Fenomena Flexing: Harga Diri Diukur dari Barang Mewah

Fenomena Flexing: Harga Diri Diukur dari Barang Mewah

- Author

Selasa, 12 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JEJAKNARASI.ID – Media sosial hari ini bukan hanya tempat berbagi cerita, tetapi juga menjadi panggung untuk memamerkan gaya hidup. Fenomena flexing atau pamer kekayaan semakin marak melalui unggahan mobil mewah, barang bermerek, liburan mahal, hingga tumpukan uang demi mendapat perhatian dan pengakuan sosial.

Semakin mewah yang ditampilkan, semakin besar pula rasa kagum dari penonton. Akibatnya, banyak orang mulai percaya bahwa nilai seseorang diukur dari apa yang dimilikinya, bukan dari sikap dan kebaikan yang dimilikinya.

Fenomena ini sebenarnya bukan sekadar soal gaya hidup, tetapi juga tentang perubahan cara masyarakat memandang harga diri. Di tengah budaya digital, pengakuan sosial sering datang dari jumlah likes, komentar, dan pujian atas kemewahan yang dipamerkan. Orang yang terlihat kaya dianggap lebih sukses, lebih menarik, bahkan lebih dihormati.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Padahal, tidak semua yang tampak mewah di media sosial benar-benar mencerminkan kehidupan nyata. Banyak orang rela memaksakan diri demi terlihat “berkelas”. Ada yang membeli barang di luar kemampuan finansialnya, berutang demi gaya hidup, bahkan menjadikan kemewahan sebagai alat untuk mendapat pengakuan dari lingkungan sosial.

Parahnya, sebagian orang justru lebih takut terlihat miskin daripada hidup tidak tenang.

Fenomena flexing juga menciptakan tekanan psikologis, terutama bagi generasi muda. Ketika setiap hari melihat orang lain memamerkan pencapaian dan kemewahan, muncul perasaan tertinggal dan merasa diri tidak cukup baik. Anak muda akhirnya merasa harus memiliki barang mahal agar dianggap berhasil dalam hidup.

Akibatnya, budaya konsumtif semakin tumbuh. Orang membeli sesuatu bukan karena kebutuhan, tetapi karena ingin terlihat mampu. Fungsi barang perlahan bergeser menjadi simbol status sosial.

Bahaya terbesar dari budaya flexing adalah hilangnya makna kesederhanaan. Kesuksesan tidak lagi dilihat dari proses, kerja keras, atau integritas, melainkan dari apa yang tampak di media sosial. Seseorang bisa dianggap hebat hanya karena mampu menunjukkan kemewahan, meskipun belum tentu memiliki kualitas diri yang baik.

Baca Juga :  Soma Atmaja Resmi Dilantik Sebagai Sekda Tangerang, FMBN Ucapkan Selamat

Media sosial memang memberi kebebasan kepada siapa pun untuk menampilkan kehidupannya. Namun, ketika ruang digital dipenuhi budaya pamer berlebihan, masyarakat perlahan terdorong untuk membandingkan hidupnya dengan orang lain. Padahal, setiap orang memiliki kondisi dan perjalanan hidup yang berbeda.

Tidak sedikit pula kasus penipuan dan tindakan kriminal yang berawal dari budaya flexing. Demi terlihat kaya, ada orang yang rela melakukan apa saja, termasuk mencari uang dengan cara instan dan melanggar hukum. Fenomena ini menunjukkan bahwa obsesi terhadap pengakuan sosial dapat membawa dampak yang jauh lebih serius daripada sekadar gaya hidup.

Bukan berarti seseorang tidak boleh menikmati hasil kerja kerasnya. Tidak ada yang salah dengan hidup nyaman atau membeli barang yang diinginkan. Namun, masalah muncul ketika kemewahan dijadikan ukuran utama nilai diri dan alat untuk mencari penghormatan dari orang lain.

Harga diri seharusnya tidak ditentukan oleh merek pakaian, jenis kendaraan, atau mahalnya barang yang dimiliki. Nilai manusia jauh lebih besar daripada apa yang terlihat di media sosial. Kejujuran, etika, kepedulian, dan cara memperlakukan orang lain justru lebih mencerminkan kualitas seseorang.

Generasi muda hari ini perlu lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Tidak semua yang terlihat mewah adalah kebahagiaan, dan tidak semua yang sederhana berarti gagal. Kehidupan nyata tidak selalu sama dengan apa yang ditampilkan di layar.

Flexing hanyalah citra yang bisa dibuat dalam hitungan detik. Namun, karakter, integritas, dan ketenangan hidup adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan barang mewah.

Penulis : Fajariah, Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Darussalam Martapura Kalsel

Berita Terkait

Jual Beli Tanpa Kejujuran: Untung atau Menipu?
Jempol Cepat, Rapuh Adab
Sunyi dalam Pernikahan
Kaya Intelektual, Miskin Moral: Ketika Kecerdasan Tidak Lagi Sejalan dengan Moral
Generasi Muda dan Masa Depan Hukum Ekonomi Syariah: Antara Norma dan Praktik
Perempuan dan Politik: Dari Pinggiran Menuju Pusat Kekuasaan
Utang Piutang di Masyarakat: Ketika Kebutuhan Berubah Jadi Alat Penindasan
Teologi Politik Islam Iran Dalam Pemikiran Bung Karno
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari JEJAKNARASI.ID di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan click tanda bintang.

Berita Terkait

Selasa, 12 Mei 2026 - 14:17 WIB

Fenomena Flexing: Harga Diri Diukur dari Barang Mewah

Jumat, 8 Mei 2026 - 13:52 WIB

Jual Beli Tanpa Kejujuran: Untung atau Menipu?

Kamis, 7 Mei 2026 - 22:02 WIB

Jempol Cepat, Rapuh Adab

Senin, 4 Mei 2026 - 09:53 WIB

Sunyi dalam Pernikahan

Kamis, 30 April 2026 - 17:35 WIB

Kaya Intelektual, Miskin Moral: Ketika Kecerdasan Tidak Lagi Sejalan dengan Moral

Berita Terbaru

Opini

Fenomena Flexing: Harga Diri Diukur dari Barang Mewah

Selasa, 12 Mei 2026 - 14:17 WIB

Hukum & Kriminal

Polisi Gagalkan Peredaran Narkoba Jenis Ekstasi dan Sabu di Jakarta Utara

Senin, 11 Mei 2026 - 18:44 WIB