Dari Air Mata Trisakti ke Kursi Empuk: Aktivisme yang Dijual Murah

Dari Air Mata Trisakti ke Kursi Empuk: Aktivisme yang Dijual Murah

- Author

Senin, 12 Mei 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jejaknarasi.id, Opini – Dua puluh tahun lebih sudah darah mahasiswa mengering di aspal kampus Trisakti, namun bau anyirnya masih menggantung di langit Jakarta setiap 12 Mei. Nama-nama itu ialah Elang Mulia Lesmana, Hendriawan Sie, Heri Hertanto, dan Hafidin Royan.

Mereka bukan sekadar korban, melainkan martir perubahan. Tapi lihatlah hari ini, bagaimana kisah mereka dimanfaatkan oleh para mantan “aktivis” yang menjadikan tragedi Trisakti sebagai batu loncatan menuju karier politik. Lalu melupakan kewajiban menuntaskan tragedi yang mereka jual ke publik.

Mereka yang dulu berdiri di barikade depan, meneriakkan reformasi dengan dada dibusungkan, hari ini duduk nyaman di kursi empuk kekuasaan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Maman Abdurrahman, Andre Rosiade, dan juga sederet nama lain yang kerap membawa-bawa nama Trisakti sebagai jubah moral. Kini justru bungkam ketika diberi kekuasaan untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat itu. Mereka pandai beretorika saat jadi oposan, namun bisu saat jadi pejabat.

Lalu kita bertanya: Apa yang berubah?, Apakah idealisme hanya berlaku saat belum punya jabatan?, Apakah suara mereka hanya lantang ketika butuh simpati rakyat, lalu menghilang saat bisa menggerakkan negara dari dalam?.

Baca Juga :  Organisasi Mahasiswa: Tempat Pengembangan Diri atau Penghambat Akademik?

Mereka menjadikan 12 Mei sebagai monumen politis yang bisa dibongkar-pasang sesuai kebutuhan. Tragedi itu dijadikan dagangan kampanye, dikutip dalam orasi, ditulis di biodata perjuangan, tapi tak pernah benar-benar diperjuangkan ketika kekuasaan sudah di tangan.

Ke mana mereka saat Komnas HAM kembali menjerit bahwa Trisakti belum tuntas? Ke mana mereka ketika keluarga korban masih menanti keadilan yang tak kunjung datang?.

Aktivisme, pada akhirnya, bukan lagi soal perubahan, tapi soal posisi. Tentang seberapa cepat bisa naik tangga kekuasaan dengan menjual cerita masa lalu. Air mata Trisakti dijadikan catatan kaki dalam CV politik mereka. Air mata Trisakti dipajang saat butuh, dibuang saat sudah duduk nyaman.

Sejarah mencatat siapa yang tulus dan siapa yang oportunis. Dan sejarah pula yang akan mencatat bahwa sebagian dari mereka yang mengaku “pejuang Trisakti” justru adalah pengkhianat moral atas nama kenyamanan.

 

Penulis : Fakhier

Berita Terkait

Hari Tani Nasional, Ade Awaludin: UU Reforma Agraria Harus Jadi Instrumen Pemberdayaan Petani
Utang Demi Pernikahan, Bahagia atau Terbebani?
UMKM Bukan Sekadar Jualan, Tapi Perjuangan untuk Bertahan
Kasus Keracunan Akibat MBG Meningkat, Aktivis Mahasiswa UIN Jakarta Desak Pemerintah Hentikan MBG
Mencari Muka: Anatomi Parasit Sosial di Balik Perburuan Panggung Personal
Kuliah 4 Tahun, Tapi Dunia Kerja Lebih Tanya Kamu Bisa Apa
Arisan Online: Tradisi Sosial atau Justru Potensi Masalah?
RUU Perampasan Aset: Pertaruhan Jabatan dan Teka-teki di Senayan
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari JEJAKNARASI.ID di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan click tanda bintang.

Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 02:27 WIB

Hari Tani Nasional, Ade Awaludin: UU Reforma Agraria Harus Jadi Instrumen Pemberdayaan Petani

Rabu, 23 September 2026 - 08:59 WIB

Utang Demi Pernikahan, Bahagia atau Terbebani?

Jumat, 11 September 2026 - 16:26 WIB

UMKM Bukan Sekadar Jualan, Tapi Perjuangan untuk Bertahan

Kamis, 10 September 2026 - 19:55 WIB

Kasus Keracunan Akibat MBG Meningkat, Aktivis Mahasiswa UIN Jakarta Desak Pemerintah Hentikan MBG

Rabu, 9 September 2026 - 20:32 WIB

Mencari Muka: Anatomi Parasit Sosial di Balik Perburuan Panggung Personal

Berita Terbaru