TANGSEL, JEJAKNARASI.ID — Di tengah luka dan duka yang belum sepenuhnya pulih pasca gempa yang melanda Flores, Nusa Tenggara Timur, sejumlah mahasiswa asal Flores yang merantau di berbagai kampus se-Jabodetabek berkumpul untuk saling menguatkan dan memperluas solidaritas sesama anak rantau.
Meskipun duka masih membekas, mereka beranggapan masih ada hal yang bisa dilakukan, diusahakan dan diupayakan untuk membantu sesama yang turut terdampak bencana. Salah satu langkah itu diwujudkan melalui pertemuan yang digagas Ketua Muda Bergerak DPD Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Rajiv Nazry Faizullah Sina Gula, dan berkolaborasi dengan Himpunan Pemuda dan Mahasiswa Adonara (HIPMA) Jakarta.
“Kami mengambil langkah ini sebagai bukti bahwa kami tidak melupakan mereka yang turut terdampak di tanah rantau. Mereka juga sama-sama berjuang menuntut ilmu di berbagai kampus yang tersebar se-Jabodetabek,” ujar Ketua Rajiv Muda Bergerak DPD Kota Tangsel, Minggu (13/09/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertemuan tersebut berlangsung di tengah suasana duka, namun tidak lepas dari rasa syukur lantaran para mahasiswa Flores yang semula tidak saling mengenal, akhirnya bisa bertemu, bertatap muka dan saling berkenalan.
Dari perjumpaan itu, muncul harapan untuk membentuk wadah yang secara berkelanjutan menghimpun mahasiswa asal Flores yang sedang merantau.
“Jika ingin cepat, berjalanlah sendiri; jika ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama-sama,” ungkap Rajiv, mengutip pepatah yang kerap dikaitkan dengan pepatah Afrika dan pernah dikutip oleh Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy.
Menurutnya, semangat kebersamaan itu bisa menjadi titik awal untuk membangun kepedulian jangka panjang di kalangan mahasiswa Flores di tanah rantau.
Ia berharap wadah tersebut kelak tidak hanya terwujud saat terjadi bencana, melainkan juga bisa dimanfaatkan untuk saling menguatkan dan bahu-membahu dalam berbagai kesempatan.
Bencana gempa tidak hanya berdampak pada keluarga yang tinggal di Flores, tetapi juga dirasakan oleh anak-anak mereka yang memilih merantau untuk menuntut ilmu.
Berbeda dengan keluarga yang tetap berada di kampung halaman, para mahasiswa ini tidak bersama keluarga yang mengungsi karena rumah mereka rata dengan tanah, tidak bersama keluarga yang tiap hari masih dihantui gempa susulan, dan tidak bersama keluarga yang harus bertahan kedinginan di tenda pengungsian.
Meski demikian, kecemasan mereka tak berkurang. Hampir setiap malam, mereka menunggu kabar dari kampung halaman dan terus berkabar dengan keluarga di sana.
Kondisi itu kerap memecah fokus belajar, mengganggu prestasi akademik, hingga berdampak pada sumber penghasilan mereka di tanah rantau.
“Beberapa dari mereka bahkan kehilangan pemasukan di tanah rantau karena orang tua di kampung halaman belum bisa bekerja dan menjalani aktivitas sehari-hari akibat bencana. Akibatnya, mereka pun bingung bagaimana mengisi perut di tengah kesulitan yang dialami keluarga di kampung,” pungkasnya.
Dengan kondisi tersebut, para penggagas kegiatan ini menilai bahwa solidaritas antarsesama mahasiswa asal Flores menjadi hal yang penting.
Bagi mereka, kepedulian tidak harus selalu terarah ke kampung halaman semata, melainkan juga bisa diberikan kepada sesama anak rantau yang turut menanggung beban duka dan kesulitan akibat bencana.




























