TANGERANG, JEJAKNARASI.ID – RW 17 Kelurahan Bojong Nangka, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, mulai merealisasikan program ketahanan pangan berbasis masyarakat dengan membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) dan mengembangkan urban farming. Komitmen tersebut disepakati dalam rapat dan sosialisasi Aktualisasi Program Ketahanan Pangan Berbasis Masyarakat yang berlangsung di Balai Warga RW 17, Minggu (12/7/2026).
Kegiatan yang diinisiasi pengurus RW itu dihadiri para Ketua RT, kader PKK, tokoh masyarakat, dan perwakilan warga dari setiap RT. Selain membahas pembentukan KWT, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai pemanfaatan lahan pekarangan untuk bercocok tanam sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan dan ekonomi warga.
Sekretaris RW 17 Kelurahan Bojong Nangka, Mochamad Rudie Kurniawan, SH, mengatakan program tersebut menjadi langkah awal membangun kemandirian pangan di tingkat lingkungan dengan memanfaatkan pekarangan rumah maupun lahan yang belum produktif.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami ingin masyarakat menjadi pelaku utama dalam program ketahanan pangan. Konsep yang kami bangun adalah bottom-up, di mana usulan berasal dari masyarakat dan diperkuat melalui dukungan pemerintah berupa bantuan bibit, media tanam, pupuk, pelatihan, serta pendampingan. Harapannya, hasil panen dapat memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus meningkatkan pendapatan warga,” ujar Rudie.
Rudie menjelaskan, setelah KWT RW 17 memperoleh legalitas melalui Surat Keputusan (SK) dari Kelurahan Bojong Nangka, pengurus akan mengajukan proposal kepada Dinas Pertanian Kabupaten Tangerang untuk mendapatkan bantuan bibit tanaman hortikultura, pupuk, media tanam, serta pendampingan teknis.
Target Jadi Percontohan Urban Farming
Rudie menuturkan, pengurus RW menargetkan RW 17 menjadi kawasan percontohan urban farming di Kecamatan Kelapa Dua.
Menurutnya, pemanfaatan pekarangan, teras, pagar, maupun lahan kosong untuk menanam cabai, tomat, terong, kangkung, bayam, dan tanaman produktif lainnya merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar bagi masyarakat.
“Kami ingin RW 17 dikenal sebagai kawasan yang hijau, produktif, bersih, dan mandiri pangan. Urban farming bukan sekadar menanam, tetapi juga membangun budaya hidup sehat, memperkuat semangat gotong royong, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui hasil panen yang bernilai ekonomis,” katanya.
Selain budidaya tanaman, program tersebut juga akan dikembangkan dengan pengelolaan sampah organik rumah tangga menjadi pupuk kompos. Limbah dapur seperti sisa sayuran, buah-buahan, dan daun kering akan dimanfaatkan sebagai pupuk alami untuk mendukung kebutuhan tanaman warga.
“Kami ingin masyarakat memahami bahwa sampah organik bukan limbah yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang bisa diolah menjadi pupuk kompos. Dengan begitu, lingkungan menjadi lebih bersih, volume sampah berkurang, biaya pupuk dapat ditekan, dan tanaman tumbuh lebih baik,” tambahnya.
Urban Farming Dimulai dari Pekarangan Rumah
Narasumber dalam kegiatan tersebut, Hermansyah, Pemerhati Sosial sekaligus Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Forum Media Banten Ngahiji (FMBN), menilai urban farming merupakan gerakan pemberdayaan masyarakat yang dapat dimulai dari lingkungan rumah.
Dia membagikan pengalaman mendampingi kelompok urban farming di Kelurahan Bunder, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, serta di Kecamatan Pinang, Kota Tangerang. Menurutnya, keterbatasan lahan bukan menjadi kendala untuk menghasilkan pangan secara mandiri.
“Ketahanan pangan harus dimulai dari rumah. Pekarangan, pot, polybag, hingga sudut-sudut kecil di sekitar rumah dapat dimanfaatkan untuk menanam cabai, sayuran, maupun tanaman produktif lainnya. Dengan edukasi, pendampingan, dan dukungan pemerintah, program ini mampu meningkatkan ketahanan pangan sekaligus ekonomi keluarga,” ujarnya.
Hermansyah menambahkan, urban farming tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga dapat mengurangi pengeluaran rumah tangga, meningkatkan pendapatan dari hasil panen, memperindah lingkungan, memperbaiki kualitas udara, serta mendukung pengendalian inflasi komoditas pangan.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak melalui pendekatan septahelix, yang melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, media, komunitas, serta lembaga filantropi dan keuangan agar program dapat berjalan secara berkelanjutan.
Warga Siap Dukung Program
Program pembentukan KWT dan pengembangan urban farming mendapat respons positif dari peserta rapat. Para Ketua RT, kader PKK, dan warga menyatakan siap mendukung pembentukan KWT serta memanfaatkan pekarangan rumah sebagai lahan produktif.
Pertemuan tersebut juga menghasilkan kesepakatan untuk segera menyusun proposal pengajuan bantuan kepada Dinas Pertanian Kabupaten Tangerang setelah KWT memperoleh legalitas dari Kelurahan Bojong Nangka.
Melalui sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan, RW 17 Bojong Nangka optimistis dapat berkembang menjadi kawasan percontohan urban farming yang mandiri, produktif, dan ramah lingkungan di Kecamatan Kelapa Dua.
































