Menu

Mode Gelap

Politik

Pertemuan Prabowo–Megawati Jelang Lebaran, Pengamat: Tak Sekadar Silaturahmi

badge-check


					Ketuia Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri saat tiba di istana disambut langsung oleh Presiden Prabowo. (Foto; Ist) Perbesar

Ketuia Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri saat tiba di istana disambut langsung oleh Presiden Prabowo. (Foto; Ist)

JEJAKNARASI.ID.JAKARTA – Pertemuan antara Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri dinilai tidak sekadar silaturahmi, melainkan bagian dari komunikasi politik yang memiliki makna lebih luas.

Pengamat politik Arifki Chaniago menilai, pertemuan tersebut mencerminkan adanya kebutuhan menjaga komunikasi antar elite di tengah situasi global yang tidak menentu.

“Ini bukan sekadar silaturahmi. Ada konteks yang lebih besar, terutama karena situasi global lagi tidak stabil,” kata Arifki dalam keterangan tertulisnya Kamis (19/3/2026).

Menurut Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia ini, dari sisi Presiden Prabowo, pertemuan ini sejalan dengan langkah membangun komunikasi luas dengan berbagai tokoh, termasuk para mantan presiden, sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas politik.

“Prabowo membangun komunikasi yang luas. Itu memberi pesan bahwa stabilitas jadi prioritas,” ujarnya.

Namun, Arifki melihat pertemuan dengan Megawati memiliki karakter yang berbeda karena dilakukan secara khusus, tidak dalam forum bersama seperti pertemuan mantan presiden dan wakil presiden, serta  dengan tokoh lain sebelumnya.

“Pertemuan ini lebih spesifik. Ada ruang komunikasi yang tidak sama dengan forum bersama,” jelasnya.

Ia menilai, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa Megawati memiliki posisi tersendiri dalam dinamika politik nasional, sekaligus mencerminkan adanya ruang tawar yang tetap dijaga oleh PDI Perjuangan.

“Ada pesan bahwa PDIP tetap berada di posisi penyeimbang, tapi komunikasinya dilakukan dengan cara yang lebih khusus,” katanya.

Dalam konteks itu, Arifki menyebut pertemuan ini sebagai pertemuan yang mempertemukan dua kepentingan: konsolidasi politik dari pemerintah dan penegasan posisi dari PDIP.

“Di satu sisi ada konsolidasi, di sisi lain ada upaya menjaga posisi tawar. Itu hal yang wajar dalam politik,” tambahnya.

Ia menegaskan, pertemuan seperti ini tidak perlu langsung dimaknai sebagai perubahan peta politik, melainkan bagian dari dinamika komunikasi antar elite dalam membaca situasi yang berkembang.

“Ini lebih ke menjaga komunikasi dan membaca arah, bukan keputusan politik yang langsung terlihat,” pungkasnya.**

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari JEJAKNARASI.ID di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.
Lainnya

Tawarkan Ambang Batas 7 Persen, Pengamat Nilai NasDem Tekan Peluang PSI di Pemilu 2029

25 Februari 2026 - 11:38 WIB

Wacana Prabowo Dua Periode, Arifki Chaniago Sebut Berpotensi Menggeser Fokus Kerja Kabinet

9 Februari 2026 - 21:47 WIB

Jokowi Turun Gunung untuk PSI, Begini Komentar Pengamat Politik Arifki Chaniago

3 Februari 2026 - 22:15 WIB

Indonesia Gabung Board of Peace, Begini Tanggapan Pengamat Ujang Komarudin

29 Januari 2026 - 22:02 WIB

Trending di Politik