OPINI, JEJAKNARASI.ID – Gelar S1 masih punya tempat penting di dunia kerja. Sampai hari ini, masih banyak lowongan yang mencantumkan pendidikan minimal sarjana sebagai salah satu syarat utama.
Untuk beberapa profesi, gelar bahkan bukan sekadar pelengkap, tetapi memang menjadi bagian dari standar kompetensi. Namun di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat, gelar S1 perlahan bukan lagi satu-satunya hal yang menentukan seseorang dianggap siap bekerja.
Masalahnya, dunia kampus dan dunia kerja sering berjalan dengan ritme yang berbeda. Di kampus, mahasiswa terbiasa dengan tugas, presentasi, ujian, dan teori. Setelah lulus, yang ditanyakan perusahaan justru sering lebih sederhana: kamu bisa mengerjakan apa?
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perusahaan ingin tahu apakah seseorang bisa berkomunikasi dengan baik, bekerja dalam tim, menyelesaikan masalah, menggunakan teknologi yang dibutuhkan, beradaptasi dengan pekerjaan baru, sampai bertanggung jawab terhadap target. Hal-hal seperti ini tidak selalu bisa terlihat hanya dari gelar yang tertulis di belakang nama.
Itulah kenapa kita sering melihat situasi yang terasa sedikit ironis. Seseorang sudah menempuh pendidikan selama empat tahun, tetapi ketika masuk proses rekrutmen masih kebingungan membuat CV, mengirim email lamaran, memperkenalkan diri saat wawancara, atau menjelaskan kemampuan yang dimiliki. Bukan berarti kuliah tidak berguna, tetapi ada jarak yang cukup besar antara apa yang dipelajari dengan apa yang kemudian dibutuhkan di dunia kerja.
Di sisi lain, persaingan kerja juga sudah berubah. Dulu gelar sarjana mungkin bisa menjadi pembeda yang cukup besar. Sekarang jumlah lulusan perguruan tinggi terus bertambah. Ketika hampir semua kandidat sama-sama punya gelar S1, perusahaan akhirnya membutuhkan pembeda lain.
Pengalaman organisasi, magang, portofolio, kemampuan komunikasi, sertifikasi, kemampuan menggunakan perangkat tertentu, sampai proyek yang pernah dikerjakan akhirnya menjadi semakin penting. Dua kandidat bisa memiliki gelar yang sama, bahkan berasal dari jurusan yang sama, tetapi kemampuan mereka ketika masuk dunia kerja bisa sangat berbeda.
Karena itu, pertanyaan tentang relevansi gelar S1 sebenarnya bukan soal apakah kuliah masih penting atau tidak. Kuliah tetap penting. Pendidikan tinggi memberikan dasar berpikir, membuka akses terhadap pengetahuan, memperluas jaringan, dan untuk banyak pekerjaan masih menjadi syarat yang dibutuhkan. Yang berubah adalah posisi gelar itu sendiri.
Gelar S1 mungkin bisa membantu seseorang masuk ke pintu pertama, tetapi setelah pintu itu terbuka, perusahaan tetap ingin melihat kemampuan nyata. Gelar bisa membuat CV dilirik, tetapi belum tentu membuat seseorang langsung dianggap kompeten. Pada akhirnya, dunia kerja tetap menilai bagaimana seseorang bekerja, belajar, beradaptasi, dan memberikan hasil.
Ini juga menjadi tantangan bagi mahasiswa. Kuliah seharusnya tidak hanya dipandang sebagai proses mengejar ijazah. Empat tahun di perguruan tinggi mestinya juga menjadi waktu untuk mencoba banyak hal, membangun pengalaman, mengenali bidang yang ingin ditekuni, dan mulai mengembangkan kemampuan yang memang dibutuhkan setelah lulus.
Magang bukan hanya untuk memenuhi SKS. Organisasi bukan sekadar menambah isi CV. Proyek pribadi juga bukan sesuatu yang harus menunggu setelah lulus. Semua pengalaman itu bisa menjadi ruang untuk belajar menghadapi kondisi yang lebih dekat dengan dunia nyata.
Perusahaan pun perlu melihat persoalan ini dengan lebih terbuka. Tidak semua pekerjaan membutuhkan gelar tertentu. Kalau sebuah posisi sebenarnya lebih membutuhkan keterampilan teknis, pengalaman, dan kemampuan belajar, syarat pendidikan seharusnya tidak selalu menjadi pagar pertama yang menutup kesempatan seseorang.
Pada akhirnya, gelar S1 masih relevan. Tetapi gelar tidak lagi cukup berdiri sendiri.
Dunia kerja hari ini tidak hanya melihat dari mana seseorang lulus atau gelar apa yang dimiliki. Semakin sering, pertanyaan yang muncul justru lebih praktis: “Kamu bisa apa?”
Dan mungkin itu yang perlu mulai dipikirkan bahkan sebelum wisuda tiba.
Penulis : Najib Haidi Lutfillah
































