JAKARTA, JEJAKNARASI.ID — Tren kesehatan bertajuk “Sleepmaxxing” atau upaya mengoptimalkan kualitas tidur tengah ramai diperbincangkan di media sosial (medsos). Beragam konten membagikan cara untuk mendapatkan tidur lebih nyenyak, mulai dari penggunaan sleep tracker, konsumsi suplemen, penggunaan penutup mulut saat tidur (mouth taping), hingga rutinitas tidur ketat.
Tren ini muncul di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya tidur bagi kesehatan fisik dan mental.
Banyak pengguna media sosial membagikan pengalaman mereka mengurangi paparan layar sebelum tidur, menata kamar agar lebih gelap dan sejuk, serta membatasi konsumsi kopi pada sore hari.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski demikian, tenaga kesehatan mengingatkan masyarakat agar tidak menelan mentah-mentah semua tips yang viral. Pasalnya, beberapa metode yang populer justru berpotensi menimbulkan risiko bila dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi kesehatan masing-masing.
Salah satu praktik yang menjadi sorotan adalah penggunaan plester untuk menutup mulut saat tidur. Metode tersebut diklaim dapat mendorong seseorang bernapas melalui hidung dan mengurangi dengkuran.
Namun, cara itu tidak disarankan bagi orang yang mengalami hidung tersumbat, gangguan pernapasan, asma, atau dugaan sleep apnea. Gangguan sleep apnea sendiri ditandai dengan dengkuran keras, napas yang terhenti sesaat saat tidur, sering terbangun di malam hari, hingga rasa lelah berlebihan pada siang hari.
Kondisi tersebut membutuhkan pemeriksaan medis dan tidak dapat diatasi hanya dengan mengikuti tren internet.
Selain itu, penggunaan suplemen tidur seperti melatonin, magnesium, maupun produk herbal juga perlu dilakukan secara hati-hati. Suplemen tidak selalu cocok untuk setiap orang dan dapat berinteraksi dengan obat tertentu.
Masyarakat disarankan berkonsultasi dengan dokter atau apoteker sebelum mengonsumsinya secara rutin. Para ahli menekankan bahwa cara paling aman untuk meningkatkan kualitas tidur tetap berfokus pada kebiasaan dasar.
Masyarakat dianjurkan tidur dan bangun pada jam yang konsisten, mengurangi konsumsi kafein menjelang malam, membatasi penggunaan gawai sebelum tidur, serta menciptakan suasana kamar yang nyaman, gelap, dan tenang.
Aktivitas fisik secara teratur pada siang atau sore hari juga dapat membantu tubuh lebih siap beristirahat pada malam hari. Namun, olahraga berat terlalu dekat dengan jam tidur dapat membuat sebagian orang justru sulit terlelap.
Tren Sleepmaxxing dinilai positif apabila mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap pola tidur. Namun, masyarakat perlu membedakan antara kebiasaan sehat yang berbasis rekomendasi medis dan tren viral yang belum tentu aman.
Bagi mereka yang mengalami sulit tidur berkepanjangan, sering terbangun, mendengkur keras, atau tetap merasa lelah meski telah tidur cukup, pemeriksaan ke tenaga kesehatan menjadi langkah yang lebih tepat daripada mencoba berbagai metode viral secara mandiri. ***
































