Berawal dari MBG, Ghozi Mahasiswa Teknologi Pangan USU Tembus Final Green Generation Nestle

Berawal dari MBG, Ghozi Mahasiswa Teknologi Pangan USU Tembus Final Green Generation Nestle

- Author

Rabu, 28 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MEDAN, JEJAKNARASI.ID – Muhammad Ghozi Muzzaki sebagai Mahasiswa Teknologi Pangan, Universitas Sumatera Utara (USU) berhasil masuk menjadi top 20 final kompetisi #GreenGeneration Sustainability Business Case yang diadakan oleh Nestle tahun 2026.

Ide bisnis yang dibawakan Ghozi dalam kompetisi tersebut berawal dari program MBG. Ghozi menemukan blindspot, dimana kemasan susu dari MBG bisa menjadi tumpukan sampah. Hal itu disampaikan oleh Ghozi saat menjawab wawancara.

“untuk idenya sendiri inspirasinya muncul dari hal yang sangat dekat dengan kita. Waktu itu lagi ramai program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kami ngelihat blind spot dari program itu: bakal ada ratusan ribu sampai jutaan kemasan susu Nestlé harian yang berpotensi jadi tumpukan sampah raksasa.” Ujar Ghozi, Selasa (20/10/2026)

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari masalah sampah tersebut akhirnya Ghozi bersama kedua temannya memutuskan untuk merancang inovasi bernama “Nestle Energy Loop (Q2)”. Konsep nya dengan membuat jaringan pengumpulan sampah kemasan menggunakan mesin penukar sampah otomatis. Ghozi bersama temannya mengajak para pemulung sampah menjadi mitra logistik, sehingga sampah yang dari pemulung sampah bisa disortir dan mendapatkan penghasilan yang lebih menguntungkan.

“sistemnya: kami bikin jaringan pengumpulan sampah kemasan pakai Reverse Vending Machine (mesin tukar sampah otomatis). Tapi kita nggak cuma ngandelin mesin. Kami merangkul dan mengintegrasikan para pemulung sebagai mitra logistik resmi buat nyortir sampahnya, jadi mereka dapat penghasilan yang jauh lebih layak.” Kata Ghozi.

Untuk sampah yang tidak bisa didaur ulang, Ghozi memberikan sampah itu kepada PLTSa. Karena menurutnya PLTSa sangat ramai, sehingga sisa sampah yang tidak terdaur ulang bisa diubah menjadi energi dan tak terbuang. Ghozi menyebutkan bahwa bisnis yang diangkatnya diambil dengan model  sirkular ekonomi, yang bertujuan untuk meminimalkan limbah dan memaksimalkan efisiensi sumber daya.

“Karena saat itu isu Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) lagi gencar banget, sampah kemasan yang kotor itu kami suplai ke PLTSa untuk dijadikan bahan baku energi listrik. Jadi sampahnya hilang, pemulung sejahtera, dan ngasilin energi baru buat masyarakat. konsep yang kami bawain sirkular ekonomi, jadi beneran gaada yang kebuang.” kata Ghozi.

Baca Juga :  AIESEC In Universitas Sumatera Utara Kembali Gelar AFL Summer Peak 2025

Awal Ghozi menemukan kompetisi ini dari ajakan teman-temannya, Ghozi diajak untuk menjadi salah satu tim mereka di bagian desain visual dan ide produk. “Kak Vania dan Bang Arya dari Universitas Brawijaya ini ngajakin nihh buat join tim mereka karena butuh orang yang bisa handle desain visual dan ide produknya.” Ujar Ghozi.

Pada awalnya Ghozi merasa pusing dan tidak mampu melakukannya. Dia merasa tidak memiliki banyak pengalaman dalam bidang bisnis. Dengan background sebagai mahasiswa teknologi pangan, Ghozi sangat bingung untuk memahami dan membaca beberapa hal seperti membaca ROI.

“Jujur awalnya pusing banget, karena ini pengalaman pertama ikut kompetisi Business Case, sedangkan backgroundnya lebih ke teknologi pangan. pas nyusun proposal, beneran nge-blank ngeliat hitung-hitungan finansial ROl dan lain-lain,” ucap Ghozi.

Ditengah keputusasan itu Ghozi memahami satu hal, bahwa tidak perlu bisa melakukan semua hal. Karena kita hanya perlu menyadari kekurangan diri sendiri sehingga berusaha dan mau untuk berkolaborasi dengan orang yang lebih ahli. “Menyadari kekurangan diri dan mau berkolaborasi dengan orang yang lebih ahli adalah kunci utama buat bikin inovasi yang besar.” kata Ghozi.

Ghozi mengatakan bahwa untuk membuat inovasi yang berdampak, tidak perlu mencari kasus yang besar. Cukup amati dan temukan kasus disekitar, karena inovasi yang paling baik biasanya terbentuk dari kepedulian diri sendiri terhadap masalah sepele yang selalu ada dilingkungan sekitar.

“kadang memang untuk membuat inovasi yang berdampak, kita nggak perlu mencari masalah yang terlalu jauh. Coba amati sekitar kita. Inovasi terbaik sering kali lahir dari kepedulian kita terhadap masalah sepele yang dilewatkan banyak orang.” ujar Ghozi.

Berita Terkait

AIESEC in USU Bekali Pemuda dengan Keterampilan Komunikasi Lintas Budaya
AIESEC USU Perkuat Kolaborasi Pemuda Lewat Global Classroom
ReCity Medan Ajak Masyarakat Peduli Kondisi Trotoar di Kota Medan
Serikat Batak Desak Audit Ekologis dan Transparansi Pasca Pencabutan Izin TPL
Tragedi Keracunan MBG di Karo: Siswi Berprestasi Kehilangan Ingatan, Orangtua Kesulitan Biaya Hidup
Career Hallway 4.0 by AIESEC in USU Hadirkan Divhenia Putri Allysa
Aksi Bobby Dicap Norak Usai Hentikan Truk Pelat Aceh dan Menyuruh Ganti Jadi Pelat Sumut
PKKMB Kewirausahaan Universitas Satya Terra Bhinneka Bersama AIESEC in USU: Dari Orientasi Kampus Menuju Kolaborasi dan Kepemimpinan Global
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari JEJAKNARASI.ID di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan click tanda bintang.

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 19:29 WIB

Berawal dari MBG, Ghozi Mahasiswa Teknologi Pangan USU Tembus Final Green Generation Nestle

Jumat, 23 Oktober 2026 - 17:37 WIB

AIESEC in USU Bekali Pemuda dengan Keterampilan Komunikasi Lintas Budaya

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:40 WIB

AIESEC USU Perkuat Kolaborasi Pemuda Lewat Global Classroom

Selasa, 13 Oktober 2026 - 09:02 WIB

ReCity Medan Ajak Masyarakat Peduli Kondisi Trotoar di Kota Medan

Kamis, 10 September 2026 - 10:01 WIB

Serikat Batak Desak Audit Ekologis dan Transparansi Pasca Pencabutan Izin TPL

Berita Terbaru

Ekonomi & Bisnis

DSN MUI Kaji Kripto Syariah, RWA dan Tokenisasi Sukuk Jadi Perhatian

Rabu, 28 Okt 2026 - 07:45 WIB