Nikah Muda di Era Digital: Siap Mental atau Sekadar Tren?

Nikah Muda di Era Digital: Siap Mental atau Sekadar Tren?

- Author

Selasa, 19 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fajariah, Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Darussalam Martapura Kalsel. (Foto: Istimewa)

Fajariah, Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Darussalam Martapura Kalsel. (Foto: Istimewa)

JEJAKNARASI.ID – Di tengah derasnya arus media sosial, pernikahan kini tidak hanya dipandang sebagai ikatan sakral antara dua insan, tetapi juga sering menjadi bagian dari gaya hidup dan tren digital. TikTok, Instagram, dan YouTube dipenuhi konten pasangan muda dengan konsep rumah tangga yang tampak sempurna: bangun pagi bersama, memasak berdua, hadiah romantis, hingga video manis bertuliskan “menikah muda ternyata menyenangkan.”

Konten-konten seperti itu perlahan membentuk cara pandang baru di kalangan generasi muda. Menikah muda terlihat indah, hangat, dan seolah menjadi pencapaian hidup yang membanggakan. Tidak sedikit yang akhirnya mulai merasa tertinggal ketika melihat teman sebaya sudah menikah lebih dulu dan memamerkan kebahagiaan rumah tangga di media sosial.

Namun, di balik semua romantisasi itu, muncul pertanyaan penting: apakah menikah muda benar-benar lahir dari kesiapan, atau hanya dorongan mengikuti tren digital?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Media sosial memang memiliki kekuatan besar dalam memengaruhi pola pikir masyarakat. Apa yang sering dilihat perlahan dianggap sebagai standar kehidupan yang ideal. Ketika konten tentang pernikahan muda terus muncul setiap hari, banyak orang mulai memandang bahwa menikah cepat adalah sesuatu yang keren, dewasa, dan patut dibanggakan.

Padahal kehidupan rumah tangga tidak sesederhana video berdurasi satu menit.

Yang terlihat di media sosial hanyalah bagian paling indah dari sebuah hubungan. Tidak ada kamera yang merekam pertengkaran kecil karena masalah ekonomi, kelelahan mental akibat pekerjaan, atau tekanan emosional ketika pasangan mulai berbeda pendapat. Semua sisi sulit itu sering disembunyikan demi menjaga citra hubungan tetap terlihat harmonis.

Inilah yang kemudian menjadi persoalan. Banyak anak muda akhirnya lebih siap membuat konten pernikahan dibanding mempersiapkan mental setelah menikah. Mereka sibuk memikirkan konsep foto prewedding, dekorasi akad, dan unggahan Instagram, tetapi lupa bahwa setelah pesta selesai, kehidupan nyata baru benar-benar dimulai.

Baca Juga :  Dari Air Mata Trisakti ke Kursi Empuk: Aktivisme yang Dijual Murah

Pernikahan membutuhkan kesiapan yang jauh lebih besar daripada sekadar rasa cinta. Dibutuhkan kemampuan mengelola emosi, kesiapan finansial, komunikasi yang sehat, serta kedewasaan dalam menyelesaikan konflik. Sebab dalam rumah tangga, cinta saja sering kali tidak cukup jika tidak dibarengi tanggung jawab.

Tidak sedikit pasangan muda yang akhirnya merasa tertekan setelah menikah. Harapan indah yang sebelumnya dibangun dari media sosial berbenturan dengan kenyataan hidup yang penuh tuntutan. Ada yang mulai kesulitan ekonomi, ada yang belum siap menghadapi perubahan peran, bahkan ada yang merasa kehilangan kebebasan setelah memasuki kehidupan rumah tangga.

Meski demikian, masyarakat kita terkadang masih menganggap menikah sebagai ukuran keberhasilan hidup. Pertanyaan seperti “kapan nikah?” sering diberikan kepada anak muda seolah status pernikahan adalah pencapaian utama. Tekanan sosial seperti ini membuat sebagian orang menikah bukan karena siap, tetapi karena takut dianggap tertinggal.

Padahal setiap orang memiliki jalan hidup dan waktunya masing-masing. Menikah bukan perlombaan siapa paling cepat, melainkan tentang siapa yang paling siap menjalani komitmen jangka panjang.

Bukan berarti menikah muda adalah pilihan yang salah. Banyak pasangan muda yang mampu membangun keluarga harmonis dan bertumbuh bersama dalam kedewasaan. Namun, keberhasilan itu biasanya lahir dari kesiapan yang matang, bukan sekadar dorongan tren atau romantisasi media sosial.

Generasi muda hari ini perlu memahami bahwa kehidupan digital sering kali hanya menampilkan sisi terbaik seseorang. Apa yang terlihat bahagia di layar belum tentu semudah kenyataannya. Karena itu, keputusan besar seperti pernikahan tidak seharusnya diambil hanya karena terpengaruh konten atau tekanan lingkungan.

Yang lebih penting bukan seberapa cepat menikah, tetapi seberapa siap menjalani kehidupan setelahnya. Pernikahan bukan tentang seberapa indah dipamerkan di media sosial, melainkan tentang seberapa kuat dua orang bertahan dan tumbuh bersama dalam kehidupan nyata.

Penulis : Fajariah, Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Darussalam Martapura Kalsel

Berita Terkait

Diskon Besar Tetapi Kesadaran Kecil
Fenomena Flexing: Harga Diri Diukur dari Barang Mewah
Jual Beli Tanpa Kejujuran: Untung atau Menipu?
Jempol Cepat, Rapuh Adab
Sunyi dalam Pernikahan
Kaya Intelektual, Miskin Moral: Ketika Kecerdasan Tidak Lagi Sejalan dengan Moral
Generasi Muda dan Masa Depan Hukum Ekonomi Syariah: Antara Norma dan Praktik
Perempuan dan Politik: Dari Pinggiran Menuju Pusat Kekuasaan
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari JEJAKNARASI.ID di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan click tanda bintang.

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 15:44 WIB

Nikah Muda di Era Digital: Siap Mental atau Sekadar Tren?

Selasa, 12 Mei 2026 - 14:17 WIB

Fenomena Flexing: Harga Diri Diukur dari Barang Mewah

Jumat, 8 Mei 2026 - 13:52 WIB

Jual Beli Tanpa Kejujuran: Untung atau Menipu?

Kamis, 7 Mei 2026 - 22:02 WIB

Jempol Cepat, Rapuh Adab

Senin, 4 Mei 2026 - 09:53 WIB

Sunyi dalam Pernikahan

Berita Terbaru

Fajariah, Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Darussalam Martapura Kalsel. (Foto: Istimewa)

Opini

Nikah Muda di Era Digital: Siap Mental atau Sekadar Tren?

Selasa, 19 Mei 2026 - 15:44 WIB

Tangsel

Link dan Jadwal Resmi SPMB SMPN Tangsel 2026

Selasa, 19 Mei 2026 - 15:25 WIB