JEJAKNARASU.ID.JAKARTA – Wacana Prabowo Subianto untuk maju sebagai presiden dua periode dinilai berpotensi menimbulkan konsekuensi politik di internal pemerintahan.
Dukungan terbuka dari Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Amanat Nasional, yang tidak direspons dengan penyangkalan oleh Partai Gerindra, dipandang sebagai sinyal awal dimulainya fase baru dinamika kekuasaan.
Pengamat Politik, Arifki Chaniago, menilai, secara konstitusional wacana dua periode tidak bermasalah. Namun yang menjadi perhatian adalah waktu kemunculannya.
Dukungan politik yang muncul terlalu dini dinilai berpotensi memengaruhi cara elite membaca arah kekuasaan, termasuk di lingkungan kabinet.
“Sinyal politik seperti ini biasanya langsung direspons oleh aktor-aktor di dalam pemerintahan. Bukan dalam bentuk pernyataan terbuka, tetapi melalui penyesuaian langkah,” ujar Arifki dalam keterangan tertulis kepada Jejaknarasi.id Senin (9/2/2026).
Menurut Arifki, sikap Gerindra yang tidak menutup ruang pembahasan dua periode dapat dibaca sebagai penegasan bahwa arah politik jangka menengah mulai terbuka.
Dalam kondisi tersebut, fokus politik dinilai tidak lagi sepenuhnya berada pada konsolidasi program, melainkan mulai bergeser ke kalkulasi posisi dan peran ke depan.
” Dukungan PKB dan PAN juga dinilai tidak dimaksudkan untuk mengubah peta kepemimpinan nasional pada 2029. Sebaliknya, dukungan tersebut mempertegas posisi Prabowo sebagai figur sentral, sekaligus memindahkan dinamika politik ke ruang internal koalisi. Tidak disebutkannya nama Gibran Rakabuming Raka dalam pernyataan dukungan dipandang sebagai indikasi bahwa pembahasan politik belum memasuki tahap final, ” ujar Arifki.
Dalam konteks ini, Arifki menilai kabinet berpotensi memasuki fase yang lebih politis. Ketika sinyal kekuasaan mulai terbaca, aktivitas kementerian dan kebijakan publik cenderung mendapat tafsir politik yang lebih kuat.
Program pemerintah tetap berjalan, tetapi setiap langkah lebih mudah dikaitkan dengan kepentingan jangka menengah.
“Risikonya bukan pada berhentinya kerja pemerintahan, melainkan pada terbelahnya fokus. Program bisa tetap dijalankan, tetapi orientasinya tidak lagi sepenuhnya teknokratis,” kata Arifki.
Arifki menekankan bahwa dinamika semacam ini lazim dalam sistem presidensial multipartai. Namun, yang membedakan adalah kecepatan munculnya wacana elektoral. Ketika pembicaraan politik Pilpres hadir terlalu awal, ruang netral kabinet dinilai semakin menyempit.
Situasi tersebut juga dinilai dapat memengaruhi sikap partai-partai lain yang belum menyatakan posisi. Ketidakpastian arah politik membuka ruang manuver, sekaligus meningkatkan intensitas komunikasi politik di luar jalur formal pemerintahan.
” Dampak nyata dari wacana ini sangat bergantung pada bagaimana elite mengelola sinyal tersebut. Selama tidak diikuti langkah-langkah formal dan keputusan politik yang mengikat, dinamika ini masih berada pada tahap awal, ” kata Arifki.
Namun, Arifki menilai satu hal penting: semakin lama wacana dua periode dibiarkan berkembang tanpa penegasan arah, semakin besar kemungkinan perhatian elite tersedot pada politik elektoral, sementara agenda kebijakan berisiko berjalan dalam bayang-bayang kontestasi.
“Dalam politik, sinyal sering kali lebih berpengaruh daripada keputusan resmi,” ujar Arifki.








