OPINI, JEJAKNARASI.ID – Setelah mengikuti pembekalan QRIS Jelajah Kuliner Indonesia 2026 dari Bank Indonesia, Tesalonika R.M. Panggabean bersama tim Tasak Telu mengedukasi masyarakat di Sumatera Utara dan Sumatera Barat mengenai Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah serta program PEKA (Peduli, Kenali, Adukan).
Edukasi tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menghargai Rupiah, sementara tim Tasak Telu meraih juara I tingkat Sumatera Utara dan juara III tingkat Sumatera dalam kompetisi tersebut.
Tesalonika R.M. Panggabean bersama tim Tasak Telu mengedukasi masyarakat mengenai Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah dan program PEKA (Peduli, Kenali, Adukan) melalui kegiatan lapangan dalam QRIS Jelajah Kuliner Indonesia 2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Edukasi tersebut mencakup penukaran uang tidak layak edar melalui Bank Indonesia, pemahaman tentang penggunaan Rupiah, serta kewaspadaan terhadap risiko dalam layanan keuangan.
Tesalonika menjelaskan bahwa kegiatan QRIS Jelajah Kuliner Indonesia 2026 tidak hanya mencakup promosi kuliner lokal dan edukasi pembayaran menggunakan QRIS, tetapi juga penyampaian informasi mengenai CBP Rupiah melalui media sosial dan kegiatan langsung di lapangan.
“Misi Bank Indonesia adalah menginformasikan kuliner lokal, penyuluhan QRIS, dan informasi CBP di media sosial dan turun lapangan,” ujar Tesalonika, Kamis (29/10/2026).
Menurut Tesalonika, edukasi QRIS perlu disertai pemahaman mengenai pentingnya penggunaan Rupiah. Ia menjelaskan bahwa masyarakat tetap perlu mengenal dan menghargai Rupiah sebagai mata uang Indonesia dan kedaulatan negara.
“Enggak semua harus di-QRIS-kan karena kita juga harus menjaga Rupiah kita, makanya diberikan juga pengetahuan tentang CBP dan PEKA,” ucap Tesalonika.
Dalam edukasi CBP Rupiah, Tesalonika menjelaskan tiga aspek, yaitu cinta, bangga, dan paham terhadap Rupiah. Cinta Rupiah diwujudkan dengan merawat uang agar tetap dalam kondisi baik. Bangga Rupiah berarti menghargai Rupiah sebagai mata uang Indonesia, sedangkan Paham Rupiah mencakup pengetahuan tentang ciri keaslian uang dan penggunaannya.
Untuk membantu masyarakat mengenali keaslian uang, Tesalonika menyampaikan metode 3D, yaitu dilihat, diraba, dan diterawang. Ia juga menjelaskan bahwa uang Rupiah memiliki unsur pengaman, termasuk tanda tertentu yang dapat membantu penyandang tunanetra mengenali pecahan uang.
Selain mengenali keaslian uang, masyarakat juga diajak menjaga kondisi fisik Rupiah melalui prinsip 5J. Prinsip ini mengingatkan masyarakat agar tidak melipat, mencoret, meremas, menstapler, atau membasahi uang. Penggunaan dompet yang sesuai juga dapat membantu menjaga kondisi uang agar tidak mudah rusak.
Edukasi selanjutnya mencakup program PEKA, yang terdiri atas Peduli, Kenali, dan Adukan. Pada aspek Peduli, masyarakat diajak memahami manfaat, risiko, dan keamanan produk serta layanan keuangan, termasuk menjaga kerahasiaan kode OTP, PIN, dan kata sandi. Pada aspek Kenali, masyarakat perlu memeriksa legalitas penyedia jasa keuangan serta mewaspadai penipuan digital, scam, deepfake, dan tautan mencurigakan. Sementara itu, aspek Adukan mendorong masyarakat melaporkan transaksi mencurigakan atau dugaan penipuan melalui kanal pengaduan resmi yang tersedia.
Selain menyampaikan informasi, Tesalonika dan timnya mendatangi masyarakat untuk mengumpulkan uang yang kondisinya sudah tidak layak edar agar dapat diproses untuk penukaran melalui Bank Indonesia. Menurut Tesalonika, kesediaan sejumlah masyarakat menyerahkan uang tersebut menjadi salah satu respons yang mereka temui selama menjalankan edukasi di lapangan.
Penulis : Khairiyah
























