OPINI, JEJAKNARASI.ID – Siapa di antara kita yang tidak pernah belanja online? Lewat ponsel di genggaman, kita bisa membeli apa saja tanpa perlu keluar rumah. Namun, karena kita tidak bisa melihat dan memegang barangnya langsung, satu-satunya panduan kita sebelum menekan tombol “Beli” adalah kolom ulasan (review) dan rating bintang lima. Sayangnya, panduan yang kita percayai ini sekarang mulai dikotori oleh maraknya jebakan ulasan palsu (fake review).
Demi membuat dagangannya terlihat laku keras secara instan, banyak penjual nakal yang menyewa jasa orang lain untuk memberikan pujian palsu. Foto-foto produk yang bagus dan komentar-komentar manis di kolom ulasan itu sering kali hanyalah rekayasa. Fenomena ini bukan lagi sekadar trik dagang biasa, melainkan bentuk kebohongan terstruktur yang merugikan banyak orang.
Dalam aturan jual beli agama kita (muamalah), transaksi digital yang berkah itu wajib modal utama: kejujuran dan keterbukaan. Kolom ulasan di aplikasi belanja itu posisinya sama seperti mata kita di pasar tradisional. Jika ulasan tersebut dipalsukan, artinya penjual sedang menutup mata pembeli dengan kain kebohongan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pembeli yang mengira telah mendapatkan barang bermutu bagus, nyatanya terpedaya oleh ribuan jempol fiktif di layar ponsel. Ketika unsur kejujuran ini hilang, maka keikhlasan dalam jual beli pun ikut rusak, dan keuntungan yang didapat dari menipu orang lain tentu akan kehilangan berkahnya.
Sayangnya, banyak dari kita yang menormalisasi hal ini dengan dalih “namanya juga usaha”. Padahal, membiarkan perdagangan digital dipenuhi kepalsuan adalah racun bagi ekonomi masyarakat. Aplikasi belanja online besar juga tidak boleh lepas tangan dan harus lebih ketat menyapu bersih toko-toko yang memelihara ulasan palsu ini.
Teknologi internet diciptakan untuk mempermudah hidup kita, bukan untuk mempermudah cara kita membohongi sesama. Sudah saatnya masyarakat menjadi pembeli yang kritis, dan para pelaku usaha kembali pada etika dagang yang luhur.
Sebab pada akhir cerita, kesuksesan sebuah bisnis tidak pernah diukur dari seberapa banyak bintang lima palsu yang berhasil dikumpulkan di aplikasi, melainkan dari seberapa besar kepercayaan konsumen yang mampu kita jaga dengan kejujuran di dunia nyata.
Penulis : Fajariah, Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Darussalam Martapura Kalsel
























