JEJAKNARASI.ID, JAKARTA – Langkah Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menulis surat terbuka kepada rakyat Amerika Serikat bukan sekadar gestur diplomatik biasa. Ini adalah manuver strategis dalam lanskap perang modern, perang yang tidak lagi hanya ditentukan oleh peluru dan rudal, tetapi oleh persepsi, opini, dan legitimasi moral di mata dunia.
Ketika Iran menyatakan “tidak pernah memulai perang”, pernyataan itu jelas bukan hanya ditujukan untuk membela diri. Ia sedang membangun narasi besar: bahwa Iran adalah korban, bukan agresor. Ini penting, karena dalam geopolitik kontemporer, siapa yang memenangkan narasi seringkali memiliki posisi tawar lebih kuat dibanding yang sekadar unggul secara militer.
Di sisi lain, Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump justru memainkan pendekatan sebaliknya: tekanan maksimal, retorika keras, dan ancaman terbuka. Dari ultimatum pembukaan Selat Hormuz hingga ancaman menghancurkan infrastruktur Iran, semuanya memperlihatkan strategi koersif yang bertumpu pada dominasi kekuatan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun di sinilah titik kritisnya.
Ketika kekuatan militer digunakan tanpa diimbangi legitimasi moral yang kuat, maka muncul ruang bagi lawan untuk mengambil simpati global. Iran memahami celah ini. Dengan menyasar langsung publik Amerika, bukan pemerintahnya. Teheran mencoba membelah persepsi: antara rakyat dan elite politik Washington.
Ini bukan kebetulan, ini di desain
Iran ingin menanamkan keraguan di dalam negeri Amerika sendiri: apakah perang ini benar-benar untuk kepentingan rakyat Amerika? Atau hanya bagian dari agenda geopolitik yang lebih sempit?
Lebih jauh, surat tersebut juga menyentuh isu sensitif: hubungan Amerika dengan Israel. Dengan menyebut AS sebagai pihak yang “dipengaruhi” atau bahkan menjadi perpanjangan kepentingan Israel, Iran mencoba menggeser konflik dari sekadar perang bilateral menjadi isu moral global yang berkaitan dengan Palestina.
Di sinilah perang narasi mencapai puncaknya.
Kita sedang menyaksikan transformasi konflik modern menjadi tiga dimensi utama:
• Militer – serangan fisik dan pertahanan wilayah
• Ekonomi – sanksi, energi, dan stabilitas pasar global
• Persepsi – opini publik, media, dan legitimasi moral
Dan seringkali, dimensi ketiga justru paling menentukan arah jangka panjang.
Bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, situasi ini memberi pelajaran penting. Bahwa dalam dunia yang semakin terhubung, posisi suatu negara tidak cukup hanya netral secara politik, tetapi juga harus cerdas membaca arus informasi.
Siapa yang menguasai narasi, berpotensi mengendalikan arah opini global. Dan siapa yang mengendalikan opini, pada akhirnya bisa mempengaruhi kebijakan internasional.
Pertanyaannya sekarang: apakah dunia akan melihat konflik ini sebagai agresi sepihak, atau sebagai pertarungan dua narasi besar yang saling menegasikan?
Jawabannya belum final.
Namun satu hal pasti, perang ini tidak hanya terjadi di langit Iran atau di meja perang Washington. Ia juga sedang berlangsung di layar ponsel kita, di media sosial, dan dalam cara kita memahami realitas.
Dan di sanalah, sesungguhnya, masa depan geopolitik sedang dipertaruhkan. ***





















