Jual Beli Tanpa Kejujuran: Untung atau Menipu?

Jual Beli Tanpa Kejujuran: Untung atau Menipu?

- Author

Jumat, 8 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fajariah, Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Darussalam Martapura Kalsel. (Foto: Istimewa)

Fajariah, Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Darussalam Martapura Kalsel. (Foto: Istimewa)

JEJAKNARASI.ID – Jual beli seharusnya saling menguntungkan. Ada barang yang ditukar, ada harga yang disepakati, dan yang paling penting ada kepercayaan. Namun kenyataannya, tidak semua transaksi dilakukan dengan jujur. Di balik kata “untung”, sering tersembunyi hal lain: informasi yang tidak disampaikan, kualitas barang yang dilebihkan, atau kekurangan yang sengaja ditutup-tutupi.

Hal seperti ini bukan sesuatu yang jauh. Kita bisa menemukannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, barang yang dijual secara online ternyata tidak sesuai dengan foto atau deskripsinya. Atau penjual yang tidak menjelaskan kondisi sebenarnya dari barang yang dijual. Kadang, ada juga kesepakatan yang dibuat tanpa menjelaskan risiko secara jelas kepada pembeli.

Masalahnya, ketidakjujuran ini mulai dianggap biasa. Orang yang jujur sering dianggap terlalu polos. Sementara yang pandai “mengakali” keadaan justru dianggap pintar. Padahal, jika dibiarkan, cara berpikir seperti ini bisa merusak kepercayaan dalam masyarakat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketika informasi tidak disampaikan dengan lengkap, sebenarnya transaksi itu tidak adil. Satu pihak merasa diuntungkan, tetapi pihak lain bisa saja dirugikan tanpa sadar. Mungkin tidak langsung terasa, tetapi dampaknya akan muncul kemudian.

Kepercayaan adalah dasar dari setiap jual beli. Jika kepercayaan hilang, orang akan menjadi lebih curiga. Transaksi jadi tidak nyaman, bahkan penuh rasa was-was. Kalau kondisi ini terus terjadi, jual beli tidak lagi menjadi hubungan yang sehat, tetapi berubah menjadi ajang saling mengakali.

Baca Juga :  Saat Pungli Tidak Lagi Membuat Kita Terkejut

Padahal, kejujuran justru membawa keuntungan dalam jangka panjang. Penjual yang jujur mungkin tidak selalu mendapat untung besar saat itu juga, tetapi ia akan dipercaya. Pembeli akan kembali, bahkan bisa merekomendasikan kepada orang lain. Sebaliknya, keuntungan dari ketidakjujuran biasanya hanya sementara.

Jual beli bukan hanya soal mencari untung, tetapi juga soal cara mendapatkan keuntungan itu. Apakah dengan jujur, atau dengan cara yang merugikan orang lain?

Jika ketidakjujuran terus dianggap wajar, kita sebenarnya sedang menurunkan standar tanpa sadar. Bukan hanya merugikan orang lain, tetapi juga merusak hubungan sosial.

Di sinilah pertanyaan penting muncul: apakah “untung” itu benar-benar hasil kejujuran, atau justru dari cara yang merugikan orang lain? Tidak semua keuntungan bisa dibenarkan. Ada yang lahir dari keterbukaan, tetapi ada juga dari informasi yang disembunyikan atau ketidaktahuan yang dimanfaatkan. Ketika batas ini kabur, keuntungan bisa berubah menjadi penipuan yang dianggap biasa.

Karena itu, kejujuran harus menjadi dasar dalam setiap transaksi. Menjelaskan kondisi barang apa adanya, tidak menyembunyikan kekurangan, dan tidak memanfaatkan ketidaktahuan orang lain adalah hal yang penting.

Jadi keuntungan yang sebenarnya bukan hanya tentang apa yang kita dapat hari ini, tetapi tentang apakah orang lain masih mau percaya dan bertransaksi dengan kita di kemudian hari.

Penulis : Fajariah, Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Darussalam Martapura Kalsel

Berita Terkait

Memaknai Kemerdekaan: Dari Euforia Agustus Menuju Perjuangan Nyata
Mengawal Semangat Kemerdekaan: Kiprah Polri dalam HUT ke-81 Republik Indonesia
Rumah Tangga Harmonis Bukan Hanya Soal Cinta
Keadilan Tidak Boleh Menjadi Barang Mewah
Spanyol : Sejarah, Kultur, Tata Kota, dan Sepak Bola sebagai Identitas Bangsa
Kepercayaan adalah Mata Uang Termahal dalam Bisnis
Hukum Tidak Dapat Menggantikan Akhlak
Ketika Warisan Menguji Persaudaraan
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari JEJAKNARASI.ID di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan click tanda bintang.

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 21:46 WIB

Memaknai Kemerdekaan: Dari Euforia Agustus Menuju Perjuangan Nyata

Jumat, 7 Agustus 2026 - 09:56 WIB

Mengawal Semangat Kemerdekaan: Kiprah Polri dalam HUT ke-81 Republik Indonesia

Jumat, 31 Juli 2026 - 13:41 WIB

Rumah Tangga Harmonis Bukan Hanya Soal Cinta

Jumat, 24 Juli 2026 - 12:23 WIB

Keadilan Tidak Boleh Menjadi Barang Mewah

Senin, 20 Juli 2026 - 13:49 WIB

Spanyol : Sejarah, Kultur, Tata Kota, dan Sepak Bola sebagai Identitas Bangsa

Berita Terbaru