkurang, dan persaingan semakin ketat, siapa yang benar-benar menopang mereka? Pertanyaan ini layak direnungkan.
Setiap hari, ada orang yang membuka warung sejak pagi, menggoreng makanan sebelum matahari tinggi, menata dagangan di pasar, menerima pesanan dari rumah, atau menawarkan produk melalui media sosial. Mereka tidak selalu bermimpi menjadi pengusaha besar. Bagi sebagian dari mereka, usaha sederhana itu adalah cara untuk membayar kebutuhan rumah tangga dan memastikan dapur tetap mengepul.
Kita menyebutnya UMKM. Sayangnya, kita sering melihat UMKM hanya dari sisi jualannya. Laku atau tidak laku. Murah atau mahal. Enak atau tidak enak. Padahal, di balik satu transaksi kecil, ada perjuangan yang tidak selalu terlihat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketika harga bahan baku naik, pelaku usaha kecil menghadapi pilihan yang sama-sama sulit. Harga jual dinaikkan, pelanggan mungkin berkurang. Harga dipertahankan, keuntungan semakin tipis. Sementara kebutuhan hidup terus berjalan.
Belum lagi persaingan. Pedagang kecil sekarang bukan hanya bersaing dengan pedagang di sebelahnya. Mereka berhadapan dengan toko besar, produk pabrikan, penjual dari berbagai daerah, dan pasar digital yang membuat konsumen dapat membandingkan harga dalam hitungan detik.
Konsumen tentu berhak memilih. Tidak ada yang salah dengan mencari harga terbaik. Namun, ada satu hal yang sering kita lupakan: usaha kecil tidak selalu bisa bermain dengan aturan yang sama seperti perusahaan besar.
Sebuah toko besar mungkin bisa memberikan diskon besar karena membeli barang dalam jumlah banyak. Pedagang kecil belum tentu mampu. Sebuah perusahaan bisa memiliki tim pemasaran. Pedagang rumahan mungkin hanya mengandalkan dirinya sendiri untuk memproduksi, mengemas, memasarkan, sekaligus mengantar barang.
Karena itu, ketika kita berkata, “Dukung UMKM,” dukungan tersebut seharusnya tidak berhenti pada membeli satu produk ketika ada kampanye atau mengunggah foto di media sosial.
Dukungan harus lebih nyata. Pemerintah misalnya, tidak cukup hanya mengadakan pelatihan yang berakhir dengan sertifikat. Pelaku UMKM membutuhkan pendampingan yang benar-benar membantu mereka memahami pemasaran, pengelolaan keuangan, legalitas, kemasan, hingga pemanfaatan teknologi.
Begitu pula dengan bantuan modal. Yang dibutuhkan bukan sekadar program yang terlihat bagus di atas kertas, tetapi akses yang benar-benar mudah dijangkau oleh pelaku usaha kecil.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu bercermin. Kita sering ingin produk berkualitas dengan harga semurah mungkin. Kita menawar sampai keuntungan penjual hampir tidak tersisa, tetapi pada saat yang sama rela membayar lebih mahal untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.
Kita juga sering mengatakan ingin mendukung usaha tetangga, tetapi ketika membutuhkan sesuatu justru mencarinya di tempat lain hanya karena selisih harga beberapa ribu rupiah. Tentu konsumen tidak harus selalu membeli produk UMKM. Tetapi setidaknya kita bisa menghargai kerja keras orang yang sedang mencari penghidupan melalui usahanya. Sebab, bagi kita, membeli satu bungkus makanan mungkin hanya transaksi biasa.
Bagi penjualnya, uang itu bisa menjadi tambahan untuk membeli bahan baku besok. Bisa menjadi uang belanja. Bisa membantu membayar listrik. Bisa pula menjadi bagian dari biaya sekolah anak.
Itulah sebabnya UMKM tidak seharusnya dipandang hanya sebagai angka dalam laporan ekonomi.
Di balik usaha kecil ada manusia. Ada ibu yang bangun sebelum subuh untuk membuat kue. Ada bapak yang tetap berjualan meskipun hujan. Ada anak muda yang berani menggunakan tabungannya untuk memulai usaha. Ada keluarga yang memilih bertahan dengan usaha kecil ketika lapangan pekerjaan semakin sulit.
Mereka tidak selalu membutuhkan belas kasihan. Yang mereka butuhkan adalah kesempatan untuk tumbuh dan ruang untuk bertahan.
Maka, jika UMKM benar-benar disebut sebagai tulang punggung ekonomi, jangan biarkan mereka hanya menjadi slogan.
Jangan hanya datang ketika membutuhkan produk mereka. Jangan hanya mengingat mereka ketika ada peringatan tertentu. Dan jangan hanya meminta mereka naik kelas tanpa memastikan tangga untuk naik itu tersedia.
UMKM tidak meminta dunia berhenti bersaing. Mereka hanya membutuhkan kesempatan untuk bersaing secara lebih adil.
Karena pada akhirnya, membeli dari UMKM bukan semata-mata soal membantu penjual mendapatkan keuntungan. Kita sedang ikut menjaga sebuah usaha agar tetap hidup, sebuah keluarga agar tetap bertahan, dan sebuah harapan agar tidak berhenti di tengah jalan.
Sebab bagi banyak pelaku UMKM, berjualan bukan sekadar mencari untung. Berjualan adalah cara untuk bertahan hidup.
Penulis : Fajariah, Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Darussalam Martapura Kalsel




























