OPINI, JEJAKNARASI.ID – Awalnya hanya ikut karena diajak teman. Setiap bulan tinggal transfer, lalu menunggu giliran. Tidak perlu bertemu, tidak perlu repot. Namun, bagaimana jika suatu hari admin tiba-tiba menghilang?
Pertanyaan seperti ini mungkin terdengar sederhana, tetapi bukan sesuatu yang mustahil terjadi. Di tengah kemudahan teknologi, arisan yang dahulu dilakukan dengan pertemuan langsung kini dapat berlangsung hanya melalui grup WhatsApp. Peserta cukup menyetor uang melalui transfer dan menunggu namanya mendapatkan giliran.
Arisan memang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Bukan hanya soal uang, arisan juga menjadi ruang untuk bersilaturahmi, berkumpul, dan saling membantu. Namun, ketika arisan berpindah ke ruang digital, pola hubungan di dalamnya ikut berubah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kita mungkin mengenal orang yang mengajak, tetapi belum tentu mengenal semua peserta. Bahkan, terkadang kita tidak benar-benar mengetahui siapa yang mengelola uang dan bagaimana dana tersebut disimpan.
Di sinilah masalah bisa muncul. Pada awalnya semua berjalan lancar. Peserta rutin membayar, admin memberikan laporan, dan penerima mendapatkan uang sesuai jadwal. Tetapi keadaan bisa berubah ketika ada peserta yang mulai terlambat membayar, berhenti menyetor setelah mendapatkan giliran, atau pengelola tiba-tiba sulit dihubungi.
Masalah menjadi semakin besar ketika uang yang terkumpul tidak sedikit. Peserta yang belum mendapatkan giliran tentu merasa dirugikan karena sudah memenuhi kewajibannya, tetapi haknya belum diterima.kebanyakan orang baru memikirkan risiko setelah masalah terjadi.
Padahal, sebelum ikut arisan, ada beberapa hal sederhana yang seharusnya ditanyakan. Siapa pengelolanya? Berapa jumlah peserta? Berapa besar setoran? Bagaimana urutan penerimaan? Kapan pembayaran dilakukan? Bagaimana jika ada peserta yang tidak membayar? Dan bagaimana penyelesaian jika terjadi perselisihan?
Pertanyaan tersebut bukan tanda bahwa kita tidak percaya kepada teman. Justru, kejelasan aturan dapat menjaga hubungan agar tetap baik.
Menyimpan bukti transfer dan kesepakatan juga bukan berarti hubungan pertemanan harus dipenuhi kecurigaan. Ketika semua berjalan lancar, mungkin tidak ada yang mempermasalahkannya. Tetapi ketika terjadi persoalan, catatan tersebut dapat membantu memastikan bahwa setiap orang memahami hak dan kewajibannya.
Masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap arisan online yang menawarkan keuntungan besar dalam waktu singkat. Tidak semua kegiatan yang menggunakan nama “arisan” benar-benar merupakan arisan. Ada kemungkinan istilah tersebut hanya digunakan untuk menarik orang agar menyerahkan uang.
Karena itu, jangan mudah tergiur hanya karena yang mengajak adalah teman sendiri atau karena banyak orang sudah bergabung. Banyaknya peserta tidak selalu menjadi jaminan bahwa sebuah arisan aman.
Bagaimana Islam Memandangnya?
Dalam perspektif hukum Islam, arisan sebagai kegiatan muamalah pada dasarnya dapat dilakukan selama mekanismenya jelas, dilakukan atas dasar kerelaan, serta tidak mengandung unsur yang dilarang.
Yang paling penting adalah adanya amanah dan kejelasan kesepakatan. Uang yang dikumpulkan bukanlah milik pengelola sepenuhnya. Di dalamnya terdapat hak peserta lain yang harus dijaga.
Peserta yang telah mendapatkan giliran juga tetap memiliki kewajiban memenuhi kesepakatan sampai seluruh kewajibannya selesai. Jangan sampai setelah menerima uang, kewajiban kepada peserta lain justru dilupakan.
Prinsip Islam dalam bermuamalah mengajarkan agar urusan harta dilakukan secara jelas dan tidak menimbulkan perselisihan. Karena itu, mekanisme arisan sebaiknya disepakati sejak awal, termasuk jumlah setoran, jadwal pembayaran, urutan penerimaan, serta penyelesaian apabila terjadi masalah.
Sebenarnya, arisan online bukan sekadar kegiatan mengumpulkan uang dan menunggu giliran. Di dalamnya ada kepercayaan, tanggung jawab, dan amanah.
Teknologi memang membuat arisan menjadi lebih praktis. Tetapi jangan sampai kemudahan transfer membuat kita lupa untuk memastikan kepada siapa uang diberikan dan bagaimana uang tersebut dikelola. Sebab ketika arisan bermasalah, yang hilang bukan hanya uang. Kepercayaan bisa ikut hilang, dan silaturahmi yang sudah dibangun bertahun-tahun bisa ikut tersayat.
Penulis : Fajariah, Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Darussalam Martapura Kalsel
































