JAKARTA, JEJAKNARASI.ID – Penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di kalangan pelaku usaha tumbuh sangat pesat.
Studi Small Business Credit Survey dari Federal Reserve Bank of San Francisco mencatat bahwa hampir 40% bisnis kecil di Amerika Serikat telah atau berencana menggunakan AI.
Mayoritas memanfaatkannya untuk tugas operasional sehari-hari: menulis materi pemasaran, membalas pesan pelanggan, membuat visual, hingga menganalisis data penjualan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pola serupa bahkan dengan tantangan lebih besar terjadi di Indonesia. Data Kementerian Ekonomi Kreatif menunjukkan lebih dari 90% pelaku UMKM di tanah air belum memanfaatkan AI secara optimal. Survei UKM Indonesia bersama ICCI.id juga mengungkapkan bahwa UMKM yang sudah mencoba AI masih sebatas menggunakannya untuk berdiskusi atau mencari ide. Penggunaannya belum menyentuh proses inti yang benar-benar memengaruhi cara bisnis mendapatkan pelanggan baru.
Namun, di balik antusiasme tersebut, ada satu blind spot atau celah besar yang terabaikan oleh para pemilik bisnis di AS maupun Indonesia: Apakah AI mengenali dan merekomendasikan bisnis mereka saat calon pelanggan bertanya?
Lupa Melihat dari Sisi Pelanggan
Saat ini, banyak pemilik bisnis terbiasa menggunakan AI setiap hari untuk menyusun promosi. Sayangnya, mereka hampir tidak pernah menempatkan diri sebagai konsumen dan mengetikkan pertanyaan seperti: “Rekomendasi tempat makan enak di dekat sini” atau “Apa aplikasi belanja online paling terpercaya?”
Ketika mencoba mengetikkan pertanyaan-pertanyaan tersebut, barulah banyak pemilik bisnis tersadar: nama produk atau tempat usaha mereka sama sekali tidak muncul dalam jawaban AI.
“Orang-orang sudah nyaman memakai AI untuk membantu pekerjaan sehari-hari, tetapi jarang kepikiran untuk mengecek AI dari sudut pandang pelanggan. Padahal, pertanyaan sederhana dari konsumen itulah yang menentukan apakah sebuah bisnis akan ditemukan atau justru ‘tak kasat mata’ di dunia digital,” ujar Alexandro Wibowo, Partner of Avonetiq.
AVO: Membalik Cara Pandang Penggunaan AI
Kesenjangan inilah yang coba dijawab oleh Avonetiq melalui inovasi terbarunya, AVO. Alih-alih hanya dijadikan alat bantu kerja internal, AVO dirancang untuk mengevaluasi bisnis dari sudut pandang calon pembeli. Alat ini memeriksa secara presisi apakah sebuah merek muncul saat mesin AI diajukan pertanyaan yang biasa ditanyakan konsumen sebelum mengambil keputusan membeli.
“Ada satu pertanyaan kunci yang sangat jarang diajukan pemilik bisnis ke AI, padahal ini yang paling krusial: ‘Jika saya bukan pemilik bisnis ini, apakah AI bakal merekomendasikan produk saya ke orang lain?’ Kebanyakan pelaku usaha belum pernah mengujinya,” tambah Alexandro.
Di era di mana semakin banyak orang mengandalkan AI sebagai ‘asisten pribadi’ untuk mencari rekomendasi produk dan jasa, tolok ukur suksesnya AI bagi bisnis kini telah bergeser. Ini bukan lagi sekadar soal bagaimana AI bisa membuat pekerjaan selesai lebih cepat, melainkan apakah AI bisa mendatangkan pelanggan baru bagi bisnis Anda.





















