Bung Karno Dalam Perspektif Teologi Ke NU-an

Bung Karno Dalam Perspektif Teologi Ke NU-an

- Author

Sabtu, 14 Desember 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JEJAKNARASI.ID – JAKARTA. Bung Karno, sebagai proklamator kemerdekaan dan presiden pertama Republik Indonesia, dikenal tidak hanya sebagai seorang negarawan, tetapi juga sebagai tokoh yang memiliki pemahaman mendalam terhadap agama.

Salah satu yang menarik dari pemikirannya adalah pandangan keagamaannya yang sejalan dengan nilai-nilai Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja) yang menjadi dasar teologi Nahdlatul Ulama (NU). Dalam tulisan ini, Saya atau kita akan mengupas bagaimana Bung Karno memandang Islam dalam perspektif yang dekat dengan teologi ke-NU-an.

Prinsip Teologi Aswaja dalam Pandangan Bung Karno

Teologi NU yang berbasis Aswaja menekankan tiga nilai utama: tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), dan ta’adul (berkeadilan). Nilai-nilai ini tercermin dalam sikap Bung Karno yang selalu mengedepankan moderasi, baik dalam politik maupun agama.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bung Karno sering mengutip ajaran Islam sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia. Sesuai dengan firman allah dalam al qur’an :

“Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”(QS. Al-Anbiya: 107)

Sebagai seorang pemimpin, Bung Karno menekankan pentingnya Islam sebagai agama pembebasan, bukan penindasan. Dalam pidatonya, ia mengatakan: “Islam adalah obor yang menerangi kegelapan zaman dan membimbing manusia menuju kemerdekaan sejati.” Pemikiran ini sejalan dengan semangat NU yang mengusung Islam rahmatan lil ‘alamin.

Tauhid dan Persatuan dalam Pemikiran Bung Karno

Bung Karno memahami tauhid sebagai inti dari ajaran Islam. Dalam bukunya Di Bawah Bendera Revolusi, ia menekankan bahwa tauhid tidak hanya bermakna keyakinan kepada Allah, tetapi juga sebagai landasan kesetaraan dan persatuan umat manusia.

Pandangan ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW:

“Kamu semua adalah anak-anak Adam, dan Adam itu diciptakan dari tanah.” (HR. Tirmidzi)

Dalam perjuangannya, Bung Karno menolak diskriminasi berbasis suku, ras, atau agama. Ia berpendapat bahwa semua manusia memiliki hak yang sama sebagai ciptaan Allah. Kesetaraan ini menjadi landasan bagi ideologi Pancasila, khususnya sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Baca Juga :  Takut Di Demo, Menkeu Purbaya Klarifikasi Ucapan 'Suara Sebagian Rakyat Kecil'

Dialog Bung Karno dengan Ulama NU

Bung Karno memiliki hubungan yang erat dengan para ulama NU. Dalam berbagai kesempatan, ia berdialog untuk memahami pandangan Islam yang moderat dan inklusif. Salah satu contoh nyata adalah dukungan NU terhadap Pancasila sebagai dasar negara.

Dalam buku Bung Karno, Islam, dan Pancasila karya Ahmad Mansur Suryanegara, dijelaskan bahwa Bung Karno melihat Pancasila sebagai manifestasi ajaran Islam yang universal. Ia sering merujuk pada perjuangan para ulama nusantara sebagai inspirasi dalam membangun bangsa.

Sebagaimana hadis Nabi SAW menyebutkan:

“Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Tirmidzi)

Bung Karno menghormati peran ulama sebagai pembimbing umat, termasuk dalam menyelaraskan ajaran agama dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Semangat Ijtihad Bung Karno dan Teologi NU

Salah satu ciri khas NU adalah kemampuan melakukan ijtihad untuk menjawab persoalan-persoalan umat. Bung Karno juga memiliki semangat serupa. Dalam bukunya Islam Sontoloyo, ia mengkritik keras praktik beragama yang kaku dan formalistik.

Bung Karno menyerukan agar umat Islam kembali kepada esensi ajaran Islam, yaitu akhlak dan keadilan. Pandangan ini sejalan dengan firman Allah:

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Melalui semangat ijtihad ini Bung Karno mengajak umat Islam untuk berpikir kritis dan progresif dalam menghadapi tantangan zaman.

Bagi saya sendiri yang lahir dalam kalangan keluarga nahdlatul ulama, Bung Karno adalah sosok pemimpin yang memahami dan menerapkan nilai-nilai teologi ke-NU-an dalam pemikiran dan tindakannya.

Ia menjadi obor bagi jiwa yang gelap, Menjadi penuntun bagi jiwa yang gersang, Ia mengajarkan prinsip moderasi, toleransi, dan keadilan, ia berhasil menciptakan harmoni antara spiritualitas Islam dan kebangsaan.

Penulis : Gus Fakhir, 14 Desember 2024.

Berita Terkait

Gaji Ke-13 PNS dan Pensiunan Belum Tentu Cair Bulan Juni 2026, Ini Dasar Hukumnya
Menteri Nusron Pastikan Pembangunan Industri di Indramayu Tidak Merambah Lahan LSD
Harga BBM Per 18 April 2026, Pertamax Turbo Naik Hampir 50 Persen
Terbitkan SP3, Polda Metro Jaya Hentikan Penyidikan 3 Tersangka Kasus Ijazah Palsu Jokowi
Jelang Musim Haji, Imigrasi Soetta Siap Layani 35 Ribu Pemberangkatan Jemaah
OJK Sebut Malahayati Consultant Bukan LJK, Tegaskan Tak Pernah Terbitkan Izin Penggunaan Logo Resmi
Kepala BGN Klaim Pengadaan Motor Operasional MBG Bukan Pemborosan, Lebih Murah Dari Harga Pasaran
Akibat Cuaca Buruk di Bandara Soekarno Hatta, Sejumlah Penerbangan Terdampak
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari JEJAKNARASI.ID di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan click tanda bintang.

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 21:15 WIB

Menteri Nusron Pastikan Pembangunan Industri di Indramayu Tidak Merambah Lahan LSD

Sabtu, 18 April 2026 - 11:28 WIB

Harga BBM Per 18 April 2026, Pertamax Turbo Naik Hampir 50 Persen

Jumat, 17 April 2026 - 20:51 WIB

Terbitkan SP3, Polda Metro Jaya Hentikan Penyidikan 3 Tersangka Kasus Ijazah Palsu Jokowi

Kamis, 16 April 2026 - 23:48 WIB

Jelang Musim Haji, Imigrasi Soetta Siap Layani 35 Ribu Pemberangkatan Jemaah

Selasa, 14 April 2026 - 17:12 WIB

OJK Sebut Malahayati Consultant Bukan LJK, Tegaskan Tak Pernah Terbitkan Izin Penggunaan Logo Resmi

Berita Terbaru