Keracunan Makanan? Berikut Panduan Penanganan dan Pencegahannya dari Dokter RS Sari Asih Bintaro

Keracunan Makanan? Berikut Panduan Penanganan dan Pencegahannya dari Dokter RS Sari Asih Bintaro

- Author

Selasa, 15 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ilustrasi

Foto: Ilustrasi

TANGSEL, JEJAKNARASI.ID – Keracunan makanan kerap kali dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa yang bisa sembuh dengan sendirinya. Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa makanan yang tidak aman dapat memicu lebih dari 200 jenis penyakit.

Menurut dr. Muhammad Fadil dari RS Sari Asih Bintaro, keracunan makanan harus segera dicurigai ketika keluhan saluran pencernaan muncul setelah seseorang mengonsumsi makanan atau minuman tertentu.

“Gejala yang paling sering muncul adalah mual, muntah, diare, kram atau nyeri perut, dan pada sebagian kasus dapat disertai demam. Tingkat keparahannya dapat berbeda pada setiap orang,” ujar dr. Muhammad Fadil.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Memahami Akar Masalah dan Gejala

WHO menjelaskan bahwa penyakit akibat makanan umumnya dipicu oleh mikroorganisme seperti bakteri (Salmonella, Campylobacter, hingga E. coli), virus, parasit, maupun kontaminasi zat kimia berbahaya.

Kontaminasi ini dapat terjadi di berbagai tahapan mulai dari produksi, pengolahan, penyimpanan, hingga penyajian serta diperparah oleh kontaminasi silang antara bahan mentah dan makanan matang.

Peringatan Dehidrasi: Muntah dan diare berulang dapat menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit. Kondisi ini memicu dehidrasi yang harus sangat diwaspadai, terutama pada anak-anak, lansia, serta pemilik kondisi kesehatan tertentu.

Langkah Tepat Mengatasi Keracunan Makanan

Pada kasus ringan, fokus penanganan utama adalah memastikan tubuh mendapatkan asupan cairan yang cukup secara bertahap. Larutan oralit sangat disarankan untuk mengganti elektrolit yang hilang akibat diare.

  • Atur Asupan: dr. Muhammad Fadil mengingatkan agar pasien tidak memaksakan makan dalam jumlah banyak saat masih mual. “Yang lebih penting adalah menjaga asupan cairan. Setelah kondisi mulai membaik, makanan bisa diberikan kembali secara bertahap,” jelasnya.
  • Hindari Antibiotik Sembarangan: Masyarakat diimbau untuk tidak minum antibiotik tanpa resep dokter, sebab tidak semua penyakit makanan disebabkan oleh bakteri atau membutuhkan antibiotik.
  • Kapan Harus ke Dokter? Segera cari pertolongan medis jika muntah/diare terus-menerus, tubuh sangat lemas, sulit minum, mengalami nyeri perut hebat, BAB berdarah, atau demam tinggi.
Baca Juga :  Dokter RS Sari Asih Bintaro Peringatkan Bahaya Komplikasi Tipes, Ini Alasannya!

“Jangan menunggu sampai semakin lemas. Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan,” tegas dr. Muhammad Fadil.

5 Kunci Pencegahan Pangan ala WHO

Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Berdasarkan panduan Five Keys to Safer Food dari WHO, berikut langkah sederhana yang dapat diterapkan sehari-hari:

  1. Menjaga Kebersihan: Biasakan mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan, sebelum makan, serta usai dari toilet.
  2. Memisahkan Pangan Mentah dan Matang: Gunakan alat yang bersih untuk menghindari kontak langsung antara bahan mentah dan makanan siap saji.
  3. Memasak hingga Matang Sempurna: Pastikan daging, unggas, telur, dan hidangan laut dimasak matang untuk mematikan mikroorganisme berbahaya.
  4. Menyimpan di Suhu Aman: Jangan biarkan makanan matang terlalu lama di suhu ruang; segera simpan makanan yang mudah rusak pada suhu yang sesuai.
  5. Memakai Air dan Bahan Aman: Pilih bahan pangan berkualitas, cek tanggal kedaluwarsa, dan pastikan air untuk minum serta memasak benar-benar aman.

Ditekankan dr. Muhammad Fadil, bahwa pencegahan berawal dari kebiasaan-kebiasaan kecil di dapur.

“Pencegahan sebenarnya dimulai dari hal sederhana, yaitu menjaga kebersihan, mengolah makanan dengan benar dan menyimpan makanan secara aman. Kalau sudah muncul gejala berat, segera cari pertolongan medis,” pungkasnya.

Berita Terkait

Vaksin Meningitis Jadi Syarat Umrah, Kapan Waktu yang Tepat?
Dokter Spesialis Jiwa RS Sari Asih Bintaro Beri Solusi Soal Gawai Berlebihan Bisa Ganggu Tidur Anak
Skin Analyzer Bisa Deteksi Masalah Kulit yang Tak Terlihat, Dokter RS Sari Asih Jelaskan Fungsinya
Dokter RS Sari Asih Bintaro Peringatkan Bahaya Komplikasi Tipes, Ini Alasannya!
Waspada ‘Angin Duduk’: Tips Aman Berolahraga di Tengah Aktivitas Padat untuk Usia 40 Tahun ke Atas
Waspada! Tinggi Badan Berkurang pada Lansia Bisa Jadi Tanda Osteoporosis
Mengenal Terapi Radio Frekuensi dan Manfaatnya Bagi Penderita Nyeri Lutut Akibat Pengapuran
Beauty, Wellness dan Pain Clinic RS Sari Asih Karawaci, Jawaban Kebutuhan Kesehatan Modern
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari JEJAKNARASI.ID di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan click tanda bintang.

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 12:12 WIB

Vaksin Meningitis Jadi Syarat Umrah, Kapan Waktu yang Tepat?

Selasa, 15 September 2026 - 14:58 WIB

Keracunan Makanan? Berikut Panduan Penanganan dan Pencegahannya dari Dokter RS Sari Asih Bintaro

Rabu, 2 September 2026 - 14:29 WIB

Dokter Spesialis Jiwa RS Sari Asih Bintaro Beri Solusi Soal Gawai Berlebihan Bisa Ganggu Tidur Anak

Jumat, 14 Agustus 2026 - 14:16 WIB

Skin Analyzer Bisa Deteksi Masalah Kulit yang Tak Terlihat, Dokter RS Sari Asih Jelaskan Fungsinya

Senin, 27 Juli 2026 - 13:31 WIB

Dokter RS Sari Asih Bintaro Peringatkan Bahaya Komplikasi Tipes, Ini Alasannya!

Berita Terbaru