JEJAKNARASUI.ID, JAKARTA – Ribuan warga Nahdliyin memadati Istora Senayan Jakarta. Mereka hadir untuk mengikuti Hari Lahir (Harlah) ke-100 Nahdlatul Ulama (NU).
Peringatan satu abad organisasi Islam terbesar di Indonesia itu juga dihadiri jajaran pejabat negara dan sejumlah tokoh nasional.
Termasuk para menteri Kabinet Merah Putih, seperti Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menko PMK Pratikno.
Serta Kepala Badan Percepatan dan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko dan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengatakan, peringatan satu abad NJ menjadi momentum refleksi dan penguatan organisasi di tengah tantangan zaman.
“NU harus terus hadir sebagai penjaga nilai keislaman,kebangsaan, dan kemanusiaan. Kita mengawal Indonesia agar tetap berada di jalur peradaban yang mulia,” kata Gus Yahya dalam sambutannya Sabtu (31/1/2025).
Gus Yahya menambahkan, peringatan Harlah satu abad ini mengambil tema *Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia”
“Tema tersebut sejalan dengan visi NU sejak awal berdiri, yakni membangun masyarakat yang adil, toleran, dan berakhlak mulia di tengah keberagaman bangsa,* terang Gus Yahya.
Ditempat yang sama, Ketua MPR RI Ahmad Muzani menilai, NU memiliki kontribusi besar dalam menjaga stabilitas bangsa.
“NU selalu berada di garis depan dalam merawat persatuan dan memperkuat demokrasi. Ini aset penting bagi bangsa Indonesia,” ucapnya.
Sementara itu, Menko PMK Pratikno mengungkapkan MU merupakan mitra strategis dalam pembangunan sumber daya manusia.
Sehingga NU sangat berperan besar dalam bidang pendidikan, dakwah dan pemberdayaan masyarakat.
“Pemerintah akan terus bersinergi dengan NU guna mewujudkan kesejahteraan rakyat,” ujar Pratikno.
Sebagai informasi, Harlah ke-100 NU kali ini merupakan perayaan kedua berdasarkan kalender masehi.
Sebelumnya, peringatan serupa digelar pada 2023, sementara versi hijriyah dilaksanakan di Stadion Delta Sidoarjo dan dihadiri Presiden Joko Widodo serta Wakil Presiden Ma’ruf Amin.
Melalui peringatan ini, NU menegaskan kesiapan memasuki abad kedua dengan semangat pembaruan dan pengabdian bagi Indonesia.**








