JEJAKNARASI.ID.JAKARTA – Perang Amerika-Serikat-Israel melawan Iran telah memaksa negara-negara di belahan dunia untuk merespon.
Inggris dan Spanyol sebagai sekutu AS dengan tegas menolak keikutsertaan dalam perang melawan Iran. Bagaimana dengan posisi Indonesia?
Pengamat politik Islam dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Khamami Zada berpandangan bahwa sikap politik luar negeri Indonesia yang direpresentasi Presiden Prabowo harusnya tetap berada dalam garis non-blok, tidak ikut kubu Amerika Serikat-Israel dan Rusia-China.
“Indonesia harus mengedepankan politik bebas aktif yang berporos pada gerakan non-blok. Kubu Israel yang didukung Amerika Serikat dan Iran yang dibeking Rusia dan Cina jangan membuat Indonesia berpihak ke kubu Amerika Serikat sebagai pemimpin BoP,” kata Khamami di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Lebih lanjut Khamami menyebutkan sikap politik Indonesia harus didasarkan pada politik luar negeri yang menegaskan bahwa setiap negara berhak atas nasib dan kedaulatannya berdasarkan hukum internasional.
“Mengembalikan peran Persatuan bangsa-Bangsa (PBB) merupakan satu-satunya jalan agar konflik Timur Tengah berada dalam perundingan dan negosiasi”, tegas Guru Besar Politik Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.
Menurut Khamami, marwah PBB dipertaruhkan dengan kepemimpinan Donald Trump saat ini. Wibawa PBB melemah karena tugas-tugas penyelesaian konflik internasional diambil alih oleh Trump sebagai pemimpin negara super power.
“Tidak ada sikap yang jelas dari PBB terhadap serangan Trump ke Iran akibat kegagalan negosiasi tentang pengayaan uranium yang dilakukan Iran,” tambah Khamami.
Menurut dia, posisi politik Indonesia yang menekankan pada politik bebas aktif yang berporos pada gerakan non-blok dapat berpeluang berperan mendinginkan perang di Timur Tengah yang semakin meluas ini.
“Presiden Prabowo harus mengedepankan penyelesaian konflik dengan jalan damai, bukan perang. Perang bukanlah cara yang tepat untuk menyelesaian konflik di Timur Tengah,” tandas Khamami.**










