MEDAN, JEJAKNARASI.ID – Muhammad Ghozi Muzzaki sebagai Mahasiswa Teknologi Pangan, Universitas Sumatera Utara (USU) berhasil masuk menjadi top 20 final kompetisi #GreenGeneration Sustainability Business Case yang diadakan oleh Nestle tahun 2026.
Ide bisnis yang dibawakan Ghozi dalam kompetisi tersebut berawal dari program MBG. Ghozi menemukan blindspot, dimana kemasan susu dari MBG bisa menjadi tumpukan sampah. Hal itu disampaikan oleh Ghozi saat menjawab wawancara.
“untuk idenya sendiri inspirasinya muncul dari hal yang sangat dekat dengan kita. Waktu itu lagi ramai program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kami ngelihat blind spot dari program itu: bakal ada ratusan ribu sampai jutaan kemasan susu Nestlé harian yang berpotensi jadi tumpukan sampah raksasa.” Ujar Ghozi, Selasa (20/10/2026)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari masalah sampah tersebut akhirnya Ghozi bersama kedua temannya memutuskan untuk merancang inovasi bernama “Nestle Energy Loop (Q2)”. Konsep nya dengan membuat jaringan pengumpulan sampah kemasan menggunakan mesin penukar sampah otomatis. Ghozi bersama temannya mengajak para pemulung sampah menjadi mitra logistik, sehingga sampah yang dari pemulung sampah bisa disortir dan mendapatkan penghasilan yang lebih menguntungkan.
“sistemnya: kami bikin jaringan pengumpulan sampah kemasan pakai Reverse Vending Machine (mesin tukar sampah otomatis). Tapi kita nggak cuma ngandelin mesin. Kami merangkul dan mengintegrasikan para pemulung sebagai mitra logistik resmi buat nyortir sampahnya, jadi mereka dapat penghasilan yang jauh lebih layak.” Kata Ghozi.
Untuk sampah yang tidak bisa didaur ulang, Ghozi memberikan sampah itu kepada PLTSa. Karena menurutnya PLTSa sangat ramai, sehingga sisa sampah yang tidak terdaur ulang bisa diubah menjadi energi dan tak terbuang. Ghozi menyebutkan bahwa bisnis yang diangkatnya diambil dengan model sirkular ekonomi, yang bertujuan untuk meminimalkan limbah dan memaksimalkan efisiensi sumber daya.
“Karena saat itu isu Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) lagi gencar banget, sampah kemasan yang kotor itu kami suplai ke PLTSa untuk dijadikan bahan baku energi listrik. Jadi sampahnya hilang, pemulung sejahtera, dan ngasilin energi baru buat masyarakat. konsep yang kami bawain sirkular ekonomi, jadi beneran gaada yang kebuang.” kata Ghozi.
Awal Ghozi menemukan kompetisi ini dari ajakan teman-temannya, Ghozi diajak untuk menjadi salah satu tim mereka di bagian desain visual dan ide produk. “Kak Vania dan Bang Arya dari Universitas Brawijaya ini ngajakin nihh buat join tim mereka karena butuh orang yang bisa handle desain visual dan ide produknya.” Ujar Ghozi.
Pada awalnya Ghozi merasa pusing dan tidak mampu melakukannya. Dia merasa tidak memiliki banyak pengalaman dalam bidang bisnis. Dengan background sebagai mahasiswa teknologi pangan, Ghozi sangat bingung untuk memahami dan membaca beberapa hal seperti membaca ROI.
“Jujur awalnya pusing banget, karena ini pengalaman pertama ikut kompetisi Business Case, sedangkan backgroundnya lebih ke teknologi pangan. pas nyusun proposal, beneran nge-blank ngeliat hitung-hitungan finansial ROl dan lain-lain,” ucap Ghozi.
Ditengah keputusasan itu Ghozi memahami satu hal, bahwa tidak perlu bisa melakukan semua hal. Karena kita hanya perlu menyadari kekurangan diri sendiri sehingga berusaha dan mau untuk berkolaborasi dengan orang yang lebih ahli. “Menyadari kekurangan diri dan mau berkolaborasi dengan orang yang lebih ahli adalah kunci utama buat bikin inovasi yang besar.” kata Ghozi.
Ghozi mengatakan bahwa untuk membuat inovasi yang berdampak, tidak perlu mencari kasus yang besar. Cukup amati dan temukan kasus disekitar, karena inovasi yang paling baik biasanya terbentuk dari kepedulian diri sendiri terhadap masalah sepele yang selalu ada dilingkungan sekitar.
“kadang memang untuk membuat inovasi yang berdampak, kita nggak perlu mencari masalah yang terlalu jauh. Coba amati sekitar kita. Inovasi terbaik sering kali lahir dari kepedulian kita terhadap masalah sepele yang dilewatkan banyak orang.” ujar Ghozi.
























