TANGERANG, JEJAKNARASI.ID – Larva lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF) kini menjadi salah satu alternatif dalam upaya mengurangi timbunan sampah organik di kawasan perkotaan. Di Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) CitraRaya, Tangerang, budidaya maggot dimanfaatkan untuk mengolah sekitar 320 kilogram sampah organik setiap hari.
Maggot yang memiliki nama ilmiah Hermetia illucens ini dikenal mampu mengonsumsi berbagai bahan organik, seperti sisa makanan, sayuran, dan buah-buahan yang sesuai sebagai pakan. Kemampuan tersebut menjadikan larva BSF berpotensi mendukung pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Opay, pengelola budidaya maggot di TPS CitraRaya, menjelaskan bahwa proses budidaya dimulai dari telur yang menetas menjadi larva berukuran kecil. Seiring pertumbuhan dan ketersediaan pakan, larva tersebut berkembang menjadi maggot dengan ukuran dan bobot yang lebih besar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dari 10 gram telur bisa menjadi 1 kilogram baby. Satu kilogram baby bisa menjadi 10 sampai 15 kilogram maggot,” ujar Opay.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan potensi budidaya maggot dalam menghasilkan biomassa larva. Meski demikian, hasilnya dapat berbeda bergantung pada kualitas telur, jenis pakan, suhu, kelembapan, serta kondisi pemeliharaan.
Pemanfaatan maggot di TPS CitraRaya menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi jumlah sampah organik yang harus dibawa ke tempat pembuangan akhir.
Melalui proses yang dikenal sebagai biokonversi, larva mengonsumsi bahan organik dan mengubah sebagian kandungannya menjadi biomassa. Proses ini dapat membantu mengurangi volume bahan organik, meskipun tetap menghasilkan residu yang perlu dikelola dengan baik.
Penggunaan maggot juga membutuhkan pemilahan sampah sejak awal. Tidak semua jenis sampah dapat dijadikan pakan larva, sehingga bahan anorganik dan material yang tidak sesuai harus dipisahkan sebelum proses pengolahan berlangsung.
Dengan pengelolaan yang tepat, budidaya BSF dapat menjadi salah satu pilihan dalam sistem pengolahan sampah terpadu, terutama untuk menangani sisa makanan dan bahan organik dari aktivitas rumah tangga maupun kegiatan usaha.
Maggot merupakan fase larva dari lalat tentara hitam yang berasal dari kawasan tropis Amerika dan kini ditemukan di berbagai wilayah tropis serta subtropis, termasuk Indonesia.
BSF mengalami metamorfosis sempurna melalui lima tahap kehidupan, yakni telur, larva, prepupa, pupa, dan lalat dewasa. Lama siklus hidupnya bervariasi sesuai kondisi lingkungan dan pemeliharaan.
Pada fase larva, BSF aktif mengonsumsi bahan organik untuk mendukung pertumbuhannya. Setelah mencapai tahap perkembangan tertentu, larva berubah menjadi prepupa, kemudian pupa, sebelum akhirnya menjadi lalat dewasa.
Berbeda dengan larva lalat rumah yang kerap ditemukan pada bahan membusuk, maggot BSF berasal dari spesies lalat yang berbeda. Siklus hidup dan karakteristiknya membuat BSF banyak dikaji untuk keperluan pengolahan sampah organik serta produksi bahan pakan.
Selain membantu mengolah sampah, larva BSF juga memiliki potensi ekonomi karena dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ikan dan unggas. Kandungan protein dan lemaknya menjadi salah satu alasan maggot menarik perhatian pembudidaya.
Meski demikian, pemanfaatan maggot sebagai pakan perlu memperhatikan kualitas bahan baku, kebersihan proses budidaya, serta keamanan produk yang dihasilkan. Penggunaan sampah sebagai media pakan juga harus dikendalikan agar tidak menimbulkan risiko pencemaran.
Di sisi lain, residu dari proses pengolahan maggot tidak boleh langsung dianggap aman untuk digunakan tanpa pengelolaan lebih lanjut. Pemanfaatannya perlu disesuaikan dengan karakteristik bahan dan kebutuhan penggunaannya.
Pengolahan sekitar 320 kilogram sampah organik per hari di TPS CitraRaya memperlihatkan potensi penerapan teknologi biologis dalam pengelolaan sampah. Namun, metode ini bukan satu-satunya solusi untuk mengatasi persoalan sampah yang terus bertambah.
Pemilahan dari sumber, pengurangan sampah makanan, pengomposan, serta pengelolaan residu tetap menjadi bagian penting dalam sistem persampahan yang efektif.
Budidaya maggot dapat melengkapi berbagai upaya tersebut dengan mengalihkan sebagian sampah organik ke proses pengolahan yang produktif. Keberhasilannya bergantung pada konsistensi operasional, kualitas bahan yang diolah, dan pengawasan lingkungan.
Di TPS CitraRaya, larva kecil yang kerap dipandang sebelah mata itu menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dilakukan melalui pendekatan yang beragam. Dengan pemilahan dan pengelolaan yang tepat, maggot berpotensi membantu mengurangi beban sampah organik sekaligus menghasilkan biomassa yang memiliki nilai guna.
























