JEJAKNARASI.ID, YORDANIA – Irbid Expo 2026 yang diselenggarakan pada 9 Februari 2026 menjadi ruang pertemuan intelektual bagi mahasiswa Indonesia di Timur Tengah untuk merefleksikan peran generasi muda di tengah perubahan zaman.
Mengusung tema “Intelektualitas Muda, Masa Depan Berkelanjutan,” forum ini menjadi puncak dari rangkaian percakapan akademik yang menghadirkan pemikir, akademisi, dan figur publik untuk membahas tantangan disrupsi, pentingnya berpikir kritis, serta tanggung jawab generasi muda dalam merespons dinamika sosial dan pendidikan secara reflektif.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama dengan perspektif yang berbeda namun saling melengkapi, yakni Prof. Dr. Amany Burhanuddin Umar Lubis, M.A. dengan materi “Privilege to Purpose: Menyatukan Ilmu, Arah, dan Peran” serta Rocky Gerung dengan materi “Dialektika Akal Sehat: Nalar di Era Disrupsi.”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam sesi pertama, Prof. Amany Lubis menekankan bahwa mahasiswa, terutama yang menempuh pendidikan di Timur Tengah memiliki peluang besar untuk menjadikan ilmu sebagai privilege struktural yang dapat memberi dampak nyata bagi masyarakat. Menurutnya, proses pendidikan tidak boleh berhenti pada formalitas akademik semata, tetapi harus diarahkan pada pengembangan kapasitas diri dan kontribusi sosial.
Ia juga mengingatkan bahwa mahasiswa syariah tidak seharusnya membatasi diri pada satu disiplin ilmu. Al-Qur’an, menurutnya, memberikan isyarat luas tentang pentingnya pengembangan berbagai bidang ilmu pengetahuan. Karena itu, mahasiswa didorong untuk memperkuat kompetensi lintas disiplin yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Salah satu pertanyaan menarik dalam sesi ini datang dari M. Rizq Mubarak yang menyoroti kondisi keilmuan mahasiswa Timur Tengah.
“Apakah lemahnya keilmuan mahasiswa Timur Tengah berakar dari orientasi pendidikan syariah yang terlalu menekankan formalitas akademik dibanding pendalaman ilmu? Lalu bagaimana solusi untuk melahirkan kembali ulama yang mendalam secara keilmuan dan siap menghadapi tantangan global?”
Menanggapi hal tersebut, Prof. Amany menjelaskan bahwa status ulama pada dasarnya merupakan pengakuan dari masyarakat. Karena itu, seorang calon ulama perlu aktif terjun ke masyarakat melalui berbagai medium seperti menulis, mengajar, dan membangun tradisi keilmuan yang hidup.
Selain itu, penting untuk terus terhubung dengan pusat-pusat talaqqi, memahami persoalan kontemporer, serta memperluas wawasan dengan mempelajari ilmu-ilmu umum yang relevan dengan perkembangan zaman.
Sementara itu, pada sesi kedua, Rocky Gerung mengajak peserta untuk merefleksikan kembali makna akal sehat di tengah derasnya arus informasi pada era disrupsi digital.
Menurutnya, kemampuan berpikir kritis menjadi kunci untuk membedakan antara fakta, opini, serta berbagai narasi yang sering kali sarat dengan kepentingan politik maupun ideologis.
Dalam pemaparannya, Rocky juga menyoroti fenomena politik modern yang dipenuhi oleh demagog, yakni pihak yang pandai memainkan emosi publik tanpa menawarkan solusi nyata.
Ia menilai bahwa negara justru membutuhkan lebih banyak pedagog, yaitu individu yang mampu melahirkan gagasan sekaligus mengeksekusinya secara konkret.
Salah satu diskusi yang mencuri perhatian datang dari pertanyaan Imam Syamil Nasution mengenai kondisi demokrasi saat ini.
“Bagaimana akal sehat masyarakat dapat bertahan ketika retorika demagogik berbasis emosi mendominasi ruang publik? Apakah fenomena ini menandakan pergeseran demokrasi menuju manipulasi opini massal?”
Rocky menjelaskan bahwa masyarakat tidak seharusnya larut dalam isu-isu yang tidak bermutu, karena sering kali isu tersebut sengaja diproduksi sebagai bagian dari strategi public relation kekuasaan. Menurutnya, cara meredam dominasi retorika demagogik adalah dengan memperkuat public opinion yang lahir dari diskusi rasional di ruang-ruang akademik dan masyarakat.
Melalui dua sesi diskusi tersebut, Irbid Expo 2026 menegaskan bahwa masa depan generasi muda tidak hanya ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga oleh kemampuan berpikir kritis serta keberanian untuk menghubungkan ilmu dengan aksi nyata di tengah masyarakat.
Tema “Intelektualitas Muda, Masa Depan Berkelanjutan” pada akhirnya menjadi pengingat bahwa generasi muda tidak sekadar menjadi penonton perubahan zaman, tetapi juga aktor utama yang bertanggung jawab membentuk arah masa depan yang lebih adil, rasional, dan berkelanjutan.





















