JAKARTA, JEJAKNARASI.ID – Persaingan industri otomotif Indonesia memasuki babak baru. Setelah kendaraan listrik penumpang semakin dikenal masyarakat, kini perhatian produsen otomotif mulai bergeser ke segmen kendaraan niaga listrik yang digunakan untuk kebutuhan bisnis, distribusi barang, hingga sektor logistik.
Masuknya produsen kendaraan komersial asal China, Forland, ke pasar Indonesia menjadi salah satu perkembangan terbaru yang memperlihatkan besarnya potensi segmen tersebut.
Melalui PT Tangguh Utama Sejahtera (TUS), Forland memperkenalkan sejumlah kendaraan niaga berbasis listrik pada 3 November 2026 di Jakarta.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah ini menarik perhatian karena pasar kendaraan niaga listrik di Indonesia masih berada pada tahap awal perkembangan.
Berdasarkan keterangan Presiden Direktur PT TUS, Jin Hong Lin, penetrasi kendaraan niaga listrik di Indonesia masih di bawah 1 persen. Angka tersebut jauh tertinggal dibandingkan kendaraan listrik penumpang yang diklaim telah mencapai sekitar 20 persen.
Kesenjangan tersebut memperlihatkan bahwa elektrifikasi sektor otomotif belum sepenuhnya menyentuh aktivitas bisnis dan distribusi barang.
Kendaraan Listrik Mulai Menyasar Industri Logistik
Selama ini, pembahasan kendaraan listrik di Indonesia lebih banyak berkaitan dengan mobil pribadi dan sepeda motor.
Namun, kebutuhan kendaraan operasional perusahaan memiliki karakteristik berbeda. Kendaraan niaga harus mampu bekerja dalam durasi panjang, mengangkut beban tertentu, serta beroperasi secara konsisten tanpa mengganggu aktivitas usaha.
Karena itu, keputusan perusahaan mengganti armada konvensional dengan kendaraan listrik tidak hanya mempertimbangkan harga pembelian.
Biaya pengisian energi, daya tahan baterai, ketersediaan suku cadang, jaringan bengkel, hingga waktu kendaraan berhenti untuk perawatan menjadi faktor penting.
Bagi perusahaan logistik, keterlambatan pengiriman akibat kendaraan tidak dapat beroperasi bisa berdampak langsung terhadap produktivitas dan pendapatan.
Forland Bawa Pikap hingga Truk Listrik ke Indonesia
Untuk memasuki pasar nasional, Forland memperkenalkan beberapa kategori kendaraan yang disesuaikan dengan kebutuhan operasional.
Platform ET5 tersedia dalam konfigurasi pikap, mobil boks, boks aluminium, kendaraan rantai dingin atau cold chain, hingga angkutan kota.
Sementara itu, platform EL5e diarahkan untuk pekerjaan menengah dan sektor konstruksi perkotaan. Kendaraan yang diperkenalkan mencakup electric dump truck dan arm roll truck.
Forland juga membawa kategori kendaraan van melalui model U7 dan U9 yang menyasar kebutuhan distribusi barang serta pengiriman dalam wilayah perkotaan.
Strategi tersebut memperlihatkan bahwa pasar kendaraan listrik tidak lagi hanya berorientasi pada konsumen perorangan, tetapi mulai menyasar perusahaan dengan kebutuhan armada dalam jumlah besar.
Infrastruktur Pengisian Daya Jadi Tantangan
Salah satu persoalan yang masih perlu diperhatikan dalam pengembangan kendaraan niaga listrik adalah kesiapan infrastruktur.
Kendaraan operasional perusahaan memiliki intensitas penggunaan yang relatif tinggi. Karena itu, ketersediaan fasilitas pengisian daya harus disesuaikan dengan lokasi operasional dan jadwal kendaraan.
PT TUS menyatakan telah menjalin kerja sama dengan StarCharge untuk mendukung infrastruktur pengisian daya.
Perusahaan tersebut juga menggandeng CRRC dalam pengembangan teknologi penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS), serta menyiapkan integrasi energi surya.
Selain infrastruktur, dukungan layanan purnajual dan ketersediaan suku cadang menjadi perhatian penting bagi perusahaan yang ingin menggunakan kendaraan listrik sebagai armada utama.
Persaingan Otomotif Indonesia Berpotensi Berubah
Perkembangan kendaraan niaga listrik membuka peluang persaingan baru di industri otomotif nasional.
Produsen tidak cukup hanya menawarkan kendaraan dengan teknologi terbaru. Mereka juga perlu membuktikan kemampuan produk dalam menghadapi kondisi jalan, beban angkut, dan kebutuhan operasional di Indonesia.
Bagi pelaku usaha, keputusan menggunakan kendaraan listrik pada akhirnya akan ditentukan oleh perbandingan biaya operasional, keandalan kendaraan, serta kemampuan perusahaan menjaga kelancaran distribusi.
Jika persoalan tersebut dapat dijawab, kendaraan niaga listrik berpeluang menjadi bagian penting dari transformasi industri logistik nasional.
Persaingan berikutnya bukan sekadar siapa yang paling cepat menjual kendaraan listrik, melainkan siapa yang mampu menyediakan solusi transportasi komersial paling efisien dan dapat diandalkan dalam jangka panjang.





















