Anggaran Ketahahan Pangan Capai Rp 22,5 T, Legislator Ingatkan Ini ke Bapanas

Anggaran Ketahahan Pangan Capai Rp 22,5 T, Legislator Ingatkan Ini ke Bapanas

- Author

Sabtu, 6 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi (Foto: ist)

Ilustrasi (Foto: ist)

JEJAKNARASI.ID. JAKARTA – Anggota Komisi IV DPR Firman Soebagyo, mengingatkan Badan Pangan Nasional (Bapanas) agar tidak gegabah dalam mengalokasikan anggaran ketahanan pangan yang sebagian besar diarahkan untuk program bantuan beras gratis.

Sebab, skema ini memang bermanfaat dalam jangka pendek, namun tidak memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan produksi pangan nasional.

Firman yang jugga politikus Golkar ini menjelaskan, ketahanan pangan seharusnya dipahami sebagai kemampuan bangsa untuk berdiri di atas kaki sendiri dalam memenuhi kebutuhan pangan. Ia menilai penggunaan anggaran yang terlalu besar untuk program beras gratis justru mengabaikan aspek produktivitas.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Program bantuan ini memang bisa menyentuh masyarakat miskin, tetapi tidak serta-merta meningkatkan produksi pangan dalam negeri. Kalau hanya mengandalkan konsumsi, kita akan terus bergantung pada impor,” ujarnya, Sabtu (6/9/025).

Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI itu menegaskan, alokasi anggaran sebesar Rp22,5 triliun akan jauh lebih efektif bila diarahkan ke sektor-sektor yang mendorong peningkatan produksi.

Ia menyebut beberapa langkah strategis yang bisa ditempuh pemerintah, seperti perbaikan infrastruktur pertanian, pengadaan lahan produktif baru, mekanisasi alat pertanian modern, hingga pelatihan untuk meningkatkan kapasitas petani.

“Kalau anggaran sebesar itu diinvestasikan ke sektor hulu, maka manfaatnya berlipat. Petani berdaya, produksi meningkat, dan kedaulatan pangan kita makin kuat,” tegas Firman

Anggota Baleeg DPR itu juga menyoroti fakta bahwa mayoritas penerima bantuan pangan justru berasal dari pedesaan yang sebagian besar berprofesi sebagai petani. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan adanya ironi, karena di satu sisi petani mendapat bantuan beras, sementara di sisi lain sektor pertaniannya tidak diperkuat.

Baca Juga :  Harga Minyak Dunia Naik, Legislator Achmad Minta Stok BBM Jelang Mudik Lebaran Aman

“Kalau petani dibiarkan hanya sebagai penerima bantuan, maka mereka tidak pernah naik kelas. Yang dibutuhkan adalah program jangka panjang agar mereka bisa mandiri,” tutur Firman yang juga menjabat Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia.

Meski demikian, Firman tidak menutup mata bahwa program beras gratis juga memiliki fungsi sosial. Program ini dapat menjadi jaring pengaman di saat masyarakat menghadapi krisis, sekaligus membantu menjaga stabilitas harga pangan agar tidak melonjak tajam.

Namun ia menekankan, manfaat sosial itu tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan strategi besar pembangunan pangan. “Beras gratis memang ada gunanya, tapi harus diimbangi dengan kebijakan yang menjamin keberlanjutan produksi,” terang legislator dapil Jateng III ini.

Oleh karena itu, Firman mendorong agar lembaga ini tidak sekadar menjalankan program secara rutinitas, melainkan juga melakukan kajian mendalam sebelum menetapkan kebijakan anggaran.

Ia menekankan pentingnya evaluasi dengan mempertimbangkan kebutuhan nyata masyarakat, dampak jangka panjang terhadap ketahanan dan kedaulatan pangan, serta alternatif penggunaan anggaran yang lebih produktif.

“Kalau kita bicara ketahanan pangan, orientasinya bukan hanya pada konsumsi, tetapi produksi. Jangan sampai kita sibuk bagi-bagi beras tapi tidak mengurus petani. Pemerintah harus memastikan uang rakyat yang begitu besar benar-benar dikelola secara efektif untuk memperkuat fondasi pangan nasional kita,” pungkas Firman yang juga Anggota Badan Asprasi Masyarakat (BAM) DPR ini.**

Berita Terkait

Listyo Sigit Jadi Tersangka Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo, Ini Penjelasan Polri
Isu Makar Presiden Prabowo Kembali Disorot, Ini Faktanya
Listyo Sigit Tak Terlihat di Istana Saat Isu Jenderal Polri Mencuat, Ada Apa?
Harga BBM Pertamina 3 November 2026 di Jabodetabek Pasca Penyesuaian Harga
Penelitian Universitas Padjadjaran: Beralih dari Merokok ke Produk Tembakau Alternatif Perbaiki Kesehatan
Mahfud MD Desak KPU dan Dit Dikdasmen Diperiksa Pasca MA Batalkan Suket Penyetaraan SMA Gibran
Road to Jogja Business & Economic Outlook 2027: 30 Peserta Ikuti Sanggabiz
Waskita Beton Precast Dorong Perempuan Berkarya di Konstruksi melalui Girls on Site
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari JEJAKNARASI.ID di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan click tanda bintang.

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 20:35 WIB

Listyo Sigit Jadi Tersangka Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo, Ini Penjelasan Polri

Selasa, 3 November 2026 - 20:03 WIB

Isu Makar Presiden Prabowo Kembali Disorot, Ini Faktanya

Selasa, 3 November 2026 - 18:22 WIB

Listyo Sigit Tak Terlihat di Istana Saat Isu Jenderal Polri Mencuat, Ada Apa?

Senin, 2 November 2026 - 22:54 WIB

Harga BBM Pertamina 3 November 2026 di Jabodetabek Pasca Penyesuaian Harga

Senin, 2 November 2026 - 15:02 WIB

Penelitian Universitas Padjadjaran: Beralih dari Merokok ke Produk Tembakau Alternatif Perbaiki Kesehatan

Berita Terbaru

Nasional

Isu Makar Presiden Prabowo Kembali Disorot, Ini Faktanya

Selasa, 3 Nov 2026 - 20:03 WIB