OPINI, JEJAKNARASI.ID – Di era ketika setiap orang dapat menyampaikan pendapat hanya melalui sentuhan jari, ironi justru muncul pada kemampuan kita menerima perbedaan pandangan. Kritik yang semestinya menjadi ruang untuk saling memperbaiki sering berubah menjadi pemicu pertengkaran.
Masukan dianggap penghinaan, koreksi dipersepsikan sebagai kebencian, sementara perbedaan pendapat diperlakukan layaknya permusuhan. Akibatnya, ruang dialog semakin sempit dan ego semakin mendominasi.
Fenomena ini terjadi di berbagai lingkungan, mulai dari keluarga, organisasi, lembaga pendidikan, hingga media sosial. Kritik terhadap suatu kebijakan atau tindakan sering kali tidak ditanggapi dengan membahas substansinya, melainkan dengan mempertanyakan motif atau pribadi pengkritiknya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di lingkungan kerja, tidak semua kritik dari bawahan diterima sebagai masukan yang membangun, di media sosial kritik sering dibalas dengan serangan pribadi. Akibatnya, perhatian bergeser dari penyelesaian masalah menjadi perdebatan tentang siapa yang menyampaikan kritik.
Padahal, kritik merupakan salah satu mekanisme penting dalam kehidupan yang demokratis dan sehat. Kritik bukanlah simbol kebencian, melainkan sarana evaluasi agar kesalahan tidak terus berulang.
Tanpa kritik, individu maupun lembaga akan sulit mengetahui kelemahan yang perlu diperbaiki. Budaya yang hanya dipenuhi pujian justru berisiko melahirkan sikap merasa selalu benar dan menutup ruang pembelajaran.
Mengapa kritik begitu sulit diterima? Salah satu penyebabnya adalah ego. Kritik sering dipandang sebagai ancaman terhadap harga diri atau citra yang telah dibangun.
Ketika dikritik, seseorang lebih terdorong membela diri daripada mengevaluasi apakah kritik tersebut mengandung kebenaran. Semakin besar kekuasaan, jabatan, atau pengaruh yang dimiliki, semakin besar pula godaan untuk menganggap kritik sebagai serangan terhadap kewibawaannya.
Media sosial memperkuat kecenderungan tersebut. Kemudahan menyampaikan pendapat tidak selalu diimbangi dengan kedewasaan berdialog. Perbedaan pandangan mudah berubah menjadi polarisasi, sementara algoritma media sosial sering kali lebih mengangkat konten yang memancing emosi daripada yang mendorong refleksi.
Akibatnya, kritik yang sebenarnya disampaikan secara konstruktif sering tenggelam di tengah budaya saling menyerang dan saling membenarkan diri.
Padahal, hampir semua kemajuan lahir dari keberanian menerima kritik. Dalam dunia pendidikan, kritik meningkatkan kualitas pembelajaran.
Dalam organisasi, kritik membantu memperbaiki sistem kerja. Dalam pemerintahan, kritik merupakan bentuk partisipasi masyarakat untuk memastikan kekuasaan berjalan sesuai prinsip akuntabilitas. Tidak ada lembaga yang berkembang tanpa evaluasi, dan tidak ada evaluasi yang bermakna tanpa kesediaan mendengar kritik.
Dalam perspektif Islam, budaya saling mengingatkan merupakan bagian dari ajaran agama. Rasulullah SAW bersabda, “Agama adalah nasihat” (ad-dīn an-naṣīḥah). Al-Qur’an juga mengingatkan pentingnya saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-‘Ashr.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa kritik yang disampaikan dengan niat baik bukanlah bentuk permusuhan, melainkan wujud kepedulian agar seseorang tidak terus berada dalam kekeliruan.
Tentu saja, kritik juga memiliki etika. Kritik yang disampaikan dengan hinaan, cemoohan, atau serangan personal tidak mencerminkan tujuan untuk memperbaiki. Namun, keberadaan kritik yang destruktif tidak boleh dijadikan alasan untuk menolak semua kritik.
Kedewasaan justru terlihat dari kemampuan membedakan kritik yang membangun dengan kritik yang sekadar melampiaskan kebencian.
Dalam tradisi intelektual, kritik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pencarian kebenaran. Ilmu pengetahuan berkembang karena adanya keberanian menguji gagasan, mempertanyakan pendapat, dan memperbaiki kesalahan.
Tidak ada pemikiran yang menjadi lebih baik hanya karena terus dipuji. Sebaliknya, kemajuan lahir dari kerendahan hati untuk menerima koreksi dan keberanian memperbaiki diri.
Kritik bukanlah ancaman, melainkan cermin yang membantu seseorang melihat kekurangan yang sering luput dari dirinya sendiri. Masyarakat yang dewasa bukanlah masyarakat yang bebas dari kritik, tetapi masyarakat yang mampu menyampaikan kritik secara santun dan menerimanya dengan lapang dada. Sebab, kemajuan hanya lahir ketika keberanian mengoreksi bertemu dengan kerendahan hati untuk menerima koreksi.
Penulis : Fajariah, Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Darussalam Martapura Kalsel
































