BANDUNG, JEJAKNARASI.ID – Pertandingan lanjutan BRI Super League 2026/2027 yang mempertemukan Persib Bandung melawan PSM Makassar pada Minggu (06/09/2026) malam meninggalkan catatan kritis.
Bukan hanya soal skor akhir di papan digital, namun kondisi lapangan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) kini menjadi sorotan tajam publik. Kondisi rumput stadion kebanggaan warga Bandung tersebut dinilai jauh dari kata ideal untuk menggelar kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Berdasarkan pantauan kamera siaran langsung dan foto-foto yang beredar luas di media sosial, terlihat beberapa bagian lapangan mengalami kerusakan, warna rumput yang tidak merata, hingga adanya area yang tampak gundul atau “bopeng”.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sontak, hal ini memicu gelombang kritik dari netizen, khususnya para pendukung sepak bola di platform Instagram. Tagar yang mempertanyakan kualitas infrastruktur liga pun mulai bermunculan.
Banyak netizen yang menyayangkan mengapa stadion sekelas GBLA bisa lolos verifikasi untuk menggelar pertandingan skala besar jika kondisinya tidak prima.
Sebagaimana diketahui, sebelum kompetisi dimulai, setiap stadion harus melewati proses verifikasi ketat dari PT Liga Indonesia Baru (LIB) dan PSSI.
“Sangat disayangkan, liga profesional tapi kualitas rumputnya seperti lapangan antar kampung. Bagaimana pemain mau berkembang dan meminimalisir cedera kalau lapangannya begini?,” tulis salah satu akun di kolom komentar unggahan liga1match.
Netizen lainnya juga mempertanyakan standar penilaian tim verifikator. “Apa kabar standar verifikasi stadion tahun ini? GBLA yang ikonik saja rumputnya mengkhawatirkan. Jangan sampai kualitas liga menurun hanya karena masalah infrastruktur dasar,” cuit akun lainnya.
Kondisi rumput yang tidak rata tidak hanya merusak estetika pertandingan dan menghambat aliran bola, tetapi juga meningkatkan risiko cedera bagi para pemain.
Dalam pertandingan intensitas tinggi seperti laga Persib vs PSM, kestabilan pijakan pemain sangat krusial. Pihak Persib Bandung maupun pengelola stadion belum memberikan pernyataan resmi terkait penyebab menurunnya kualitas rumput GBLA tersebut.
Namun, dugaan sementara mengarah pada faktor cuaca atau jadwal pemeliharaan yang tidak optimal menjelang musim kompetisi dimulai.
Munculnya polemik ini menjadi pekerjaan rumah bagi PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi. Publik mendesak adanya transparansi mengenai hasil verifikasi stadion-stadion yang digunakan di BRI Super League 2026/2027.
Hingga berita ini diturunkan, para pecinta sepak bola nasional berharap ada langkah nyata dari pihak terkait untuk segera memperbaiki kualitas lapangan di GBLA demi menjaga marwah kompetisi profesional tanah air dan keselamatan para atlet yang bertanding.
































