JAKARTA, JEJAKNARASI.ID – Sebuah tren mengkhawatirkan tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial dan kalangan medis: peningkatan drastis kasus diabetes tipe 2 pada usia produktif.
Tagar seperti #CuciDarahUsiaMuda dan #Diabetes20an ramai diperbincangkan, menyusul banyaknya kesaksian pasien muda yang harus menjalani hemodialisis (cuci darah) secara rutin.
Fenomena ini membantah anggapan lama bahwa diabetes hanya menyerang lansia. Data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat lonjakan kasus diabetes pada anak dan remaja hingga 70 kali lipat pada tahun 2023 dibandingkan dengan tahun 2010.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, laporan BPJS Kesehatan menunjukkan biaya untuk penanganan penyakit katastropik, dengan gagal ginjal sebagai salah satu komplikasi diabetes, terus membengkak dan menjadi beban terbesar dalam pembiayaan jaminan kesehatan nasional.
Akar Masalah: Kombinasi Gaya Hidup Kurang Gerak dan Konsumsi Gula Berlebih
Para ahli kesehatan menyoroti, perubahan gaya hidup merupakan dalang utama di balik tren mengerikan ini. Pola makan tinggi gula, garam, dan lemak (GGL) yang dipasarkan secara masif, terutama di platform daring dan layanan pesan antar, menjadi racun yang dikonsumsi sehari-hari.
Minuman dengan pemanis dalam kemasan (MBDK) menjadi sorotan paling tajam. Harganya yang murah, promosi yang gencar, dan rasanya yang adiktif membuat banyak orang tanpa sadar mengonsumsi gula melebihi batas harian.
Satu gelas minuman boba atau kopi susu kekinian bisa mengandung hingga 40-60 gram gula, jauh melampaui rekomendasi Kementerian Kesehatan yang hanya 50 gram gula tambahan per hari untuk satu orang.
Gejala yang Kerap Diabaikan
Banyak anak muda yang tidak menyadari bahwa mereka sudah mengidap diabetes.
Gejala klasik seperti sering haus (polidipsia), sering buang air kecil (poliuria), penurunan berat badan drastis tanpa sebab, serta mudah lelah seringkali dianggap sebagai keluhan biasa akibat kesibukan bekerja.
Para aktivis kesehatan dan komunitas online kini ramai-ramai mengkampanyekan gerakan #MinumAirPutih dan #LessSugarChallenge, mengajak anak muda untuk beralih dari minuman berpemanis ke air putih, teh tawar, atau infused water.
Mereka berharap, kesadaran yang muncul dari viralnya kasus ini tidak bersifat sementara, melainkan menjadi perubahan gaya hidup permanen demi masa depan yang lebih sehat. ***
































