Begini Sikap dan Rekomondasi SPI Saat RDPU Bersama Komisi VI DPR Soal Revisi UU Pangan

Begini Sikap dan Rekomondasi SPI Saat RDPU Bersama Komisi VI DPR Soal Revisi UU Pangan

- Author

Kamis, 20 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 Ketua Umum SPI. 
 Henry Saragih bersama jajaran pengurus, saat mengikuti RDPU dengan Komisi IV DPR RI. (Foto; Ist)

Ketua Umum SPI. Henry Saragih bersama jajaran pengurus, saat mengikuti RDPU dengan Komisi IV DPR RI. (Foto; Ist)

JEJAKNARASI.ID. JAKARTA – Serikat Petani Indonesia (SPI) menghadiri undangan Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi IV DPR RI pada Senin 17 November 2025, bertempat di Gedung DPR RI, Jakarta.

Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, bersama dua Wakil Ketua Komisi IV DPR RI yaitu Alex Indra Lukman (PDIP) dan Ahmad Yohan (PAN) serta delegasi SPI yang dipimpin oleh Henry Saragih selaku Ketua Umum SPI. 

RDP tersebut bertujuan guna menyampaikan pandangan, kritik, dan rekomendasi petani terhadap pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pangan yang saat ini sedang digodok DPR RI.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam kesempatan tersebut, SPI  mengatakan jika revisi UU Pangan harus berlandaskan prinsip kedaulatan pangan, dengan mengakui petani dan produsen pangan. Baik itu skala besar maupun skala kecil lainnya.

Selain itu, SPI juga mengemukakan,  UU Cipta Kerja telah melemahkan UU Pangan Nomor 18 Tahun 2012, dengan menjadikan impor setara dengan produksi nasional.

Akibatnya, negara menyerahkan urusan pangan kepada mekanisme pasar global dan mengabaikan fungsi pengaturan serta perlindungan terhadap produsen pangan dalam negeri, terutama petani.

Padahal, UU Pangan No. 18 Tahun 2012 telah menegaskan prinsip prioritas pengadaan dari produksi domestik dan hanya memperbolehkan impor ketika produksi nasional dan cadangan tidak mencukupi.

UU Cipta Kerja  menghapus prinsip prioritas ini, yang menjadi kemunduran dari cita-cita kedaulatan pangan nasional. Kedaulatan pangan seharusnya berarti kemampuan bangsa memenuhi kebutuhan pangannya dari produksi sendiri, bukan menjadikan impor sebagai solusi permanen.

Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, menyambut masukan yang disampaikan pada RDPU ini. Titiek juga menyampaikan, seluruh pandangan tersebut akan ditampung dalam proses pembahasan RUU Pangan. 

Baca Juga :  Soal Usulan Pemilihan Kepala Daerah Melalui DPRD, Ketua Komisi II DPR Sebut Miliki Konstitusi yang Kuat

“Masukan – masukan ini akan kami tamping, kami juga sepakat bahwa impor harus secapat mungkin tidak kita lakukan lagi. Presiden sudah bertekad untuk tidak ada impor dalam waktu sesingkat – singkatnya,” pungkasnya.

 

Dalam rapat tersebut, SPI mengemukakan sejumlah poin strategis untuk penguatan UU Pangan sebagai berikut:

  1. Definisi Kedaulatan Pangan; Mempertahankan definisi kedaulatan pangan sebagaimana yang tercantum dalam UU Pangan yang lama. Kedaulatan pangan sebagai ‘wujud tertinggi’ pemenuhan pangan di Indonesia, bukan ‘Ketahanan Pangan’ ataupun ‘Swasembada Pangan’.
  1. Hak Petani atas Benih; Mengikuti pasal 19 dalam UNDROP tentang pengakuan hak petani untuk menyimpan, menanam, menukar, dan menjual benih lokal. Upaya untuk privatisasi dan komersialisasi benih, seperti yang diagendakan dalam UPOV harus ditolak oleh pemerintah karena menjadi ancaman bagi petani kecil.
  1. Akses terhadap Sumer-sumber Agraria; Hak atas tanah, hak atas air, dan kawasan yang sehat. Hal ini harus selaras dengan program reforma agraria sebagai upaya meredistribusi tanah untuk petani, dan memberikan jaminan hak atas tanah. Begitu juga untuk perlindungan konversi tanah pertanian produktif tidak terjadi secara masif.
  1. Komitmen terhadap Agroekologi sebagai Metode Pangan; Mengatur peta jalan transisi pertanian ke arah pertanian agroekologi, dan mengurangi ketergantungan terhadap input kimia. Termasuk juga skema insentif (subsidi, pelatihan, teknologi) untuk produksi pangan berkelanjutan.
  1. Kebijakan Impor Pangan; Mempertahankan substansi di UU pangan yang lama, dimana terdapat prioritas dan perlindungan bagi pangan lokal. Impor hanya jika produksi domestik tidak mencukupi.
  1. Infrastruktur; Komitmen untuk memperkuat infrastruktur pendukung seperti irigasi, akses pasar, penyimpanan hasil pertanian, dan transportasi di pedesaan. Alokasikan anggaran khusus untuk pembangunan sektor pertanian. Serta memprioritaskan pengadaan kepada koperasi petani. (eki)

 

Berita Terkait

Menko Pangan Resmikan PSEL Bogor Raya 1, SUCOFINDO Dukung Percepatan Penanganan Darurat Sampah Nasional
276 Young Leaders PFmuda 2026 Ditantang Ubah Masalah Menjadi Solusi Berdampak melalui Case Challenge
KPK Dalami Dugaan Aliran Suap ATR/BPN Ratusan Miliar ke Kegiatan Muktamar Agustus Lalu
KPK Dalami Dugaan Keterlibatan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Ratusan Miliar di ATR/BPN
KPK Buka Peluang Bidik Proyek Pagar Laut Pasca Bongkar Skandal Dugaan Suap di ATR/BPN
Nursyahwa Syakila, Peserta Netra MTQ Nasional XXXI yang Hafal 30 Juz Lewat Metode Audio
Ini Alasan BPK Tidak Jadikan Kepala BPN Kota Tangerang Tersangka Kasus Suap HGB Ratusan Miliar
KPK Buka Peluang Jadikan PT Sumarrecon Tbk Tersangka Korporasi Perkara Dugaan Suap HGB Ratusan Miliar
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari JEJAKNARASI.ID di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan click tanda bintang.

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 16:16 WIB

Menko Pangan Resmikan PSEL Bogor Raya 1, SUCOFINDO Dukung Percepatan Penanganan Darurat Sampah Nasional

Kamis, 17 September 2026 - 15:24 WIB

KPK Dalami Dugaan Aliran Suap ATR/BPN Ratusan Miliar ke Kegiatan Muktamar Agustus Lalu

Kamis, 17 September 2026 - 13:23 WIB

KPK Dalami Dugaan Keterlibatan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Ratusan Miliar di ATR/BPN

Kamis, 17 September 2026 - 12:19 WIB

KPK Buka Peluang Bidik Proyek Pagar Laut Pasca Bongkar Skandal Dugaan Suap di ATR/BPN

Kamis, 17 September 2026 - 08:56 WIB

Nursyahwa Syakila, Peserta Netra MTQ Nasional XXXI yang Hafal 30 Juz Lewat Metode Audio

Berita Terbaru

Ekonomi & Bisnis

Harddies Cargo Fokus Kembangkan Layanan Pengiriman Cargo Jakarta–Batam

Jumat, 18 Sep 2026 - 15:06 WIB