Kejaksaan Agung Sita dan Pulihkan Triliunan Rupiah Uang Korupsi, DPR Soroti Dampak Nyata bagi Keuangan Negara

Kejaksaan Agung Sita dan Pulihkan Triliunan Rupiah Uang Korupsi, DPR Soroti Dampak Nyata bagi Keuangan Negara

- Author

Selasa, 20 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ilustrasi Gedung Kejagung (Foto : Ist)

ilustrasi Gedung Kejagung (Foto : Ist)

JEJAKNARASI.ID.JAKARTA – Upaya Kejaksaan Agung dalam memburu dan menyita hasil korupsi hingga triliunan rupiah sepanjang 2025 menuai apresiasi dari parlemen.

Pemulihan aset dalam skala besar itu dinilai tidak hanya menyelamatkan keuangan negara, tetapi juga memperkuat kembali kepercayaan publik terhadap penegakan hukum di tengah sorotan tajam terhadap integritas aparat.

Apresiasi tersebut disampaikan anggota Komisi III DPR RI, Aboe Bakar Al-Habsyi, dalam rapat kerja bersama Jaksa Agung dan jajaran Kejaksaan Agung di Kompleks Parlemen, Senayan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menilai capaian pemulihan aset yang dilakukan Korps Adhyaksa sebagai langkah konkret yang jarang terjadi dalam sejarah penegakan hukum di Indonesia.

“Sepanjang 2025, Kejaksaan melalui Badan Pemulihan Aset berhasil mengembalikan aset hasil tindak pidana korupsi dan pencucian uang dalam jumlah yang sangat signifikan. Ini bukan hal mudah, dan ini adalah kontribusi nyata bagi negara,” kata Aboe Bakar dalam rapat kerja Komisi III DPR RI dengan Jaksa Agung dan jajarannya di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).

Berdasarkan laporan kinerja Kejaksaan Agung, nilai aset yang berhasil disita dan dipulihkan mencapai puluhan hingga ratusan triliun rupiah, termasuk uang tunai, aset properti, serta valuta asing hasil kejahatan korupsi.

Aboe Bakar menyebut capaian tersebut sebagai “bonus khusus” bagi negara, mengingat selama ini kerugian negara kerap sulit dipulihkan meski pelaku telah dipidana.

Menurut dia, keberhasilan penyitaan dan pengembalian uang negara menandai pergeseran penting dalam penanganan korupsi — dari sekadar menghukum pelaku menjadi memastikan hasil kejahatan benar-benar kembali ke kas negara.

“Korupsi itu merampas hak masyarakat. Ketika Kejaksaan hadir dan mampu menarik kembali uang rakyat, di situlah hukum bekerja secara bermutu,” ujar politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Baca Juga :  Anggota Komisi IV DPR RI Apresiasi Respon Cepat Mentan Atasi Krisis DOC di Pati dan Banjir di Grobogan

Meski demikian, Aboe Bakar juga mengingatkan bahwa keberhasilan institusi harus dibarengi dengan penguatan integritas internal.

Ia menyoroti masih adanya jaksa yang dijatuhi sanksi disipliner sepanjang 2025, termasuk pencopotan jabatan akibat pelanggaran etik dan penyalahgunaan wewenang.

Data internal Kejaksaan menunjukkan, ratusan jaksa dikenai sanksi, dengan potensi kerugian negara yang ditimbulkan mencapai lebih dari setengah triliun rupiah.

Salah satu kasus yang mencuat adalah pemecatan Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Barat terkait dugaan penggelapan dana barang bukti.

“Ini menjadi pekerjaan rumah serius. Pengawasan internal harus diperkuat agar keberhasilan besar dalam pemberantasan korupsi tidak tercoreng oleh ulah oknum,” kata Aboe Bakar.

Ia juga meminta Kejaksaan memastikan sistem pengelolaan dan pengamanan barang bukti berjalan transparan dan akuntabel di seluruh kejaksaan tinggi dan kejaksaan negeri.

Dalam kesempatan yang sama, Aboe Bakar turut menyinggung implementasi Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang baru, yang mulai berlaku beberapa pekan terakhir.

Ia meminta Kejaksaan menyampaikan catatan awal terkait pelaksanaan aturan baru tersebut, termasuk potensi kendala di lapangan.

Komisi III DPR, menurut dia, menaruh perhatian besar terhadap transisi hukum acara ini agar tidak menghambat penegakan hukum, khususnya dalam perkara korupsi yang kompleks dan bernilai besar.

Di akhir pernyataannya, Aboe Bakar menegaskan bahwa pemulihan aset merupakan puncak dari penanganan perkara korupsi. Tanpa pengembalian kerugian negara, ia menilai pemberantasan korupsi akan kehilangan makna substantif bagi masyarakat.

“Pemulihan aset adalah muara. Di sanalah keadilan tidak hanya diputus di pengadilan, tetapi benar-benar dirasakan oleh negara dan rakyat,” ujarnya. *

Berita Terkait

Listyo Sigit Jadi Tersangka Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo, Ini Penjelasan Polri
Isu Makar Presiden Prabowo Kembali Disorot, Ini Faktanya
Listyo Sigit Tak Terlihat di Istana Saat Isu Jenderal Polri Mencuat, Ada Apa?
Harga BBM Pertamina 3 November 2026 di Jabodetabek Pasca Penyesuaian Harga
Penelitian Universitas Padjadjaran: Beralih dari Merokok ke Produk Tembakau Alternatif Perbaiki Kesehatan
Mahfud MD Desak KPU dan Dit Dikdasmen Diperiksa Pasca MA Batalkan Suket Penyetaraan SMA Gibran
Road to Jogja Business & Economic Outlook 2027: 30 Peserta Ikuti Sanggabiz
Waskita Beton Precast Dorong Perempuan Berkarya di Konstruksi melalui Girls on Site
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari JEJAKNARASI.ID di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan click tanda bintang.

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 20:35 WIB

Listyo Sigit Jadi Tersangka Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo, Ini Penjelasan Polri

Selasa, 3 November 2026 - 20:03 WIB

Isu Makar Presiden Prabowo Kembali Disorot, Ini Faktanya

Selasa, 3 November 2026 - 18:22 WIB

Listyo Sigit Tak Terlihat di Istana Saat Isu Jenderal Polri Mencuat, Ada Apa?

Senin, 2 November 2026 - 22:54 WIB

Harga BBM Pertamina 3 November 2026 di Jabodetabek Pasca Penyesuaian Harga

Senin, 2 November 2026 - 15:02 WIB

Penelitian Universitas Padjadjaran: Beralih dari Merokok ke Produk Tembakau Alternatif Perbaiki Kesehatan

Berita Terbaru

Ekonomi & Bisnis

Harga Emas Hari Ini 5 November 2026, Cek Antam, UBS dan Galeri24

Kamis, 5 Nov 2026 - 01:08 WIB