JEJAKNARASI.ID – Di tengah meningkatnya gelar akademik, prestasi intelektual, dan kemajuan teknologi, kita dihadapkan pada ironi yang sulit disangkal: kecerdasan meningkat, tetapi moral justru merosot. Orang-orang semakin mahir berpikir, tetapi semakin longgar dalam memegang nilai. Kita tidak sedang kekurangan orang pintar. Kita justru kelebihan orang pintar yang kehilangan arah.
Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Kita berulang kali melihat bagaimana mereka yang memahami hukum justru mampu mencari celah untuk menghindarinya. Sebagian individu berpendidikan tinggi terlibat dalam praktik tidak etis dari manipulasi hingga penyalahgunaan wewenang. Tentu, ini bukan gambaran semua kalangan terdidik, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa kecerdasan saja belum cukup menjadi penuntun.
Bahkan di ruang akademik yang seharusnya menjadi benteng nilai, kemiskinan moral justru tampak nyata, ketidakjujuran dan lemahnya tanggung jawab sebagai mahasiswa bukan lagi penyimpangan, melainkan kebiasaan yang diam-diam ditoleransi, tugas kadang diselesaikan tanpa pemahaman mendalam, dan diskusi tidak selalu menjadi ruang pencarian makna, melainkan ajang menunjukkan kemampuan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Masalahnya bukan karena moralitas sepenuhnya diabaikan. Masih banyak pendidik dan mahasiswa yang menjaganya dengan baik. Namun, kecenderungan yang berkembang menunjukkan bahwa intelektualitas sering kali lebih diutamakan dibandingkan pembentukan karakter. Pendidikan sering dipahami sebagai sarana meraih prestasi, bukan sebagai proses membentuk seseorang seutuhnya. Akibatnya, kecerdasan tidak selalu diiringi dengan kepekaan moral.
Ketika kecerdasan tidak dibingkai oleh moralitas, muncul kecenderungan untuk merasionalisasi kesalahan. Meskipun tidak semua orang terjebak dalam hal ini, tetapi gejalanya nyata: kebohongan dapat dibungkus logika, pelanggaran dianggap wajar selama dapat dijelaskan, dan nilai-nilai etis perlahan dinegosiasikan. Di titik ini, kecerdasan berisiko kehilangan fungsi utamanya.
Jika kecenderungan ini terus dibiarkan, dampaknya patut diwaspadai. Kita bisa saja melahirkan individu yang unggul secara intelektual, tetapi kurang kuat dalam integritas. Kita akan memiliki pemimpin yang cerdas, tetapi tidak amanah. Profesional yang kompeten, tetapi tidak jujur, dan masyarakat yang maju secara pengetahuan, tetapi rusak secara moral.
Sudah saatnya arah ini dibalik. Kecerdasan harus dikembalikan pada fungsi utamanya: membangun, bukan merusak. Pendidikan tidak hanya menghasilkan orang pintar, tetapi harus melahirkan sesorang yang berintegritas. Nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan memiliki empati.
Di sinilah pertanyaan mendasarnya: apakah kita ingin melahirkan generasi yang hanya cerdas, atau generasi yang juga memiliki keteguhan nilai? Karena sejarah tidak mencatat seberapa tinggi nilai seseorang, tetapi akan selalu mengingat bagaimana ia menggunakan kecerdasan dalam kehidupannya.
Cerdas tanpa moral bukanlah keunggulan, melainkan kegagalan yang terlihat mengagumkan.
Penulis : Fajariah, Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Darussalam Martapura Kalsel





















