OPINI, JEJAKNARASI.ID – Banyak orang percaya bahwa cinta adalah modal utama dalam membangun rumah tangga. Perasaan saling mencintai menjadi alasan dua insan memutuskan untuk menikah dan menjalani kehidupan bersama.
Namun, perjalanan rumah tangga menunjukkan bahwa cinta saja tidak selalu cukup. Tidak sedikit pasangan yang awalnya saling mencintai, tetapi akhirnya memilih berpisah karena tidak mampu menghadapi berbagai persoalan yang muncul setelah pernikahan.
Hal ini menunjukkan bahwa keharmonisan rumah tangga tidak hanya bergantung pada perasaan, tetapi juga pada tanggung jawab dan komitmen untuk menjaga hubungan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Setelah memasuki kehidupan berumah tangga, pasangan akan dihadapkan pada berbagai dinamika, mulai dari persoalan ekonomi, perbedaan karakter, pembagian peran dalam keluarga, hingga tanggung jawab mengasuh anak.
Persoalan-persoalan tersebut merupakan bagian yang wajar dalam kehidupan keluarga. Yang menentukan keutuhan rumah tangga bukanlah ada atau tidaknya masalah, melainkan bagaimana suami dan istri menyikapinya.
Ketika komunikasi mulai terabaikan, rasa saling menghargai berkurang, dan masing-masing lebih mengutamakan ego, konflik kecil dapat berkembang menjadi persoalan yang sulit diselesaikan.
Dalam Islam, pernikahan bukan sekadar ikatan yang didasarkan pada rasa cinta, tetapi merupakan mitsaqan ghalizha atau perjanjian yang kokoh sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.
Tujuan pernikahan adalah membangun keluarga yang sakinah, dipenuhi mawaddah (cinta), dan rahmah (kasih sayang). Nilai-nilai tersebut tidak tumbuh dengan sendirinya, tetapi harus dipelihara melalui pelaksanaan hak dan kewajiban secara seimbang, saling menghormati, kesabaran, dan kesediaan untuk terus memperbaiki diri demi kebaikan bersama.
Tanggung jawab merupakan fondasi yang menjaga rumah tangga tetap berdiri ketika berbagai ujian datang. Tanggung jawab tidak hanya berarti memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga mencakup kesediaan untuk mendengarkan pasangan, menjaga kepercayaan, menghormati perbedaan, serta bersama-sama mencari solusi atas setiap persoalan.
Suami dan istri memiliki peran masing-masing yang saling melengkapi. Ketika keduanya sama-sama menyadari bahwa pernikahan adalah amanah, hubungan yang dibangun tidak hanya bertumpu pada perasaan, tetapi juga pada komitmen untuk saling menjaga.
Di tengah perkembangan media sosial, banyak pasangan tanpa sadar membandingkan kehidupan rumah tangganya dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna.
Padahal, kebahagiaan keluarga tidak diukur dari banyaknya foto romantis yang dibagikan atau kemewahan yang dipamerkan. Keharmonisan justru tumbuh dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten, seperti saling menghargai, menjaga komunikasi, menyelesaikan perbedaan dengan musyawarah, serta tetap hadir mendampingi pasangan dalam keadaan senang maupun sulit.
Rumah tangga yang harmonis bukanlah rumah tangga yang tidak pernah mengalami konflik, melainkan rumah tangga yang mampu menjadikan setiap persoalan sebagai ruang untuk saling menguatkan.
Cinta memang menjadi awal yang mempertemukan dua insan dalam ikatan pernikahan, tetapi tanggung jawab, komitmen, dan kesediaan untuk saling menjaga adalah yang membuat ikatan itu tetap bertahan.
Ketika cinta berjalan beriringan dengan tanggung jawab, rumah tangga tidak hanya menjadi tempat tinggal bersama, tetapi juga menjadi tempat terbaik untuk menghadirkan ketenangan, kasih sayang, dan kebahagiaan bagi seluruh anggota keluarga.
Penulis : Fajariah, Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Darussalam Martapura Kalsel
































