Tiga Tuntutan Forum Advokat Peduli Hukum dan Keadilan, Salah Satunya Desak Presiden dan DPR Tunda Pengesahan RKUHAP

Tiga Tuntutan Forum Advokat Peduli Hukum dan Keadilan, Salah Satunya Desak Presiden dan DPR Tunda Pengesahan RKUHAP

- Author

Senin, 21 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi RKUHAP  ( Foto: Hukumonline)

Ilustrasi RKUHAP ( Foto: Hukumonline)

JEJAKNATASI.ID. -JAKARTA – Forum Advokat Peduli Hukum dan Keadilan mendesak Presiden RI dan DPR menunda pengesahan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RKUHAP) 2025.Selain itu forum juga meminta pembahasan RKUHAP dilakukan secara transparan dan partisipatif.

Pernyataan itu dituangkan dalam surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden, Ketua DPR, Menteri Hukum dan HAM, serta sejumlah pejabat negara lainnya, 

“Apabila terdapat aspirasi yang mendukung untuk segera mengesahkan RKUHAP di tengah proses pembahasan, dengan ini kami menolak aspirasi tersebut,” sebut koordinator forum AH Wakil Kamal SH.MH. Senin (21/7/2025)

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Forum yang terdiri dari 31 advokat itu menilai RKUHAP 2025 justru gagal menangkap semangat reformasi KUHP Nasional 2023. Menurut mereka KUHP baru harus mengedepankan prinsip penghormatan martabat manusia, keadilan substantif, dan pidana sebagai upaya terakhir. 

Tidak hanya itu, Forum juga menganggap RKUHAP masih mengusung pendekatan lama yang represif dan minim kontrol yudisial. Salah satu isu krusial yang disorot adalah mekanisme pengakuan bersalah terdakwa yang tidak melibatkan korban.

Sehingga hal tersebut tidak mengatur tuduhan berlapis secara jelas, dan tidak memiliki ukuran yang  pasti untuk pemberian keringanan hukuman.

Forum juga menyoroti sikap para dosen hukum pidana yang mengkritik banyaknya ruang penyalahgunaan wewenang oleh penyidik dan penyelidik dalam RKUHAP.

Di antaranya penggunaan metode undercover buy dan controlled delivery tanpa prosedur yang jelas, penahanan tanpa kontrol pengadilan, serta ketiadaan sanksi terhadap penyiksaan.

Baca Juga :  Komisi XIII Dorong PPKn jadi Mata Pelajaran Wajib SD-PT dengan Panduan BPIP

Menurut Forum, penggeledahan, pemblokiran data, dan penetapan tersangka juga dinilai bisa dilakukan tanpa izin pengadilan, cukup dengan klaim “keadaan mendesak” dari penyidik.

Sehingga sangat disayangkan sejumlah ketentuan tersebut dianggap melemahkan hak tersangka dan advokat. 

Parahnya lagi, hak atas bantuan hukum tidak dijamin eksplisit, serta penolakan pendampingan tidak memerlukan kontrol hakim. Selain itu, akses advokat terhadap bukti tidak diatur, bertentangan dengan prinsip equal of arms.

Forum juga menilai RKUHAP dapat mengaburkan konsep restorative justice, karena dilakukan sejak penyelidikan tanpa jaminan bagi korban. Sementara syarat pencabutan laporan disebut membatasi keadilan substantif. 

Di sisi lain, mekanisme praperadilan untuk menguji legalitas upaya paksa dinilai semakin dibatasi.

“Upaya paksa yang sudah mendapat izin tidak dapat diuji melalui praperadilan. Ketentuan ini menghapus mekanisme penting untuk mencegah kesewenang-wenangan aparat,” ujar Wakil Kamal.

Forum juga mengkritik absennya pengaturan terkait hukum acara terhadap korporasi, tindak pidana adat, perlindungan lingkungan, hingga pemanfaatan teknologi informasi dalam proses hukum.

Ketentuan yang mewajibkan penyidik di sektor strategis tunduk pada persetujuan POLRI juga dinilai melemahkan efektivitas penyidikan berbasis keahlian.

Oleh karena itu Forum Advokat Peduli  Hukum dan keadilan mengajukan tiga tuntutan:

  1. Menunda pengesahan RKUHAP 2025 dan membuka ruang pembahasan yang transparan dan inklusif.
  2. Menyusun RKUHAP dengan prinsip perlindungan hak asasi, bukan memperluas kewenangan polisi dan jaksa.
  3. Mengadopsi mekanisme hakim pemeriksa pendahuluan seperti yang diatur dalam RKUHAP 2012.

Berita Terkait

Polisi Ungkap Dugaan Peredaran Uang Palsu Rp20 Juta di Cengkareng, Satu Pria Jadi DPO
Berkedok Pangkalan Ojek, Pria di Mangga Besar Diduga Edarkan Puluhan Paket Sabu
Polri Ungkap Pabrik Sabu di Aceh, Barang Bukti 1 ton Lebih
Kejari Kota Tangerang Tetapkan Eks Dirut PT Angkasa Pura Kargo Tersangka Korupsi
Polda Metro Jaya Bongkar Lima Sindikat Kejahatan Lingkungan dan Migas, 11 Orang Ditangkap
Kasus Dugaan Penipuan Investasi Tambang Naik Tahap Penyidikan, Ini Kata Mabes Polri
Polisi Amankan 24 Orang dalam Operasi Narkotika di Kampung Ambon dan Boncos
SP2HP A1 Terbit Mei, Empat Bulan Tanpa Kabar: Pelapor Pertanyakan Penanganan Kasus Penggelapan di Polsek Bongas
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari JEJAKNARASI.ID di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan click tanda bintang.

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 13:44 WIB

Polisi Ungkap Dugaan Peredaran Uang Palsu Rp20 Juta di Cengkareng, Satu Pria Jadi DPO

Minggu, 1 November 2026 - 12:33 WIB

Berkedok Pangkalan Ojek, Pria di Mangga Besar Diduga Edarkan Puluhan Paket Sabu

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 11:36 WIB

Polri Ungkap Pabrik Sabu di Aceh, Barang Bukti 1 ton Lebih

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 11:07 WIB

Kejari Kota Tangerang Tetapkan Eks Dirut PT Angkasa Pura Kargo Tersangka Korupsi

Jumat, 23 Oktober 2026 - 21:26 WIB

Polda Metro Jaya Bongkar Lima Sindikat Kejahatan Lingkungan dan Migas, 11 Orang Ditangkap

Berita Terbaru

Ekonomi & Bisnis

Harga Emas Hari Ini 5 November 2026, Cek Antam, UBS dan Galeri24

Kamis, 5 Nov 2026 - 01:08 WIB