JEJAKNARASI.ID, TANGERANG – Stroke selama ini sering kali diidentikkan sebagai penyakitnya para lansia. Namun, beberapa tahun belakangan, tren medis menunjukkan pergeseran yang cukup mengkhawatirkan. Kasus stroke kini semakin marak menyerang kelompok usia produktif dan dewasa muda di Indonesia.
Fenomena ini bukan sekadar mitos. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melalui Survei Kesehatan Indonesia (SKI) mencatat angka prevalensi stroke nasional berada di angka 8,3 per 1.000 penduduk.
Dari total kasus tersebut, berbagai studi klinis menunjukkan bahwa sekitar 10% hingga 14% serangan stroke justru dialami oleh kelompok usia muda di rentang 18 hingga 50 tahun. Bahkan, indikasi serangan awal sudah mulai ditemukan pada remaja usia 15–24 tahun.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lantas, mengapa usia muda kini rentan terserang stroke, dan bagaimana cara mendeteksi serta mencegahnya?
Memahami Kategori Stroke di Usia Produktif
Secara umum, stroke terjadi ketika pasokan darah ke otak terganggu akibat adanya sumbatan atau pecahnya pembuluh darah. Menurut Dokter Spesialis Saraf dari RS Sari Asih Karawaci, dr. Gogor Meisadona, Sp.N, stroke pada usia muda secara garis besar dibagi menjadi dua jenis:
- Stroke Iskemik (Sumbatan): Terjadi akibat adanya plak kolesterol atau gumpalan darah yang menyumbat aliran darah ke jaringan otak.
- Stroke Hemoragik (Perdarahan): Terjadi ketika pembuluh darah di otak pecah, menyebabkan darah merembes dan menekan jaringan saraf di sekitarnya.
“Pada pasien usia muda, kedua jenis stroke ini sama-sama perlu diwaspadai, dan kasus stroke perdarahan pada usia produktif di Indonesia tergolong cukup tinggi dan fatal karena sering kali mengabaikan kondisi medis yang ada,” jelas dr. Gogor.
Hipertensi: Faktor Utama Terbanyak Stroke Usia Muda
Dari sekian banyak faktor risiko seperti kolesterol tinggi, diabetes, hingga obesitas ada satu faktor utama yang menjadi pemicu terbesar serangan stroke pada generasi muda.
“Salah satu faktor utama yang sering ditemui pada kasus stroke usia muda adalah akibat Hipertensi atau tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol,” ungkap dr. Gogor Meisadona, Sp.N.
Data rekam medis secara nasional mengonfirmasi bahwa 42% hingga 85% pasien stroke usia produktif memiliki riwayat hipertensi. Mengapa hal ini bisa terjadi pada anak muda? Berikut beberapa alasannya:
- Menjadi Silent Killer: Banyak anak muda merasa tubuhnya bugar, sehingga jarang melakukan kontrol tekanan darah. Mereka tidak sadar bahwa tensinya sudah di atas 140/90 mmHg (kronis)
- Kerusakan Pembuluh Darah: Tekanan darah yang tinggi secara terus-menerus akan menghantam dinding pembuluh darah otak, membuatnya kaku, menyempit, atau bahkan menipis hingga rentan pecah.
- Gaya Hidup “Modern” yang Buruk: Hipertensi di usia muda dipicu oleh tingginya konsumsi natrium (garam) dari makanan instan atau junk food, kebiasaan merokok dan vaping, kurang tidur (begadang), serta tingkat stres psikologis yang tinggi akibat beban kerja.
Langkah Pencegahan Stroke Sejak Dini
Kabar baiknya, stroke pada usia muda adalah kondisi yang sangat bisa dicegah. dr. Gogor Meisadona, Sp.N, membagikan beberapa tips pencegahan utama yang bisa diterapkan oleh kelompok usia produktif mulai hari ini:
1. Rutin Melakukan Cek Tensi (Skrining Awal)
Jangan tunggu sampai muncul gejala pusing atau kaku di leher. Lakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala, minimal satu bulan sekali. Jika Anda memiliki riwayat keluarga dengan hipertensi, pemeriksaan harus dilakukan lebih disiplin.
2. Batasi Konsumsi Garam dan Makanan Instan
Kurangi konsumsi makanan tinggi natrium, makanan cepat saji, dan minuman dengan kadar gula tinggi (sugar craving). Perbanyak konsumsi serat dari sayur dan buah untuk menjaga kelenturan pembuluh darah.
3. Jaga Pola Istirahat dan Kelola Stres
Kurang tidur kronis dan stres tinggi dapat memicu lonjakan hormon kortisol yang berdampak pada penyempitan pembuluh darah dan kenaikan tensi secara mendadak. Pastikan tidur cukup 7–8 jam sehari.
4. Aktif Bergerak (Olahraga Teratur)
Luangkan waktu untuk berolahraga minimal 150 menit per minggu (misalnya jalan cepat, bersepeda, atau latihan beban ringan). Ini penting, karena olahraga dapat membantu menjaga berat badan agar ideal dan mengontrol tekanan darah.
5. Hindari Rokok dan Vaping
Zat kimia dalam rokok konvensional maupun rokok elektrik dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah (endotel) secara instan, mempercepat penumpukan plak, dan memicu penggumpalan darah ke otak.
Metode “FAST” untuk Pertolongan Darurat
Di akhir penjelasannya, dr. Gogor Meisadona, Sp.N, menekankan pentingnya mengenali gejala awal stroke secara cepat guna memanfaatkan Golden Hour (periode emas penanganan medis di bawah 4,5 jam setelah serangan). Gunakan metode FAST:
- F (Face drooping): Salah satu sisi wajah terlihat turun atau tidak simetris saat tersenyum.
- A (Arm weakness): Salah satu lengan terasa lemas, mati rasa, atau tidak bisa diangkat.
- S (Speech difficulty): Bicara menjadi cadel, tidak jelas, atau kesulitan memahami perkataan.
- T (Time to call 112 / RS): Jika mendapati salah satu gejala di atas secara mendadak, segera bawa pasien ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit terdekat.
“Stroke saat ini bukan lagi penyakit orang tua. Untuk itu jaga pembuluh darah sejak muda dengan gaya hidup sehat, karena mencegah jauh lebih baik daripada pengobatan,” tutup dr. Gogor.
























