Jempol Cepat, Rapuh Adab

Jempol Cepat, Rapuh Adab

- Author

Kamis, 7 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fajariah, Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Darussalam Martapura Kalsel. (Foto: Istimewa)

Fajariah, Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Darussalam Martapura Kalsel. (Foto: Istimewa)

JEJAKNARASI.ID – Di era digital, segalanya bergerak cepat termasuk cara kita berbicara. Dengan satu sentuhan jempol, komentar bisa terkirim, penilaian bisa dilontarkan, dan opini bisa menyebar luas dalam hitungan detik. Namun di balik kecepatan itu, ada hal yang sering tertinggal: adab.

Media sosial awalnya hadir sebagai ruang berbagi. Orang bisa bertukar informasi, menyampaikan pendapat, bahkan membangun koneksi tanpa batas. Tetapi dalam praktiknya, ruang ini sering berubah menjadi tempat yang keras. Komentar ditulis tanpa dipikir panjang, kritik disampaikan tanpa empati, dan perbedaan pendapat dibalas dengan serangan pribadi. Jempol bergerak cepat, tetapi pertimbangan sering kali tertinggal.

Fenomena ini bukan sekadar soal etika berkomunikasi, tetapi juga soal kebiasaan yang terus dibentuk. Ketika respons cepat lebih dihargai dari pada respons yang bijak, maka orang cenderung bereaksi, bukan berpikir. Kita menjadi terbiasa menilai sebelum memahami, menyimpulkan sebelum mendengar, dan menyerang sebelum menimbang. Dalam kondisi seperti ini, adab perlahan menjadi rapuh.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Yang lebih Memprihatinkan, perilaku ini mulai dianggap biasa. Komentar kasar dianggap wajar, ujaran yang merendahkan dilihat sebagai bagian dari “kebebasan berpendapat”, dan sikap tidak santun sering dibungkus dengan alasan kejujuran. Padahal, menyampaikan pendapat tidak harus mengorbankan rasa hormat.

Baca Juga :  Hukum Tidak Dapat Menggantikan Akhlak

Dampaknya tidak kecil. Ruang digital menjadi penuh ketegangan, kepercayaan antarindividu menurun, dan kualitas diskusi ikut merosot. Alih-alih menjadi tempat bertukar gagasan, media sosial justru menjadi arena saling menjatuhkan. Dalam jangka panjang, hal ini bisa memengaruhi cara kita berinteraksi di dunia nyata.

Padahal, adab bukan soal memperlambat diri, tetapi soal mengendalikan diri. Berpikir sejenak sebelum menulis, memeriksa informasi sebelum membagikan, dan memilih kata dengan hati-hati bukanlah kelemahan. Justru di situlah letak kedewasaan dalam berkomunikasi.

Kecepatan memang menjadi ciri zaman, tetapi bukan berarti harus mengorbankan nilai. Tidak semua hal harus ditanggapi saat itu juga, dan tidak semua pikiran harus segera diungkapkan. Terkadang, menahan diri adalah bentuk tanggung jawab.

Pertanyaannya sederhana: apakah kita ingin dikenal sebagai orang yang cepat merespons, atau sebagai orang yang bijak dalam bersikap? Karena di tengah derasnya arus informasi, yang dibutuhkan bukan hanya kecepatan jempol, tetapi juga kekuatan adab untuk menuntunnya.

Penulis : Fajariah, Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Darussalam Martapura Kalsel

Berita Terkait

Jurnalis Bukan Musuh Masyarakat dan Bukan Musuh Pemerintah, Kami Mitra Informasi Publik Untuk Keadilan 
Hari Tani Nasional, Ade Awaludin: UU Reforma Agraria Harus Jadi Instrumen Pemberdayaan Petani
Utang Demi Pernikahan, Bahagia atau Terbebani?
UMKM Bukan Sekadar Jualan, Tapi Perjuangan untuk Bertahan
Kasus Keracunan Akibat MBG Meningkat, Aktivis Mahasiswa UIN Jakarta Desak Pemerintah Hentikan MBG
Mencari Muka: Anatomi Parasit Sosial di Balik Perburuan Panggung Personal
Kuliah 4 Tahun, Tapi Dunia Kerja Lebih Tanya Kamu Bisa Apa
Arisan Online: Tradisi Sosial atau Justru Potensi Masalah?
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari JEJAKNARASI.ID di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan click tanda bintang.

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 21:36 WIB

Jurnalis Bukan Musuh Masyarakat dan Bukan Musuh Pemerintah, Kami Mitra Informasi Publik Untuk Keadilan 

Jumat, 25 September 2026 - 02:27 WIB

Hari Tani Nasional, Ade Awaludin: UU Reforma Agraria Harus Jadi Instrumen Pemberdayaan Petani

Rabu, 23 September 2026 - 08:59 WIB

Utang Demi Pernikahan, Bahagia atau Terbebani?

Jumat, 11 September 2026 - 16:26 WIB

UMKM Bukan Sekadar Jualan, Tapi Perjuangan untuk Bertahan

Kamis, 10 September 2026 - 19:55 WIB

Kasus Keracunan Akibat MBG Meningkat, Aktivis Mahasiswa UIN Jakarta Desak Pemerintah Hentikan MBG

Berita Terbaru