Kritik Dianggap Serangan Pribadi

Kritik Dianggap Serangan Pribadi

- Author

Kamis, 20 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

OPINI, JEJAKNARASI.ID – Di era ketika setiap orang dapat menyampaikan pendapat hanya melalui sentuhan jari, ironi justru muncul pada kemampuan kita menerima perbedaan pandangan. Kritik yang semestinya menjadi ruang untuk saling memperbaiki sering berubah menjadi pemicu pertengkaran.

Masukan dianggap penghinaan, koreksi dipersepsikan sebagai kebencian, sementara perbedaan pendapat diperlakukan layaknya permusuhan. Akibatnya, ruang dialog semakin sempit dan ego semakin mendominasi.

Fenomena ini terjadi di berbagai lingkungan, mulai dari keluarga, organisasi, lembaga pendidikan, hingga media sosial. Kritik terhadap suatu kebijakan atau tindakan sering kali tidak ditanggapi dengan membahas substansinya, melainkan dengan mempertanyakan motif atau pribadi pengkritiknya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di lingkungan kerja, tidak semua kritik dari bawahan diterima sebagai masukan yang membangun, di media sosial kritik sering dibalas dengan serangan pribadi. Akibatnya, perhatian bergeser dari penyelesaian masalah menjadi perdebatan tentang siapa yang menyampaikan kritik.

Padahal, kritik merupakan salah satu mekanisme penting dalam kehidupan yang demokratis dan sehat. Kritik bukanlah simbol kebencian, melainkan sarana evaluasi agar kesalahan tidak terus berulang.

Tanpa kritik, individu maupun lembaga akan sulit mengetahui kelemahan yang perlu diperbaiki. Budaya yang hanya dipenuhi pujian justru berisiko melahirkan sikap merasa selalu benar dan menutup ruang pembelajaran.

Mengapa kritik begitu sulit diterima? Salah satu penyebabnya adalah ego. Kritik sering dipandang sebagai ancaman terhadap harga diri atau citra yang telah dibangun.

Ketika dikritik, seseorang lebih terdorong membela diri daripada mengevaluasi apakah kritik tersebut mengandung kebenaran. Semakin besar kekuasaan, jabatan, atau pengaruh yang dimiliki, semakin besar pula godaan untuk menganggap kritik sebagai serangan terhadap kewibawaannya.

Media sosial memperkuat kecenderungan tersebut. Kemudahan menyampaikan pendapat tidak selalu diimbangi dengan kedewasaan berdialog. Perbedaan pandangan mudah berubah menjadi polarisasi, sementara algoritma media sosial sering kali lebih mengangkat konten yang memancing emosi daripada yang mendorong refleksi.

Akibatnya, kritik yang sebenarnya disampaikan secara konstruktif sering tenggelam di tengah budaya saling menyerang dan saling membenarkan diri.

Baca Juga :  Fenomena Flexing: Harga Diri Diukur dari Barang Mewah

Padahal, hampir semua kemajuan lahir dari keberanian menerima kritik. Dalam dunia pendidikan, kritik meningkatkan kualitas pembelajaran.

Dalam organisasi, kritik membantu memperbaiki sistem kerja. Dalam pemerintahan, kritik merupakan bentuk partisipasi masyarakat untuk memastikan kekuasaan berjalan sesuai prinsip akuntabilitas. Tidak ada lembaga yang berkembang tanpa evaluasi, dan tidak ada evaluasi yang bermakna tanpa kesediaan mendengar kritik.

Dalam perspektif Islam, budaya saling mengingatkan merupakan bagian dari ajaran agama. Rasulullah SAW bersabda, “Agama adalah nasihat” (ad-dīn an-naṣīḥah). Al-Qur’an juga mengingatkan pentingnya saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-‘Ashr.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa kritik yang disampaikan dengan niat baik bukanlah bentuk permusuhan, melainkan wujud kepedulian agar seseorang tidak terus berada dalam kekeliruan.

Tentu saja, kritik juga memiliki etika. Kritik yang disampaikan dengan hinaan, cemoohan, atau serangan personal tidak mencerminkan tujuan untuk memperbaiki. Namun, keberadaan kritik yang destruktif tidak boleh dijadikan alasan untuk menolak semua kritik.

Kedewasaan justru terlihat dari kemampuan membedakan kritik yang membangun dengan kritik yang sekadar melampiaskan kebencian.

Dalam tradisi intelektual, kritik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pencarian kebenaran. Ilmu pengetahuan berkembang karena adanya keberanian menguji gagasan, mempertanyakan pendapat, dan memperbaiki kesalahan.

Tidak ada pemikiran yang menjadi lebih baik hanya karena terus dipuji. Sebaliknya, kemajuan lahir dari kerendahan hati untuk menerima koreksi dan keberanian memperbaiki diri.

Kritik bukanlah ancaman, melainkan cermin yang membantu seseorang melihat kekurangan yang sering luput dari dirinya sendiri. Masyarakat yang dewasa bukanlah masyarakat yang bebas dari kritik, tetapi masyarakat yang mampu menyampaikan kritik secara santun dan menerimanya dengan lapang dada. Sebab, kemajuan hanya lahir ketika keberanian mengoreksi bertemu dengan kerendahan hati untuk menerima koreksi.

Penulis : Fajariah, Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Darussalam Martapura Kalsel

Berita Terkait

Menakar Konstitusionalitas Kebijakan Pemerintah: Perpres 66/2025 dan PP 48/2025
Etika Adalah Wajah Bisnis Halal
Jurnalis Bukan Musuh Masyarakat dan Bukan Musuh Pemerintah, Kami Mitra Informasi Publik Untuk Keadilan 
Hari Tani Nasional, Ade Awaludin: UU Reforma Agraria Harus Jadi Instrumen Pemberdayaan Petani
Utang Demi Pernikahan, Bahagia atau Terbebani?
UMKM Bukan Sekadar Jualan, Tapi Perjuangan untuk Bertahan
Kasus Keracunan Akibat MBG Meningkat, Aktivis Mahasiswa UIN Jakarta Desak Pemerintah Hentikan MBG
Mencari Muka: Anatomi Parasit Sosial di Balik Perburuan Panggung Personal
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari JEJAKNARASI.ID di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan click tanda bintang.

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 17:40 WIB

Menakar Konstitusionalitas Kebijakan Pemerintah: Perpres 66/2025 dan PP 48/2025

Minggu, 18 Oktober 2026 - 14:17 WIB

Etika Adalah Wajah Bisnis Halal

Jumat, 2 Oktober 2026 - 21:36 WIB

Jurnalis Bukan Musuh Masyarakat dan Bukan Musuh Pemerintah, Kami Mitra Informasi Publik Untuk Keadilan 

Jumat, 25 September 2026 - 02:27 WIB

Hari Tani Nasional, Ade Awaludin: UU Reforma Agraria Harus Jadi Instrumen Pemberdayaan Petani

Rabu, 23 September 2026 - 08:59 WIB

Utang Demi Pernikahan, Bahagia atau Terbebani?

Berita Terbaru

Entertainment

Sambut Hari Santri, Cingdons Rilis single “Santri”

Kamis, 22 Okt 2026 - 16:20 WIB

Ekonomi & Bisnis

BRI Region 6 Gelar Pengajian Jumat Rutin dan Syukuran Gedung Kerja Baru

Kamis, 22 Okt 2026 - 12:00 WIB