JEJAKNARASI.ID – Sebagai warga negara yang baik, tentu kita menginginkan negara yang kita cintai menjadi negara yang semakin maju, aman, tenteram, adil, dan makmur.
Harapan itu juga mencakup hadirnya para pemimpin yang bertakwa, berintegritas, serta mampu menjalankan roda pemerintahan dengan penuh tanggung jawab.
Namun, sebelum menuntut hadirnya pemimpin yang baik dan tidak zalim, sudah sepatutnya kita terlebih dahulu melakukan introspeksi diri.
Sebab, kualitas kepemimpinan suatu bangsa tidak terlepas dari kualitas warganya.
Dikutip dari tafsir “Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an”. Ketika rakyat melakukan perbuatan zalim, berbuat kerusakan, dan melalaikan kewajiban, orang-orang zalim akan diangkat menjadi penguasa mereka.
Akibatnya, mereka akan mendapatkan keburukan karena tidak memenuhi hak-hak Allah dan juga hak-hak para hamba Allah.
Namun sebaliknya, jika senantiasa istikamah dalam kebaikan, niscaya Allah akan memperbaiki kondisi mereka dan mengangkat pemimpin yang adil bagi mereka.
Oleh karenanya, sebelum berharap untuk mendapatkan pemimpin yang baik dapat terwujud, marilah kita bersama-sama introspeksi diri terlebih dahulu. Ada sebuah kaidah mengatakan:
كَمَا تَكُوْنُوْنَ يُوَلَّى عَلَيْكُمْ
“Bagaimanapun keadaan kalian (rakyat), maka begitulah keadaan pemimpin kalian”.
Arti dari Kezaliman
Kata zalim berasal dari bahasa Arab yang bermakna gelap. Secara umum, perbuatan zalim diartikan sebagai tindakan menempatkan sesuatu atau perkara tidak pada tempatnya. Orang yang melakukan perbuatan tersebut disebut zhalimin.
Adapun lawan kata zalim adalah adil. Yang dimaksud dengan menempatkan sesuatu pada tempatnya ialah menjadikan hukum Allah sebagai dasar pijakan dalam setiap kebijakan dan tindakan.
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah [5] : 45)
Istilah zalim juga kerap digunakan untuk menggambarkan sifat kejam, bengis, tidak berperikemanusiaan, serta sikap yang gemar melihat orang lain berada dalam penderitaan dan kesengsaraan. Perbuatan zalim dapat berupa kemungkaran, penganiayaan, perusakan harta benda, ketidakadilan, dan berbagai bentuk pelanggaran lainnya.
Pada hakikatnya, sifat zalim merupakan perilaku yang keji dan hina, serta bertentangan dengan akhlak dan fitrah manusia.
Kezaliman pun dapat terjadi apabila dilakukan oleh seorang pemimpin. Misalnya, ketika seorang presiden menetapkan kebijakan yang berdampak pada penderitaan rakyat, seperti menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berujung pada melonjaknya berbagai kebutuhan pokok, sehingga semakin memberatkan dan menyengsarakan masyarakat.
Apakah Harus Tunduk Pada Pemimpin Negara Yang Zalim ?
Pemimpin zalim yang masih menegakkan syariat Islam dalam mengelola negara; Daulah atau Khilafah maka wajib bagi kaum Muslimin untuk mentaatinya.
يَكُوْنُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِي وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ قُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الشَّيَاطِيْنِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ. (قَالَ حُذَيْفَةُ): كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلْأَمِيْرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ
“Akan datang setelahku para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku, tidak menjalani sunnahku, dan akan berada pada mereka orang-orang yang hati mereka adalah hati-hati setan yang berada dalam jasad manusia.” (Hudzaifah berkata), “Wahai Rasulullah, apa yang aku perbuat jika aku menemui mereka?” Beliau menjawab, “Engkau dengar dan engkau taati walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu diambil.” (HR. Muslim).
Namun sebaliknya, harus bersikap kritis melakukan amar ma’ruf nahi munkar terhadap pemimpin zalim melalui nasehat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
سيد الشهداء عند الله يوم القيامة حمزة بن عبد المطلب ورجل قام إلى إمام جائر فأمره ونهاه فقتله
“Pemimpin para syuhada di sisi Allah, kelak di hari Kiamat adalah Hamzah bin ‘Abdul Muthalib, dan seorang laki-laki yang berdiri di depan penguasa dzalim atau fasiq, kemudian ia memerintah dan melarangnya, lalu penguasa itu membunuhnya”. [HR. Imam Al Hakim dan Thabaraniy]
Di sisi lain, apabila sang pemimpin zalim itu tidak mau menerapkan hukum Allah atau menegakkan syariat Islam yang mengatur negaranya, maka itu adalah pemimpin thaghut yang wajib diingkari. ***










