OPINI, JEJAKNARASI.ID – Pernahkah Anda berniat hanya ingin makan siang biasa, tetapi berakhir di sebuah kafe estetik dengan piring cantik, pencahayaan estetik, dan tagihan yang membuat jantung hampir copot? jika iya, anda tidak sendirian.
Belakangan ini, ada tren baru di kalangan masyarakat urban dan anak muda yang dikenal dengan istilah “makan cantik”. Fenomena ini bukan lagi sekadar kegiatan mengisi perut yang lapar, melainkan sebuah ritual wajib demi konten media sosial dan pengakuan status sosial.
Secara harfiah, makan cantik adalah kegiatan menyantap makanan di tempat-tempat yang interiornya bagus, menunya kekinian, dan penyajiannya sangat memanjakan mata.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Masalahnya, estetika itu tidak ada yang gratis. Seporsi makanan yang biasanya dihargai Rp25 ribu di warung makan biasa, bisa melonjak menjadi Rp80 ribu hingga Rp100 ribu di tempat-tempat seperti ini. Mengapa? Karena yang kita bayar bukan cuma rasa makanannya, melainkan biaya sewa AC, lampu hias, alunan musik, dan “hak” untuk mengambil foto yang bagus demi feeds Instagram atau TikTok.
Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan sesekali menikmati hasil jerih payah bekerja dengan makan di tempat yang mewah.
Mengapresiasi diri sendiri itu penting. Namun, yang menjadi masalah besar adalah ketika aktivitas ini berubah dari “sesekali” menjadi “kewajiban” setiap akhir pekan karena takut dianggap kurang gaul atau ketinggalan zaman. Banyak dari kita yang akhirnya terjebak dalam lingkaran setan bernama inflasi gaya hidup.
Fenomena ini diperparah oleh tekanan media sosial yang tanpa sadar mendikte standar kebahagiaan kita. Ada rasa gengsi yang terusik jika melihat teman-teman mengunggah foto kopi susu mahal atau kue estetik, sementara kita hanya mengunggah foto mi ayam di pinggir jalan.
Akibat mengejar validasi dari orang-orang di dunia maya yang bahkan sebagian besar tidak kita kenal dekat kita rela mengorbankan kesehatan finansial kita sendiri.
Dampaknya bisa ditebak: dompet bocor halus. Di pertengahan bulan, banyak orang mulai mengeluh tabungannya sekarat, saldo rekening kritis, atau bahkan terpaksa berutang lewat fitur paylater demi menyambung hidup.
Ini adalah sebuah ironi yang nyata. Kita rela terlihat kaya di hadapan orang lain, padahal aslinya sedang megap-megap mengatur keuangan pribadi untuk kebutuhan mendasar seperti biaya kos, listrik, atau investasi masa depan.
Makan cantik yang terus-menerus pada akhirnya hanyalah sebuah kepuasan instan yang semu. Pujian atau tanda “suka” di media sosial tidak akan bisa digunakan untuk membayar biaya rumah sakit saat kita sakit, atau menjadi uang muka untuk membeli rumah di masa depan. Kenyangnya hanya bertahan beberapa jam, gaya estetiknya hanya bertahan dalam satu unggahan, tetapi penyesalan finansialnya bisa bertahan berbulan-bulan.
Sudah saatnya kita mulai berani mengambil langkah nyata untuk keluar dari jebakan gengsi ini, terutama bagi kita yang masih hidup dari uang saku orang tua.
Alih-alih menghabiskan keringat orang tua demi gengsi sesaat, mulailah membuat batasan anggaran nongkrong yang tegas, serta pupuk keberanian untuk berkata “tidak” secara jujur kepada teman saat dompet sedang tipis tanpa harus merasa minder.
Ingatlah, memamerkan gaya hidup mewah dari uang orang tua itu sama sekali tidak keren; yang membuat kita benar-benar hebat adalah kemampuan mengelola uang saku dengan bertanggung jawab demi masa depan yang mandiri. Yuk, mulai hari ini lebih sayang pada dompet dan orang tua kita!
Penulis : Fajariah, Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Darussalam Martapura Kalsel
























