Migrant Watch Sebut Penempatan PMI 500 Ribu Berpotensi Cacat Tata Kelola

Migrant Watch Sebut Penempatan PMI 500 Ribu Berpotensi Cacat Tata Kelola

- Author

Minggu, 7 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Pekerja Migrant Indonesia (Foto : Ist)

Ilustrasi Pekerja Migrant Indonesia (Foto : Ist)

JEJAKNARASI.ID.JAKARTA – Direktur Eksekutif Migrant Watch, Aznil Tan, menyampaikan kritik keras terhadap cara Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) mengumumkan target penempatan 500 ribu Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke luar negeri tanpa melibatkan seluruh pemangku kepentingan yang diamanatkan oleh undang-undang.

“Dalam Undang-Undang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia secara tegas diatur lima skema penempatan PMI, yaitu G to G, G to P, P to P, perseorangan, dan UKPS. Masing-masing skema memiliki syarat, tata cara, dan mandat kelembagaan yang berbeda. Di sini tidak jelas skema apa yang digunakan KP2MI,” ujar Aznil Tan kepada awak media, Jakarta (4/12/2025).

Aznil menekankan bahwa skema G to G dan G to P hanya dapat dijalankan jika Indonesia sudah memiliki nota kesepahaman atau MoU dengan negara tujuan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Tanpa MoU yang aktif dan disepakati kedua pihak, KP2MI tidak bisa menempatkan PMI melalui skema G to G dan G to P. Karena itulah, dalam konteks target 500 ribu PMI yang ingin dicapai dalam waktu singkat, satu-satunya skema yang realistis untuk dijalankan adalah skema Private to Private. Skema ini selama bertahun-tahun menjadi tulang punggung penempatan PMI ke luar negeri,” tegasnya.

Menurut Aznil Tan, laporan dari berbagai pihak menunjukkan bahwa KP2MI tidak melibatkan Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) dan bahkan tidak mengajak mereka berdiskusi mengenai skema penempatan 500 ribu PMI.

Baca Juga :  DPR Loloskan 24 Calon Dubes, Migrant Wacth : Dubes Bukan Ruang Kehormatan Seremonial

Di sisi lain, KP2MI justru menggandeng Lembaga Pelatihan Kerja (LPK), padahal LPK tidak memiliki kewenangan legal untuk menempatkan PMI.

“Informasi yang saya dapat, KP2MI hanya menggandeng LPK. Padahal LPK bukan lembaga penempatan dan tidak memiliki mandat untuk mengurus job order, visa kerja, perjanjian kerja, maupun pemenuhan standar pelindungan PMI. Justru P3MI yang memiliki izin resmi untuk penempatan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Aznil Tan mengatakan bahwa mengabaikan P3MI dan stakeholder lain justru berpotensi menimbulkan masalah legalitas dan akuntabilitas yang serius, serta membuka ruang gangguan terhadap pelindungan PMI itu sendiri.

“Ini bukan soal memilih P3MI atau LPK. Ini soal menjalankan hukum negara. Penempatan PMI harus mengikuti skema resmi, mengikuti struktur hukum, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan sebagaimana diatur undang-undang.

Target 500 ribu PMI tidak akan pernah realistis jika dijalankan secara sepihak,” ujar Aznil Tan.

Aznil mengimbau KP2MI untuk menyusun roadmap secara bersama-sama, bukan secara sepihak.

Ia menegaskan bahwa fokus kebijakan harus diarahkan pada pelindungan PMI, bukan memobilisasi masyarakat demi kepentingan politik.

“Pekerja Migran Indonesia adalah subjek yang berdaulat, bukan angka dalam laporan. Pemerintah wajib menghormati struktur tata kelola dan melibatkan semua pemangku kepentingan demi pelindungan PMI. Jangan sampai KP2MI melakukan mobilisasi masyarakat demi tujuan politik, karena negara tidak boleh memobilisasi rakyat untuk bekerja,” pungkasnya.**

Berita Terkait

SK Pengangkatan Belum Juga Diterima, Manager KDMP Merasa di PHP Pemerintah
BPK Audit LK BPI Danantara 2025, Identifikasi Resiko Kecurangan Laporan
Menko Pangan Resmikan PSEL Bogor Raya 1, SUCOFINDO Dukung Percepatan Penanganan Darurat Sampah Nasional
276 Young Leaders PFmuda 2026 Ditantang Ubah Masalah Menjadi Solusi Berdampak melalui Case Challenge
KPK Dalami Dugaan Aliran Suap ATR/BPN Ratusan Miliar ke Kegiatan Muktamar Agustus Lalu
KPK Dalami Dugaan Keterlibatan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Ratusan Miliar di ATR/BPN
KPK Buka Peluang Bidik Proyek Pagar Laut Pasca Bongkar Skandal Dugaan Suap di ATR/BPN
Nursyahwa Syakila, Peserta Netra MTQ Nasional XXXI yang Hafal 30 Juz Lewat Metode Audio
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari JEJAKNARASI.ID di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan click tanda bintang.

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 07:39 WIB

SK Pengangkatan Belum Juga Diterima, Manager KDMP Merasa di PHP Pemerintah

Sabtu, 19 September 2026 - 07:29 WIB

BPK Audit LK BPI Danantara 2025, Identifikasi Resiko Kecurangan Laporan

Jumat, 18 September 2026 - 16:16 WIB

Menko Pangan Resmikan PSEL Bogor Raya 1, SUCOFINDO Dukung Percepatan Penanganan Darurat Sampah Nasional

Jumat, 18 September 2026 - 11:15 WIB

276 Young Leaders PFmuda 2026 Ditantang Ubah Masalah Menjadi Solusi Berdampak melalui Case Challenge

Kamis, 17 September 2026 - 15:24 WIB

KPK Dalami Dugaan Aliran Suap ATR/BPN Ratusan Miliar ke Kegiatan Muktamar Agustus Lalu

Berita Terbaru

Lifestyle

5 Oleh-oleh Favorite dari Jakarta yang Wajib Kamu Bawa Pulang

Sabtu, 19 Sep 2026 - 20:37 WIB