JEJAKNARASI.ID, JAKARTA – Debat panas di studio mendadak menjadi sorotan publik setelah penggiat media sosial, Permadi Arya atau Abu Janda terlibat adu argumen sengit dengan pengamat politik senior, Prof Ikrar Nusa Bhakti, serta pakar hukum tata negara Prof Feri Amsari dalam sebuah diskusi yang membahas konflik yang sedang berlangsung di timut tengah.
Diskusi yang awalnya membahas peran Amerika Serikat dalam sejarah kemerdekaan Indonesia tiba-tiba memanas ketika Prof Ikrar mencoba meluruskan narasi keliru soal sejarah terkait bantuan AS pada periode 1948–1949. Situasi berubah tegang saat Abu Janda menanggapi dengan nada tinggi. Dalam potongan video yang viral di media sosial, Abu Janda mengatakan bahwa Prof Ikrar dan Prof Feri Amsari dianggap berkomentar terlalu baper.
“Dari tadi gua perhatiin lu kalo komentar terlalu baper, jangan bawa-bawa perasaan pak. Lu gak suka ama Amerika, Bang Fery gak suka Trump, lu gak suka sama Israel, itu perasaan lu semua. Gua gak ada urusan sama perasaan lu semua, anj*ng,” ucap Abu Janda, Selasa (10/04/2026).
Ucapan tersebut langsung menuai pro dan kontra. Banyak warganet menilai penggunaan kata tersebut tidak pantas di forum debat televisi, sementara sebagian lainnya menganggap itu hanya bahasa gaul dalam situasi debat yang memanas.
Prof. Ikrar sendiri tetap berusaha tenang dan menegaskan pentingnya membaca sejarah secara utuh. “Anda juga harus baca sejarah dong, jangan ngacau,” ujarnya.
Sementara itu, Feri Amsari menilai diskusi publik seharusnya lebih menonjolkan adu data dan analisis hukum serta sejarah yang berbasis fakta, bukan sekadar retorika emosional.
Kini cuplikan debat tersebut terus beredar luas dan memicu perdebatan baru di jagat maya. Soal etika debat, adab diskusi publik, dan kualitas percakapan politik di ruang publik Indonesia.










