Musrenbang Dinilai Kehilangan Makna, Pembangunan Daerah Minim Partisipasi Publik

Musrenbang Dinilai Kehilangan Makna, Pembangunan Daerah Minim Partisipasi Publik

- Author

Selasa, 6 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JEJAKNARASI.ID, TANGERANG – Pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) yang rutin digelar dari tingkat kelurahan hingga kecamatan dinilai belum sepenuhnya berfungsi sebagai instrumen utama penentu arah pembangunan daerah. Sejumlah kalangan menilai, aspirasi masyarakat yang disampaikan melalui Musrenbang kerap tidak terintegrasi secara substansial dalam kebijakan strategis pemerintah daerah (Pemda).

Persoalan utama dinilai terletak pada terputusnya mata rantai aspirasi. Usulan masyarakat yang lahir dari Musrenbang tingkat bawah sering kali berhenti sebagai dokumen administratif, tanpa keterhubungan yang jelas dengan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), maupun keputusan proyek strategis daerah. Ketika proses perencanaan memasuki level Pemda, ruang partisipasi publik justru menyempit dan digantikan oleh pendekatan top-down yang lebih menonjolkan kepentingan birokrasi dan elite kebijakan.

Pandangan Pemerhati Publik Soal Musrenbang

Pemerhati kebijakan publik sekaligus Kepala Litbang Forum Media Banten Ngahiji (FMBM), Hermansyah, menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa Musrenbang masih sering diperlakukan sebatas ritual tahunan pemenuhan syarat formal.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Musrenbang secara normatif adalah ruang demokrasi perencanaan. Namun dalam praktiknya, aspirasi masyarakat kerap hanya dicatat, tidak dijadikan rujukan utama kebijakan. Ketika masuk ke level Pemda, arah pembangunan justru ditentukan secara sepihak,” ujar Hermansyah, Selasa (06/01/2025).

Menurutnya, praktik tersebut bertentangan dengan semangat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Menempatkan Musrenbang sebagai mekanisme integratif antara pendekatan partisipatif, politis, teknokratis, dan top-down. Ketika unsur partisipasi diabaikan, maka yang terjadi adalah cacat demokrasi dalam perencanaan pembangunan.

Baca Juga :  Wabup Intan Dukung dan Kawal Desa Sodong Tigaraksa Jadi Juara Lomba Desa dan Kelurahan Tingkat Provinsi Banten

Hermansyah juga menyoroti masih banyaknya pembangunan yang dijalankan tanpa kejelasan skala prioritas, namun tetap direalisasikan.

“Pembangunan yang terlihat dominan adalah pembangunan fisik. Sementara pembangunan sumber daya manusia sering kali hanya bersifat seremonial dan administratif, tanpa arah yang jelas dan dampak jangka panjang yang terukur,” katanya.

Lebih jauh, pembangunan yang dirancang tanpa pelibatan masyarakat dinilai berisiko tidak tepat sasaran. Program yang tidak berangkat dari kebutuhan riil warga berpotensi tidak berkelanjutan, memicu resistensi sosial. Bahkan memperlebar ketimpangan. Hal ini, menurut Hermansyah, menjelaskan mengapa banyak proyek pembangunan tampak megah secara fisik, namun minim manfaat sosial bagi masyarakat.

Pertanyaan mendasar pun mengemuka: untuk siapa Musrenbang diselenggarakan jika hasilnya tidak menjadi rujukan utama kebijakan Pemda?

Hermansyah menegaskan, legitimasi pembangunan tidak semata-mata bersumber dari kewenangan hukum, tetapi dari kepercayaan publik. Kepercayaan itu lahir ketika masyarakat melihat aspirasinya benar-benar dipertimbangkan dalam kebijakan, bukan sekadar didokumentasikan.

“Tanpa evaluasi serius, pembangunan daerah akan terus berjalan tanpa arah yang jelas dan semakin menjauh dari tujuan konstitusional, yakni keadilan sosial bagi seluruh masyarakat,” tegasnya.

Dia mendorong pemerintah daerah dan DPRD untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap arah pembangunan yang telah berjalan selama bertahun-tahun. Serta membuka ruang uji publik yang lebih inklusif dan transparan.

Berita Terkait

Mengaku Diusir, Warga Panongan Laporkan Dugaan Intimidasi
Kecamatan Kelapa Dua Tembus 5 Besar Lomba Kecamatan Kabupaten Tangerang 2026, Camat Paparkan Inovasi dan Pelayanan Publik
Kasatpol PP Kabupaten Tangerang Buka Suara soal Tuduhan Pelecehan Seksual: “Itu Tidak Benar!”
Diduga Lakukan Pelecehan Seksual, Kasatpol PP Tangerang Dilaporkan Ke BKPSDM
Polisi Selidiki Penemuan Jenazah Perempuan di Jalur Naga Kelapa Dua, Satu Orang Diamankan
Camat Dadang Apresiasi Siswi SMPN 2 Kelapa Dua yang Tampil di Jambore Nasional XII
Respons Cepat Keluhan Pelanggan, PERUMDAM TKR Tangani Keluhan Air Keruh dan Bau
Wujudkan Pelayanan Inklusif, Kecamatan Kelapa Dua Hadirkan “JEBOL KEDU” Untuk Rekam KTP-El Warga Berkebutuhan Khusus
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari JEJAKNARASI.ID di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan click tanda bintang.

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 21:51 WIB

Mengaku Diusir, Warga Panongan Laporkan Dugaan Intimidasi

Senin, 28 September 2026 - 13:40 WIB

Kecamatan Kelapa Dua Tembus 5 Besar Lomba Kecamatan Kabupaten Tangerang 2026, Camat Paparkan Inovasi dan Pelayanan Publik

Selasa, 22 September 2026 - 16:47 WIB

Kasatpol PP Kabupaten Tangerang Buka Suara soal Tuduhan Pelecehan Seksual: “Itu Tidak Benar!”

Senin, 21 September 2026 - 20:56 WIB

Diduga Lakukan Pelecehan Seksual, Kasatpol PP Tangerang Dilaporkan Ke BKPSDM

Kamis, 17 September 2026 - 18:37 WIB

Polisi Selidiki Penemuan Jenazah Perempuan di Jalur Naga Kelapa Dua, Satu Orang Diamankan

Berita Terbaru

Kab Tangerang

Mengaku Diusir, Warga Panongan Laporkan Dugaan Intimidasi

Rabu, 30 Sep 2026 - 21:51 WIB