Kaya Intelektual, Miskin Moral: Ketika Kecerdasan Tidak Lagi Sejalan dengan Moral

Kaya Intelektual, Miskin Moral: Ketika Kecerdasan Tidak Lagi Sejalan dengan Moral

- Author

Kamis, 30 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fajariah, Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Darussalam Martapura Kalsel. (Foto: Istimewa)

Fajariah, Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Darussalam Martapura Kalsel. (Foto: Istimewa)

JEJAKNARASI.ID – Di tengah meningkatnya gelar akademik, prestasi intelektual, dan kemajuan teknologi, kita dihadapkan pada ironi yang sulit disangkal: kecerdasan meningkat, tetapi moral justru merosot. Orang-orang semakin mahir berpikir, tetapi semakin longgar dalam memegang nilai. Kita tidak sedang kekurangan orang pintar. Kita justru kelebihan orang pintar yang kehilangan arah.

Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Kita berulang kali melihat bagaimana mereka yang memahami hukum justru mampu mencari celah untuk menghindarinya. Sebagian individu berpendidikan tinggi terlibat dalam praktik tidak etis dari manipulasi hingga penyalahgunaan wewenang. Tentu, ini bukan gambaran semua kalangan terdidik, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa kecerdasan saja belum cukup menjadi penuntun.

Bahkan di ruang akademik yang seharusnya menjadi benteng nilai, kemiskinan moral justru tampak nyata, ketidakjujuran dan lemahnya tanggung jawab sebagai mahasiswa bukan lagi penyimpangan, melainkan kebiasaan yang diam-diam ditoleransi, tugas kadang diselesaikan tanpa pemahaman mendalam, dan diskusi tidak selalu menjadi ruang pencarian makna, melainkan ajang menunjukkan kemampuan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Masalahnya bukan karena moralitas sepenuhnya diabaikan. Masih banyak pendidik dan mahasiswa yang menjaganya dengan baik. Namun, kecenderungan yang berkembang menunjukkan bahwa intelektualitas sering kali lebih diutamakan dibandingkan pembentukan karakter. Pendidikan sering dipahami sebagai sarana meraih prestasi, bukan sebagai proses membentuk seseorang seutuhnya. Akibatnya, kecerdasan tidak selalu diiringi dengan kepekaan moral.

Baca Juga :  Mudahkan Pelayanan Air Bersih, UPTD Pengolahan Air Bersih DCKTR Kota Tangsel Luncurkan Aplikasi Bernama 'PARIS'

Ketika kecerdasan tidak dibingkai oleh moralitas, muncul kecenderungan untuk merasionalisasi kesalahan. Meskipun tidak semua orang terjebak dalam hal ini, tetapi gejalanya nyata: kebohongan dapat dibungkus logika, pelanggaran dianggap wajar selama dapat dijelaskan, dan nilai-nilai etis perlahan dinegosiasikan. Di titik ini, kecerdasan berisiko kehilangan fungsi utamanya.

Jika kecenderungan ini terus dibiarkan, dampaknya patut diwaspadai. Kita bisa saja melahirkan individu yang unggul secara intelektual, tetapi kurang kuat dalam integritas. Kita akan memiliki pemimpin yang cerdas, tetapi tidak amanah. Profesional yang kompeten, tetapi tidak jujur, dan masyarakat yang maju secara pengetahuan, tetapi rusak secara moral.

Sudah saatnya arah ini dibalik. Kecerdasan harus dikembalikan pada fungsi utamanya: membangun, bukan merusak. Pendidikan tidak hanya menghasilkan orang pintar, tetapi harus melahirkan sesorang yang berintegritas. Nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan memiliki empati.

Di sinilah pertanyaan mendasarnya: apakah kita ingin melahirkan generasi yang hanya cerdas, atau generasi yang juga memiliki keteguhan nilai? Karena sejarah tidak mencatat seberapa tinggi nilai seseorang, tetapi akan selalu mengingat bagaimana ia menggunakan kecerdasan dalam kehidupannya.

Cerdas tanpa moral bukanlah keunggulan, melainkan kegagalan yang terlihat mengagumkan.

Penulis : Fajariah, Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Darussalam Martapura Kalsel

Berita Terkait

Jurnalis Bukan Musuh Masyarakat dan Bukan Musuh Pemerintah, Kami Mitra Informasi Publik Untuk Keadilan 
Hari Tani Nasional, Ade Awaludin: UU Reforma Agraria Harus Jadi Instrumen Pemberdayaan Petani
Utang Demi Pernikahan, Bahagia atau Terbebani?
UMKM Bukan Sekadar Jualan, Tapi Perjuangan untuk Bertahan
Kasus Keracunan Akibat MBG Meningkat, Aktivis Mahasiswa UIN Jakarta Desak Pemerintah Hentikan MBG
Mencari Muka: Anatomi Parasit Sosial di Balik Perburuan Panggung Personal
Kuliah 4 Tahun, Tapi Dunia Kerja Lebih Tanya Kamu Bisa Apa
Arisan Online: Tradisi Sosial atau Justru Potensi Masalah?
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari JEJAKNARASI.ID di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan click tanda bintang.

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 21:36 WIB

Jurnalis Bukan Musuh Masyarakat dan Bukan Musuh Pemerintah, Kami Mitra Informasi Publik Untuk Keadilan 

Jumat, 25 September 2026 - 02:27 WIB

Hari Tani Nasional, Ade Awaludin: UU Reforma Agraria Harus Jadi Instrumen Pemberdayaan Petani

Rabu, 23 September 2026 - 08:59 WIB

Utang Demi Pernikahan, Bahagia atau Terbebani?

Jumat, 11 September 2026 - 16:26 WIB

UMKM Bukan Sekadar Jualan, Tapi Perjuangan untuk Bertahan

Kamis, 10 September 2026 - 19:55 WIB

Kasus Keracunan Akibat MBG Meningkat, Aktivis Mahasiswa UIN Jakarta Desak Pemerintah Hentikan MBG

Berita Terbaru