JEJAKNARASI.ID, JAKARTA – Anggota Komisi VIII DPR RI, KH Maman Imanulhaq menyoroti urgensi penguatan pelayanan kesehatan pesantren. Dalam perspektif kebijakan, perlindungan santri, dan transformasi kelembagaan pesantren.
Dia menegaskan pentingnya kehadiran klinik pesantren. Maupun dokter praktik tetap di dalam lingkungan pesantren.
Hal tersebut, disampaikan saat hadir sebagai penanggap dalam acara Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Peran Klinik dalam Pesantren” di acara yang berlangsung di Pullman Hotel Jakarta, Selasa (26/1/2026).
Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al Mizan Jatiwangi Majalengka itu, pesantren merupakan ruang hidup santri selama 24 jam.
Sehingga ,kata dia, layanan kesehatan dasar tidak bisa diposisikan sebagai pelengkap, melainkan kebutuhan utama yang harus dijamin negara.
“Kehadiran klinik dan dokter praktek di pesantren harus dilihat sebagai terobosan pesantren dalam menjawab kebutuhan zaman, pesantren tidak hanya mendidik ilmu agama, tapi juga menghadirkan layanan kesehatan yang nyata bagi santri dan masyarakat sekitar,” tegasnya.
Di Tempat yang sama, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Dr. Hj. Nihayatul Wafiroh, M.A., menekankan, penguatan klinik pesantren harus terintegrasi dengan sistem kesehatan nasional, termasuk skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Ia menilai pesantren memiliki potensi besar sebagai basis pelayanan promotif dan preventif kesehatan masyarakat.
Senada dengan itu, Ketua FPTP KH. Saifullah Ma’shum menyampaikan bahwa transformasi pesantren tidak hanya menyentuh aspek pendidikan dan ekonomi, tetapi juga layanan kesehatan.
Menurutnya, keberadaan klinik pesantren merupakan bagian dari ikhtiar membangun pesantren yang mandiri, berdaya, dan berkelanjutan.
“Klinik pesantren bukan sekadar fasilitas, tetapi simbol keseriusan pesantren bertransformasi menjadi lembaga yang mandiri dan berkelanjutan,” ujar Kiai Saifullah Ma’shum.
Sebagai Informasi, Focus Group Discussion (FGD) “Peran Klinik dalam Pesantren” digelar sebagai
upaya penguatan kesehatan berbasis pesantren.
Selain itu juga sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam mendorong peran pesantren sebagai mitra strategis pelayanan kesehatan masyarakat.
Kegiatan ini dibuka oleh Staf Khusus Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Firry Wahid.
Dengan menghadirkan sejumlah narasumber kunci, seperti perwakilan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Dr. Makky Zamzami, Deputi Direksi Wilayah V BPJS Kesehatan Arief Syaefudin, SKM., AAK., CGP., CHIA., serta Staf Khusus Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Firry Wahid.
Diskusi ini juga melibatkan unsur legislatif dan pimpinan pesantren sebagai penanggap utama.
Diantaranya, Anggota Komisi VIII DPR RI Dr. KH. Maman Imanulhaq, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Dr. Hj. Nihayatul Wafiroh, M.A.,
Serta Ketua Forum Percepatan Transformasi Pesantren (FPTP), KH. Saifullah Mahsum. Ketiganya menyoroti urgensi penguatan pelayanan kesehatan pesantren dari perspektif kebijakan, perlindungan santri, dan transformasi kelembagaan pesantren.**








