CIKARANG, JEJAKNARASI.ID — Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Universitas Presiden menggelar kegiatan edukasi dan sosialisasi bahaya kebocoran gas rumah tangga berbasis teknologi kepada warga RT 04 RW 08, Jalan Rusa, Desa Sertajaya, Cikarang Timur.
Kegiatan bertajuk “Edukasi dan Sosialisasi Bahaya Kebocoran Gas Rumah Tangga Berbasis Teknologi” itu bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan LPG yang aman, langkah darurat saat terjadi kebocoran, serta pengenalan teknologi sederhana untuk deteksi dini gas.
Sosialisasi tersebut didukung oleh Program Studi Teknik Elektro Universitas Presiden yang dipimpin oleh Ir. Mia Galina, S.T., M.T., IPU. Kegiatan ini juga melibatkan dosen pembimbing, yakni Ir. Iksan Bukhori, S.T., M.Phil.; Drs. Antonius Suhartomo, M.Eng.Sc., M.M., Ph.D., dan Ir. Lukman Medriavin Silalahi, A.Md., S.T., M.T., IPM., ASEAN-Eng., APEC-Eng.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Adapun tim mahasiswa Social Project yang terlibat dalam kegiatan ini adalah Riko Meidagdo, Heppy Brawijaya, Arul, Al-Afuw Juliandara Rusian, Faiz Abdul Rahman, Mohammad Rafi Aditya, dan Rafid Farhan Musyaffa.
Dalam sosialisasi tersebut, warga diberikan pemahaman mengenai pentingnya memperhatikan kondisi tabung LPG, regulator, selang, sambungan, ventilasi dapur, serta kebiasaan penggunaan gas di rumah.
Pemasangan yang tidak tepat atau komponen yang rusak dinilai dapat meningkatkan risiko kebakaran, ledakan, gangguan pernapasan, kerusakan rumah, hingga kerugian ekonomi.
Mahasiswa juga mengingatkan warga untuk menggunakan komponen berlabel Standar Nasional Indonesia (SNI), memeriksa selang dan regulator secara berkala, menempatkan tabung di permukaan datar, serta memastikan dapur memiliki sirkulasi udara yang baik.
Salah satu materi utama yang disampaikan adalah pengenalan tanda-tanda kebocoran LPG. Tanda tersebut antara lain bau gas yang menyengat, suara mendesis di sekitar regulator, munculnya gelembung saat sambungan diuji menggunakan air sabun, gas terasa lebih cepat habis, serta perubahan warna api kompor dari biru menjadi kuning atau oranye.
Warga juga diingatkan agar tidak mencari sumber kebocoran menggunakan korek api, lilin, atau sumber api lainnya. Cara yang lebih aman adalah mengoleskan larutan air sabun pada titik sambungan.
Jika muncul gelembung yang terus membesar, penggunaan LPG harus segera dihentikan dan komponen perlu diperiksa atau diganti.
Selain itu, peserta mendapatkan penjelasan mengenai langkah darurat saat mencium bau gas. Warga diminta tetap tenang, tidak menyentuh sakelar listrik, tidak menyalakan api, tidak merokok, serta tidak menggunakan perangkat elektronik di dekat sumber kebocoran.
Langkah berikutnya adalah membuka pintu dan jendela secara manual agar udara segar masuk dan konsentrasi gas berkurang. Jika situasi masih aman dan tidak terdapat api besar, aliran gas dapat dihentikan dengan menutup katup tabung atau melepas regulator menggunakan tangan yang kering.
Namun, jika bau gas sangat pekat atau api sudah membesar, penghuni rumah diminta segera mengevakuasi diri dan menghubungi bantuan darurat dari lokasi yang aman.
Dalam kegiatan tersebut, tim mahasiswa juga memperkenalkan teknologi deteksi gas menggunakan sensor MQ-2. Sensor ini dapat merespons keberadaan gas mudah terbakar seperti LPG, butana, propana, dan asap.
Pada sesi demonstrasi, sensor MQ-2 dihubungkan dengan LED dan buzzer sebagai alarm peringatan. Ketika konsentrasi gas melewati ambang batas tertentu, alarm akan aktif. Tim pelaksana menjelaskan bahwa rangkaian tersebut digunakan sebagai media edukasi untuk memahami prinsip deteksi gas.
Meski demikian, untuk penggunaan permanen di rumah, masyarakat tetap dianjurkan menggunakan detektor gas yang sesuai standar, dipasang sesuai petunjuk pabrikan, dan dirawat secara berkala.
Kegiatan berlangsung interaktif melalui pemaparan materi, diskusi, sesi tanya jawab, serta penyampaian contoh tindakan yang dapat dilakukan di rumah. Peserta juga diajak membagikan informasi keselamatan penggunaan LPG kepada anggota keluarga dan tetangga.
Pada akhir kegiatan, warga didorong menjalankan tiga komitmen sederhana, yakni memeriksa kondisi LPG secara rutin, melatih anggota keluarga mengenai langkah darurat, dan menyebarkan informasi keselamatan kepada masyarakat sekitar.
Sosialisasi ini turut melibatkan pengurus lingkungan, Karang Taruna PESPA, serta warga setempat. Melalui kegiatan tersebut, Program Studi Teknik Elektro Universitas Presiden berharap masyarakat semakin terbiasa melakukan pemeriksaan sebelum menggunakan LPG, memakai komponen yang layak, menghindari tindakan yang memicu percikan api, serta mengutamakan evakuasi ketika kondisi tidak aman.
Pesan utama yang disampaikan dalam kegiatan ini adalah, “Kenali Tanda, Cegah Bahaya, LPG Aman, Keluarga Nyaman”.



























