Gus Yaqut Dijadikan Tersangka, LBH GP Ansor Jawa Barat: Kebijakan Jangan Disalahartikan sebagai Pelanggaran Hukum

Gus Yaqut Dijadikan Tersangka, LBH GP Ansor Jawa Barat: Kebijakan Jangan Disalahartikan sebagai Pelanggaran Hukum

- Author

Rabu, 21 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua LBH Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat Gugun Kurniawan. (Foto: LBH Ansor Jawa Barat )

Ketua LBH Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat Gugun Kurniawan. (Foto: LBH Ansor Jawa Barat )

JEJAKNARASI.ID.JAWA BARAT – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat menyampaikan keprihatinan dan penyesalan atas penetapan Menteri Agama RI Periode 2020–2024, KH. Yaqut Cholil Qoumas, sebagai tersangka dalam perkara pengaturan kuota haji Tahun 2024.

LBH GP Ansor Jawa Barat menilai bahwa penarikan kebijakan pembagian kuota haji ke dalam ranah tindak pidana korupsi merupakan langkah yang keliru secara hukum dan berpotensi mengancam tata kelola pemerintahan.

Pendekatan tersebut tidak hanya berisiko menyesatkan opini publik, tetapi juga membuka ruang kriminalisasi terhadap kebijakan publik yang sah menurut hukum.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Secara normatif, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah secara tegas memberikan kewenangan atribusi kepada Menteri Agama untuk menetapkan dan melaksanakan kebijakan penyelenggaraan haji.

Kewenangan tersebut mencakup pengambilan keputusan strategis, termasuk dalam kondisi yang belum diatur secara rinci oleh peraturan perundang-undangan, seperti adanya kuota tambahan dari Pemerintah Arab Saudi.

Dalam konteks tersebut, penggunaan diskresi pemerintahan adalah sah dan relevan. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan secara eksplisit mengakui diskresi sebagai instrumen hukum untuk mengatasi persoalan konkret, kekosongan hukum, serta stagnasi pemerintahan demi kepentingan umum.

Diskresi bukanlah tindakan sewenang-wenang, melainkan kewenangan yang dilekatkan oleh undang-undang.

LBH GP Ansor Jawa Barat berpandangan bahwa mengaitkan kebijakan kuota haji secara serta-merta dengan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi berpotensi menyesatkan.

Pasal 2 ayat (1) secara tegas mensyaratkan adanya kerugian keuangan negara yang nyata, pasti, dan dapat dihitung, bukan sekadar dugaan atau asumsi. Hingga saat ini, belum terdapat penetapan resmi dari lembaga berwenang mengenai adanya kerugian negara akibat kebijakan tersebut.

Baca Juga :  Antisipasi Gelaran Pocari Sweat Run 2026, KAI Daop 2 Bandung Imbau Pengguna Jasa KA Datang Lebih Awal

“Fakta yang ada justru menunjukkan bahwa penyelenggaraan ibadah haji Tahun 2024 memberikan dampak positif, berupa efisiensi anggaran lebih dari Rp600 miliar. Selain itu, Badan Pusat Statistik mencatat Indeks Kepuasan Jemaah Haji Indonesia Tahun 2024 mencapai angka 88,20 persen, yang masuk dalam kategori sangat memuaskan,” terang Gugun Kurniawan, Ketua LBH Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat, dalam keterangan resminya, Rabu, (21/1/2026)

Gugun menyebut, adapun Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi mensyaratkan adanya penyalahgunaan kewenangan dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain, serta mengakibatkan kerugian negara.

Menurutny, dalam perspektif hukum administrasi, tidak setiap perbedaan tafsir kebijakan, dugaan kekeliruan prosedural, atau kesalahan kebijakan dapat serta-merta dikualifikasikan sebagai tindak pidana.

“Unsur penyalahgunaan wewenang harus dibuktikan secara ketat, termasuk adanya mens rea atau niat jahat,”kata Gugun

Gugun menegaskan,  hukum pidana harus ditempatkan sebagai ultimum remedium, bukan sebagai instrumen utama dalam menilai kebijakan publik.

Apabila setiap diskresi pejabat negara selalu dihadapkan pada ancaman pidana, maka yang akan lahir bukan pemerintahan yang akuntabel, melainkan birokrasi yang takut mengambil keputusan demi kepentingan umat dan rakyat.

Atas dasar itu, LBH Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat menegaskan sikap menolak segala bentuk kriminalisasi terhadap kebijakan yang sah menurut hukum.

“Penegakan hukum harus tetap dilakukan secara tegas terhadap praktik korupsi yang nyata, namun tidak boleh mengorbankan prinsip keadilan dan kepastian hukum,’ pungkasnya.**

Berita Terkait

Pemprov Jabar Siapkan Bantuan Kuliah untuk 1.000 Anak Miskin di ITB, Ini yang Perlu Diketahui
Pelajar SMP Tewas Kecelakaan dengan Truk PLN di Babelan Bekasi
Video Pesta Miras Bersama LC di Kantor Desa Kertawinangun Viral, Camat dan Bupati Indramayu Bungkam
DPRD Indramayu Bahas Dua Raperda Perumahan dan Lingkungan
Polsek Kandanghaur Polres Indramayu Hadir Pesta Adat Nadran
Polres Indramayu Amankan 9 Remaja Terkait Video Viral Geng Motor Bersenjata Tajam di Indramayu
PWHI Desak Bupati Indramayu Usut Dugaan Penyalahgunaan Gedung Desa Kertawinangun Untuk Ajang Karaoke dan Pesta Miras
Metranet Dukung Program GENTING di Pekalongan, Perkuat Sinergi untuk Cegah Stunting Nasional
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari JEJAKNARASI.ID di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan click tanda bintang.

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 10:20 WIB

Pemprov Jabar Siapkan Bantuan Kuliah untuk 1.000 Anak Miskin di ITB, Ini yang Perlu Diketahui

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:15 WIB

Pelajar SMP Tewas Kecelakaan dengan Truk PLN di Babelan Bekasi

Kamis, 29 Oktober 2026 - 21:47 WIB

Video Pesta Miras Bersama LC di Kantor Desa Kertawinangun Viral, Camat dan Bupati Indramayu Bungkam

Minggu, 25 Oktober 2026 - 19:08 WIB

DPRD Indramayu Bahas Dua Raperda Perumahan dan Lingkungan

Minggu, 25 Oktober 2026 - 18:53 WIB

Polsek Kandanghaur Polres Indramayu Hadir Pesta Adat Nadran

Berita Terbaru

Ekonomi & Bisnis

Harga Emas Hari Ini 5 November 2026, Cek Antam, UBS dan Galeri24

Kamis, 5 Nov 2026 - 01:08 WIB